Print

Peringatan! Roma Tidak Pernah Berubah!

WLC percaya bahwa Paus Francis, sebagai paus terakhir, adalah perwujudan setiap prinsip kepausan yang pernah dianut oleh kepausan dan kuasa yang ia gunakan akan mencapai tingkat paling ekstrim dari kuasa paus manapun yang pernah dilakukan dengan kejam terhadap orang-orang kudus di masa lalu.

Gereja Katholik Roma mempertahankan bahwa gerejanya adalah satu-satunya gereja yang benar dan sah yang ada. Gereja ini mengaku menerima otoritasnya melalui hak penerus kerasulan, yang diwariskan dari paus ke paus yang berasal dari rasul Petrus, dan oleh karena itu, gereja ini menyatakan bahwa gerejanya tidak pernah melakukan kesalahan.

Itu  bukanlah sebuah bualan kosong. Menurut John J. Kelley, seorang mantan imam:

Konsili Trente, dengan kredo Pius IVnya, membuat kemustahilan bagi Gereja Katholik Roma untuk berubah. Itu menambah . . . dua belas artikel baru untuk Kredo Nicea.  . . .  Kredo Pius IV ini adalah sebuah batu kilangan di sekitar leher Roma. Itu mengikat Gereja Katholik Roma selamanya untuk semua kesalahan-kesalahan kekafirannya. Itulah jawaban dan tantangannya terhadap Reformasi.2

Pope Pius IX

Pope Pius IX

Ini adalah hal yang sangat penting untuk dipahami. Itu tentu saja bukanlah sebuah kecaman dari orang banyak yang telah diajar untuk menerima ketetapan-ketetapan Gereja Katholik sebagai kebenaran. Tidak semua harus diindahkan karena semua yang dimiliki agama terorganisir, pada tingkat yang lebih besar atau lebih kecil, mengadopsi banyak sikap yang sama seperti Gereja Roma di dalam menjalankan kekuasaannya. Hal ini memiliki pengaruh pada setiap orang di planet bumi karena, sebagaimana yang WLC percaya bahwa Francis adalah paus kedelapan dan terakhir dari nubuatan, semua orang yang hidup di muka bumi ini akan segera merasakan panas dari nafas naga dalam kekuasaan Romawi yang dihidupkan kembali ini.

Sebab Gereja Roma benar-benar tidak pernah berubah, untuk memahami Paus Francis, motif-motifnya, agenda-agendanya sebagai paus dan masa kepausannya, itu hanya perlu meninjau kebijakan-kebijakan paus yang terdahulu dan bagaimana mereka menangani semua yang tidak sepakat dengan mereka, baik itu raja atau rakyat biasa. Gereja Roma selalu bernafsu akan kekuasaan, baik politik dan spiritual.

Awalnya, tentu saja, yang dilakukan para uskup Roma menunjukkan sebuah semangat kesombongan dan ambisius; namun, selama tiga abad pertama, pernyataan mereka tentang penghormatan terbaik hanya didirikan pada martabat tahta mereka, karena itu bagian dari kota kekaisaran, ibukota Romawi. Tetapi, ketika, kursi kerajaan dipindahkan ke Timur, dan Konstantinopel mengancam akan mengalahkan Roma, beberapa terobosan baru untuk mempertahankan martabat Uskup Roma harus dicari. Terobosan-terobosan itu ditemukan saat, sekitar 378 Masehi, Paus menurunkan pewaris untuk kunci-kunci yang merupakan simbol-simbol dari dua dewa Berhala yang terkenal di Roma. Janus membawa sebuah kunci, dan Cybele membawa sebuah kunci; dan ini adalah dua kunci yang Paus cetak pada lengannya sebagai lambang kekuasaan spiritualnya.  . . . Dengan demikian, walaupun martabat sementara Roma sebagai sebuah kota harus hancur, martabatnya sendiri sebagai Uskup Roma akan menjadi lebih mapan dari sebelumnya.3

Vatican Papal keys Emblem (

Pada tahun 437 Masehi, empat ratus tahun setelah gereje Kristen mula-mula, secara terbuka paus mengaku menjadi pemilik kunci dari “kunci-kunci Petrus”.

