World's Last Chance

Mempersiapkan Hati dan Pikiran untuk Kedatangan Yahushua Secara Tiba-tiba!

Mempersiapkan Hati dan Pikiran untuk Kedatangan Yahushua Secara Tiba-tiba!

Sebuah pembelajaran yang seksama pada sejarah, Alkitab, dan ilmu astronomi mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa hari Sabtu bukanlah Sabat hari ketujuh dari Alkitab, dan juga hari Minggu bukanlah hari kebangkitan Sang Juruselamat!

life-saverArthur S. Maxwell menceritakan kisah tentang sebuah asumsi yang dibuat
pada saat perang yang mengubah hasil sejarah. Menurut Maxwell, Armada Spanyol
mengejar kapal-kapal Inggris yang dikepalai oleh Wakil Laksamana Lord Nelson.
Kapal-kapal Spanyol melebihi jumlah kapal-kapal Inggris dan sebuah kemenangan
mudah tampaknya akan diraih.
Namun, tiba-tiba,
seorang pelaut Inggris jatuh ke laut. Dalam keadaan seperti ini, kebanyakan
komandan akan terus berlayar. Mengapa mempertaruhkan nyawa semua orang hanya untuk
menyelamatkan nyawa satu orang?

Namun, bukan itu yang
terjadi. Perintah dikeluarkan
untuk menyelamatkan pelaut Inggris itu. Kapal-kapal Inggris melambat. Sekoci diturunkan dan dikirim
untuk menyelamatkan satu orang
itu.

Melihat hal ini, komandan Spanyol tersebut tidak dapat percaya bahwa ada orang yang mau mengambil resiko mengalami
kekalahan demi
menyelamatkan nyawa satu orang
pelaut. Dia membuat asumsi bahwa komandan Inggris pasti telah melihat
bala bantuan di udara.
Mengapa lagi mereka berhenti dan meluangkan waktu untuk menyelamatkan satu
orang? Dengan asumsi yang keliru ini, kapal-kapal Spanyol berbalik dan
melarikan diri, meninggalkan kapal-kapal Inggris tanpa kerusakan dan sanggup melawan dikemudian hari.

Pada akhirnya, asumsi ini berkontribusi pada penghancuran angkatan laut Spanyol
saat Spanyol bergabung dengan Prancis untuk melawan Inggris dalam Pertempuran
Trafalgar. Kemenangan Inggris di Trafalgar, “Menghancurkan strategi maritim dan
rencana invasi Napoleon . . . [Ini] membatasi kerajaan Napoleon, dan menuntun jalan pada kejatuhannya.”1
​​Jika komandan Spanyol tidak membuat asumsi palsu, Nelson mungkin telah
dikalahkan sebelumnya, dan Pertempuran Trafalgar bisa saja berbuah hasil yang berbeda. Sejarah pasti
akan menjadi sangat
berbeda seandainya satu
asumsi kecil yang salah ini
tidak dilakukan.

Bahaya Asumsi

Asumsi menggunakan fakta-fakta yang diketahui (atau gagasan yang benar-benar
diterima) untuk meramalkan kemungkinan keyakinan akan sesuatu yang sebenarnya
tidak terbukti. Masalah muncul ketika asumsi yang salah diterima sebagai
kebenaran yang solid.

Meramal Kemungkinan: “Menyimpulkan atau memperkirakan
dengan memperluas atau memproyeksikan informasi yang diketahui.”

American Heritage Dictionary
of the English Language

Beberapa asumsi itu lucu. Ambillah, sebagai contoh, peringatan Dr. Dionysius Lardner di awal tahun 1800-an bahwa setiap
orang yang melakukan perjalanan dengan kecepatan penuh pada kereta api akan
mengalami sesak napas karena kekurangan oksigen. Asumsi lain yang bisa berbahaya, seperti asumsi yang
dibuat pada abad ke-17 bahwa semua darah sama, menyebabkan dokter melakukan transfusi darah
hewan ke manusia. Manusia pasti
akan mati. Dan semakin
meluasnya anggapan itu, semakin
kuat pula kemampuannya untuk menipu.

Hari ini, kekristenan telah tertangkap dalam sebuah tipuan. Sebuah tipuan yang berdasarkan pada sebuah asumsi. Sedihnya, Asumsi
tersebut telah didukung
hampir 1.600 tahun lamanya,
untuk mencoba
membungkam semua orang yang
hendak mengungkapkan
kebenarannya.

Asumsi ini adalah bahwa
mingguan moderen, hari Minggu sampai hari Sabtu, telah bersiklus terus menerus dan tanpa henti
sejak masa Penciptaan. Asumsi ini telah menciptakan tipuan
bahwa hari Sabtu adalah
Sabat hari ketujuh dari Kitab Suci, sementara hari Minggu – sebagai hari
pertama pada mingguan ini – adalah hari dimana
Yahushua bangkit dari kubur. Tipuan
tersebut menggunakan asumsi ini. Tapi asumsi ini adalah salah.

Kebenarannya adalah
hari Sabtu yang ada sekarang
adalah bukan
hari Sabat yang asli dimana Yahuwah beristirahat pada masa Penciptaan. Ini bukan Sabat
kuno yang diabadikan dalam 10 Perintah di Sinai, dan dikuduskan oleh Yahushua dan para murid.
Ini bukan hari Sabat yang benar yang dipelihara oleh orang-orang Kristen
mula-mula pada beberapa abad pertama zaman kita. Hari Minggu bukanlah hari
dimana Yahushua bangkit dari kematian. Pernyataan semacam itu bisa mengejutkan
dan adalah normal jika ada yang bereaksi secara spontan, dan menganggapnya salah.
Namun, sejarah, Alkitab, dan bahkan ilmu astronomi,
semuanya membuktikan bahwa asumsi adanya siklus
mingguan yang tidak terputus
adalah salah.