Dengan mengatakan kepada umat Kristen bahwa “kunci-kunci” yang ia miliki adalah warisan dari Rasul Petrus, paus menjamin untuk dirinya sendiri posisi kekuasaan tertinggi sebagai kepala baik untuk umat Kristen maupun agama-agama berhala. Kombinasi pengaruh keagamaan dengan kekuasaan politik ini akhirnya diundang-undangkan menjadi kanon Katholik. Pada abad ke-11, sebuah konflik muncul antara kepausan dan Raja Henry IV dari Jerman.  Henry, sebagai “Kaisar Romawi Suci,”

Mengklaim bahwa hak kerajaan yang telah lama menyimpan pemegang jabatan gerejawi pada lambang-lambang kekuasaan, dengan jalan itu secara efektif mempertahankan pengendalian pilihan dan arah para uskup dan pendeta lokal. Aturan Kekristenan yang tepat dipertaruhkan dalam kontroversi ini. Posisi paus tersebut dijelaskan dalam Dictatus Papae Gregorius (1075), yang menekankan posisi paus sebagai kekuasaan tertinggi di dalam gereja.4

Dictatus Papae Gregorius VII masih berlaku sampai hari ini. Setiap orang percaya sejati di dalam Yahuwah harus menyadari hal-hal tersebut karena bukan hanya melakukan hal-hal yang merupakan kepercayaan-kepercayaan Paus Francis, tetapi berbagai denominasi dalam  agama terorganisir, untuk tingkat yang lebih besar atau kecil, telah mengadopsi posisi-posisi yang sama dalam menangani orang-orang dari anggota mereka yang, dalam menyelidiki Alkitab dan menemukan terang yang lebih besar, serta berusaha menerima dan hidup menurut terang itu.

Berikut ini pernyataan perintah-perintah tersebut:

Pagan Keys of Janus & Cybele

Patung berkepala singa yang sedang memegang kunci-kunci, mewakili kuasa untuk membuka/menutup pintu-pintu sorga dan neraka, dan berkuasa atas perdamaian dan perang di bumi. Kunci-kunci tersebut diadakan oleh Pluto, “dewa neraka”, dan dewa-dewa utama dari Asia kecil, Janus, dan Cybele.

  1. Bahwa Gereja Roma didirikan oleh Tuhan sendiri.
  2. Bahwa paus Roma sendiri dapat dengan benar disebut mendunia.
  3. Bahwa ia sendiri dapat melengserkan atau mengembalikan para uskup.
  4. Bahwa, di dalam sebuah dewan utusannya, bahkan jika kelasnya lebih rendah, di atas  semua uskup, dapat menjatuhkan hukuman deposisi terhadap mereka.
  5. Bahwa paus dapat menggulingkan orang yang tidak hadir.
  6. Bahwa, banyak hal lain termasuk, kita tidak patut serumah dengan orang-orang yang dikucilkan oleh dia.
  7. Bahwa, adalah sah bagi dia sendiri, sesuai kebutuhan-kebutuhan saat itu, membuat hukum-hukum baru, berkumpul bersama jemaat baru, membuat sebuah biara dari jabatan pastur; dan, di sisi lain, memisahkan keuskupan yang kaya dan menyatukan yang miskin.
  8. Bahwa ia sendiri yang dapat menggunakan lambang kekaisaran.
  9. Bahwa semua pangeran harus mencium kaki paus saja.
  10. Bahwa hanya namanya yang harus diucapkan di gereja-gereja.
  11. Bahwa jabatan [Paus] ini unik di dunia.
  12. Bahwa memungkinkan bagi dia untuk melengserkan para kaisar.
  13. Bahwa ia dapat diperbolehkan untuk memindahkan para uskup jika diperlukan.
  14. Bahwa ia memiliki kuasa untuk mentahbiskan seorang pegawai dari gereja apa saja jika ia menginginkannya.
  15. Bahwa orang yang ditahbiskan oleh dia dapat memimpin gereja lain, namun tidak dapat menduduki sebuah posisi bawahan; dan orang tersebut tidak dapat menerima kelas yang lebih tinggi dari uskup apapun.
  16. Bahwa tidak ada sinode yang akan disebut resmi tanpa perintahnya.
  17. Bahwa tidak ada pasal dan tidak ada kitab yang akan dianggap resmi tanpa kewenangannya.
  18. Bahwa sebuah hukuman yang dijatuhkan oleh dia tidak dapat ditarik kembali oleh siapapun; dan dia sendiri, hanya dia, yang dapat menariknya kembali.
  19. Bahwa hanya dia yang dapat menghakimi siapa pun.
  20. Bahwa tak seorang pun bisa berani  mengutuk seseorang yang menarik bagi jabatan apostolik.
  21. Bahwa hal yang barusan disebutkan harus dirujuk pada kasus-kasus yang lebih penting dari setiap gereja.
  22. Bahwa gereja Roma tidak pernah melakukan kesalahan; dan juga tidak akan berbuat salah untuk selamanya, Alkitab saksinya.
  23. Bahwa paus Roma, apabila ia secara kanonis ditahbiskan, adalah orang suci yang dengan tidak ragu dibuat menurut kebaikan-kebaikan Santo Petrus; Santo Ennodius, uskup Pavia, yang menjadi saksi, dan banyak bapa-bapa suci sepakat dengan dia. Seperti yang terkandung dalam keputusan-keputusan paus Santo Symmachus.
  24. Bahwa, dengan perintah dan persetujuannya, memungkinkan bagi para bawahan untuk membawa tuduhan-tuduhan.
  25. Bahwa ia dapat melengserkan dan mengembalikan para uskup tanpa campur tangan sinode.
  26. Bahwa barangsiapa yang tidak berdamai dengan gereja Roma tidak dianggap sebagai Katholik.
  27. Bahwa ia dapat membebaskan orang-orang dari kesetiaan mereka terhadap orang-orang jahat.

27 perintah ini mengalihkan kekuasaan total dan mutlak ke tangan paus, untuk selamanya, karena itu tidak dapat salah. (Lihat Perintah #22). Mungkin inilah perintah yang paling jahat dari semua perintah. Hal ini bertentangan dengan Firman Yahuwah yang dengan tegas menyatakan: “Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Yahuwah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Yahuwah karena iman dalam Yahushua yang Diurapi bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Yahuwah.”  (Lihat Roma 3:21-23.)

Smiling pastor with congregation in the background

Meskipun gereja-gereja Protestan tidak memiliki paus, mereka memiliki dewan-dewan pemerintahan dan doktrin-doktrin yang lain. Dengan hal-hal tersebut, mereka seringkali mengklaim hak untuk mendikte ilmu agama terhadap anggota-anggota mereka, apa yang benar dan apa yang salah, dan menolak terang baru yang bertentangan dengan kepercayaan-kepercayaan atau tradisi-tradisi yang mereka telah tetapkan.

Meskipun gereja-gereja Protestan tidak memiliki paus, mereka memiliki dewan-dewan pemerintahan, sinode-sidone wilayah, dewan-dewan gereja dan doktrin-doktrin lain. Dengan hal-hal tersebut, mereka seringkali mengklaim hak untuk mendikte ilmu agama terhadap anggota-anggota mereka, apa yang benar dan apa yang salah, dan menolak terang baru yang bertentangan dengan kepercayaan-kepercayaan atau tradisi-tradisi yang mereka telah tetapkan. Buku-buku, surat-surat dan situs web yang menyajikan kebenaran yang bertentangan dengan posisi yang telah ditetapkan dikecam dan orang-orang yang menentang doktrin-doktrin tersebut berdasarkan Alkitab saja, seringkali dikoreksi atau dikucilkan. Sehingga, semangat Dictatus Papae tetap maju dan berkembang di seluruh agama terorganisir – bahkan saat gereja-gereja itu sendiri mencela kesalahan-kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran Katholik.

Hubungan erat antara Gereja Katholik Roma dan denominasi-denominasi lain yang mengangkat Kekristenan terorganisir dinyatakan dalam istilah-istilah yang sangat mencolok di dalam Kitab Wahyu pasal 17. Di dalam Alkitab, seorang perempuan digunakan untuk melambangkan sebuah gereja [murtad], atau sebuah ekklesia [gereja umat Yahuwah yang setia]. Sama seperti perempuan suci dalam Wahyu 12:1 yang digunakan untuk melambangkan ekklesia (gereja) sejati, sebuah ekklesia/gereja yang telah jatuh dilambangkan dengan seorang wanita pelacur. Kitab Wahyu pasal 17 memberikan gambaran tentang Gereja Katholik Roma dimana gereja tersebut digambarkan sebagai ibu dari wanita-wanita pelacur.

Lalu datanglah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku, Mari ke sini; aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar yang duduk di tempat yang banyak airnya: Dengan dia raja-raja di bumi telah berbuat cabul . . .

 

Revelation 17 - Whore of Babylon, Mother of Harlots

Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi . . . dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya: dan pada dahinya tertulis suatu nama, SUATU RAHASIA, BABEL BESAR, IBU DARI WANITA-WANITA PELACUR DAN DARI KEKEJIAN BUMI.  (Wahyu 17:1-2, 4-5, KJV)

Kata “katholik” berarti seluruh dunia atau universal. Karena berbagai denominasi Protestan yang membentuk agama terorganisir telah begitu dekat mengikuti langkah-langkah Gereja Katholik Roma, mereka tentu saja merupakan wanita-wanita pelacur seperti putri-putri Babel.

Perluasan yang logis dari Dictatus Papae diadakan oleh Paus Innosensius III dan itu akan tetap hidup di dalam kekejian sepanjang masa sebagai salah satu momok paling jahat yang pernah ditimpakan kepada manusia yang berada di dalam nama Yahuwah. Itu adalah penetapan dari Kantor Kudus Inkuisisi.

Mereka yang dituduh sesat dijatuhi hukuman dengan auto de fe, sebuah Undang-Undang Iman. Pastur akan duduk dalam persidangan dan akan memberikan hukuman. Termasuk hukuman kurungan di ruang bawah tanah, kekerasan fisik dan penyiksaan. Mereka yang telah berdamai dengan gereja masih dihukum dan harta mereka banyak disita, serta diusir dari kehidupan bermasyarakat. Mereka yang tidak pernah mengaku dibakar di tiang tanpa dicekik; mereka yang kemudian mengaku akan dicekik lebih dulu.5

Hanya kekekalan yang akan menyatakan kengerian tersebut, kesengsaraan dan penderitaan yang diderita oleh jutaan orang yang tak terhitung jumlahnya yang hati nuraninya tidak akan membiarkan mereka tunduk kepada penguasa spiritual lain selain Pencipta mereka. Metode-metode jahat yang digunakan oleh manusia yang dianggap bertindak atas nama Yahuwah terhadap sesama mereka, mengungkapkan sumber ilham mereka yang sebenarnya: Setan sendiri. Yahuwah tidak pernah memerintahkan manusia fana dan berdosa mana pun untuk membalaskan kebenaran-Nya yang kudus. Sebaliknya, Alkitab menyatakan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Yahuwah: sebab ada tertulis, Pembalasan itu adalah hak-Ku; Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Yahuwah.”  (Lihat Roma 12:19.)

Kekejaman-kekejaman Inkuisisi begitu mengerikan sehingga tak seorang pun yang mau mengalaminya. Namun, semua orang harus mewaspadai mereka, karena Gereja Katholik, akibat doktrinnya bahwa paus tidak bisa salah dan Gereja  tersebut tanpa salah, tidak pernah mengakui  bahwa gereja itu telah melakukan dosa di dalam kasus pembantaian jutaan orang yang tak terhitung demi iman mereka. Tentu saja, karena kebijakan-kebijakan ini belum pernah berubah dan tidak dapat berubah tanpa mengakui  kesalahan mereka, itulah kebijakan Gereja Katholik Roma sampai hari ini. Paus Francis, sebagai “Pembela Iman,” juga menjunjung tinggi ajaran-ajaran ini dan, hanya dia yang memiliki kuasa, yang dapat membunuh siapa pun yang dia inginkan, yaitu yang tidak sependapat dengan doktrin Katholik.

WLC percaya bahwa Francis adalah “raja kedelapan” dalam kitab Wahyu 17. Dengan demikian, ia adalah paus terakhir. Di bawah kepausannyalah adegan-adegan penutupan sejarah bumi akan terjadi. Semua orang harus belajar untuk mengerti nubuatan ini, sebab semuanya akan dipengaruhi oleh tindakan-tindakan paus terakhir ini. Wahyu 13 adalah peringatan yang jelas dari kekuasaan yang akan segera dilakukan oleh kepausan terhadap semua yang hati nuraninya menginginkan ketaatan kepada hukum Yahuwah di atas tradisi-tradisi manusia sebagaimana yang telah disusun dengan hukum kanon Katholik.

Dan mereka menyembah naga itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang itu. Dan mereka menyembah binatang itu, sambil berkata, “Siapakah yang sama seperti binatang ini? Dan siapakah yang dapat berperang melawan dia?”  . . . dan ia diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa.  (Wahyu 13:4, 7, NKJV)

Paus Francis adalah paus yang unik dalam sejarah kepausan: dia adalah paus pertama yang juga merupakan seorang Yesuit. Serikat Yesus, atau, yang lebih dikenal dengan nama Yesuit, berdiri pada tahun 1534 dengan tujuan menindas semua para pembangkang bagi Gereja Katholik Roma. Hal tersebut masih merupakan motif  utama untuk keberadaannya. Dengan demikian, para Yesuit telah menyebar ke seluruh dunia, sebagai tenaga para pengajar di universitas-universitas, sebagai para misionaris untuk para kafir, sebagai para utusan untuk pemerintah dan penasihat untuk raja-raja, dengan membawa agenda politik mereka sebagai tentara pribadi paus.

Pope Francis I holding wafer-god

Setiap imam yang bergabung dengan ordo Yesuit harus mengucapkan sumpah yang mengikat untuk selamanya dengan ancaman kematian. Sumpah mengerikan ini, yang berasal langsung dari perut neraka, akan mengagetkan semua orang yang membacanya, karena itu menyingkapkan fakta mengenai kepausan dibalik tampilan kebenarannya. Untuk membacanya, silahkan lihat artikel "Siapakah Yesuit?"

Sumpah tersebut menentang setiap prinsip kebenaran dan kekudusan dalam Alkitab. Namun, sumpah tersebut adalah sumpah yang Paus Francis bawa setelah menjadi anggota ordo Yesuit dan, dengan demikian, tindakan-tindakannya sebagai paus akan masih diatur menurut sumpah keji tersebut. Untuk menunjukkan komitmennya menjaga sumpah itu, setiap Yesuit, termasuk Paus Francis, menyatakan:

Dengan tegas, dengan ini saya mendedikasikan hidup saya, jiwa saya dan semua kekuatan fisik saya, dan dengan belati ini yang saya sekarang terima, saya akan mendaftarkan nama saya yang tertulis dalam darah saya sendiri, dalam kesaksiannya tersebut; dan apabila saya harus terbukti tidak benar atau melemah dalam penentuan saya, maka saudara-saudara saya dan rekan-rekan tentara Milisi Paus dapat memotong tangan saya dan kaki saya, dan tenggorokan saya dari telinga yang satu ke telinga yang lain, perut saya dibuka dan belerang dibakar di dalamnya, dengan semua hukuman yang dapat dijatuhkan kepada saya di bumi dan jiwa saya akan disiksa oleh setan-setan di dalam neraka yang kekal selamanya!6

Sebab itu merupakan kesombongan Roma bahwa ia tidak pernah berubah, maka semua perintah Gregorius VII masih dapat dibenarkan dan dianggap benar. Selain itu, akibat penyiksaan dan pembunuhan semua orang yang, dengan keyakinan hati nurani, tidak sepakat dengan Roma (sebagaimana yang terlihat dalam Inkuisisi yang didirikan oleh Innocentius III) masih dianggap dibenarkan.

Kitab Wahyu mengungkapkan bahwa bangkitnya penganiayaan di masa lalu akan terjadi sebelum akhir zaman. Paus Francis, sebagai paus kedelapan dan terakhir, serta sebagai paus Yesuit pertama akan berperan dalam kebangkitan kuasa kepausan ini yang dilakukan di kancah dunia. Gabungan bobot murka dari kuasa binatang ini yang sedang dibawa untuk ditanggung akan memaksa sebagian besar orang untuk menyerah pada tuntutan-tuntutannya. “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.” (Wahyu 13:8, KJV).

Semua orang yang menaruh kepercayaan mereka kepada Yahuwah akan dilindungi dari kuasa jahat ini. Bahkan jika beberapa orang terpanggil untuk menyerahkan nyawa mereka seperti yang dilakukan para martir di masa lalu, Yahuwah akan memberikan mereka kekuatan untuk bertahan dan pada hari besar kebangkitan, mereka akan dibangkitkan, dan tidak akan pernah lagi merasa lapar, haus, menderita atau berkabung.

Kitab Wahyu memberikan sebuah janji bagi generasi akhir yang akan dipanggil untuk tetap setia kepada Sorga dalam menghadapi neraka: “Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang. Yang penting di sini ialah ketabahan dan iman orang-orang kudus.” (Wahyu 13:10, KJV). Janji Yahuwah adalah pasti dan di dalam penghakiman terakhir, kuasa-kuasa duniawi yang telah mengobarkan perang terhadap Yahuwah di dalam pribadi orang-orang kudus-Nya, akan menerima hukuman yang setimpal.

Saat ini, bangunlah hubungan pribadi bersama Yahuwah yang akan memberikan anda iman dan keyakinan untuk berpegang teguh pada janji-janji-Nya, walau Langit runtuh.

“Dan Elohim akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”(Wahyu 21:4)
 


 

Konten Terkait:


1 n/a

John J. Kelly, “Rome Never Changes.”

Alexander Hislop, The Two Babylons, hal. 207.

Encyclopædia Britannica, “The Medieval Papacy,” http://www.britannica.com/EBchecked/topic/441722/papacy/214717/The-medieval-papacy#ref704187.

“The Inquisition,”http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/History/Inquisition.html.

6 S.d.a.

7 Will Durant; The Story of Civilization, Vol. IV (Simon and Schuster, 1950); seperti yang dikutip di dalam Dave Hunt, A Woman Rides the Beast.