Alih-alih segera menolak pernyataan ini sebagai ajaran sesat -“Karena itu sudah sebenarnya salah!”- WLC
mengundang anda untuk
mempelajari dengan saksama fakta-fakta yang terlupakan dalam sejarah, dan tersembunyi di dalam Alkitab,
namun tetap terjaga dengan
baik di dalam surga. Harap tetap berpikiran terbuka: pikiran yang mau
menerima dan patuh jika
Roh Kudus meyakinkan anda
bahwa itu benar. Anda dapat mempercayai Yahuwah untuk menjaga pikiran anda tetap aman saat anda meninjau kembali bukti
dengan saksama, menyusun “Perintah.
. . di atas perintah, aturan di atas aturan, baris di atas baris, ayat di atas ayat, sedikit di sini, dan sedikit di sana.” (Yesaya 28:10, KJV).

Terlupakan
dalam Sejarah

Percakapan itu sama-sama membuat frustasi dan mengejutkan. Saya menghormati
teman saya. Dia berpendidikan tinggi. Dia memegang gelar Master Theologi. Saya percaya dia
adalah orang yang dapat dipercaya
​​dan jujur ​​secara intelektual. Sebagai seorang pendeta Advent Hari Ketujuh,
saya pernah mendengarnya berbicara dalam pertemuan penginjilan, menjelaskan
mengapa beribadah pada hari yang tepat (Sabat hari ketujuh) itu penting; Itu
tidak dapat dilakukan pada sembarang
hari (baca: hari Minggu).

Jadi, ketika saya mengetahui bahwa Sabat di zaman Alkitab ditentukan oleh kalender yang berbeda,
dia adalah salah satu orang yang
pertama yang ingin saya beri
tahu. Dengan kecintaannya pada kebenaran dan pengetahuannya yang jeli, saya tahu dia
juga ingin mendengarnya. (Saya belum tahu bahwa seringkali paling sulit untuk
berbagi dengan mereka yang yakin
bahwa mereka lebih tahu dari anda).

Pada awalnya, dia menolak gagasan bahwa konsep siklus mingguan tidak terputus sejak masa Penciptaan hanyalah sebuah asumsi yang salah.

“Ketika kalender beralih dari kalender Julian ke kalender Gregorian (Masehi), tidak ada hari dalam sebuah minggu yang hilang. Hari Kamis, tanggal 4 Oktober, langsung disusul dengan hari Jumat, tanggal 15 Oktober,” katanya, menjelaskan fakta yang sudah
saya ketahui.

Dia benar, tapi dia tidak melihat
kembali cukup jauh ke belakang. Kebenaran
tersembunyi di masa lalu yang kelam,
dan untuk menemukan
kebenaran, kita perlu
menggali jauh lebih dalam dan kembali lebih jauh dari 400 tahun yang lalu.
Perubahan dalam siklus mingguan – dan bahkan panjang sebuah minggu – terjadi lebih dari ribuan tahun lebih
awal sebelum kalender Masehi moderen diperkenalkan.

Kalender yang paling kuno, dari masyarakat paling maju, adalah kalender luni-solar. Mesir
adalah negara pertama yang pindah ke kalender matahari, namun awalnya, kalender
selalu dikaitkan dengan bulan, baik sebagai kalender lunar (yang memiliki
masalah bulan melayang sepanjang tahun, dan musim datang pada waktu yang tidak
terduga), atau
luni-solar, dimana bulan-bulan (bulanan)
bersandar pada tahun
matahari, sehingga mencegah musim
“tergelincir”.
Fakta ini telah berulang kali diakui
oleh berbagai arkeolog. Seperti yang
ditulis oleh Dr. Nicholas Campion dari Universitas Wales: “Penggunaan
ilmu astronomi untuk
tujuan kolektif, baik religius maupun politis, terlihat dalam catatan astronomi
paling awal, dari bukti kalender bulan Palaeolitik sampai monumen megalitik dan
laporan tanda-langit
mesopotamia”.

Waktu itu sendiri, tentu saja, berjalan
terus menerus. Namun, itu tidak berarti bahwa metode yang digunakan untuk menghitungnya selalu
berlanjut juga. Mingguan
pada kalender moderen
melakukan siklus terus menerus. Tapi, hal ini tidak selalu seperti itu dan kita tidak perlu pergi kembali ke kalender bulan
Paleolitik untuk memastikan
fakta ini.

Mingguan Planet

Para ilmuwan merujuk pada mingguan
moderen yang digunakan
saat ini sebagai “mingguan
planet”. Hal ini disebabkan fakta bahwa hari-hari dalam setiap minggu dinamai sesuai dengan berbagai
nama planet atau, lebih
tepatnya, dewa-dewa planet. Dalam bahasa Inggris, nama untuk hari Selasa, Rabu,
Kamis, dan Jumat, berasal dari dewa-dewa Norwegia: Tiw, Woden, Thor, dan dewi
Frigg, istri Woden.2

nama hari dari mingguan planetari

Bergantung pada bahasa, ini adalah konsep yang sulit untuk diseberangi, karena sekali berkuasa,
Gereja Katolik Roma ingin menyembunyikan asal usul berhala dari mingguan planet dan menipu orang agar percaya
bahwa itu hanyalah perpanjangan dari
mingguan
Alkitab. (Keberhasilan mereka dapat dilihat dalam fakta bahwa banyak orang saat ini masih
menganggap hari Sabtu moderen
adalah hari Sabat Alkitab). Upaya bersama dilakukan untuk mengubah
nama-nama hari kafir
menjadi nama hari Alkitab. Dengan kata lain: “Hari Pertama,”
“Hari Kedua,” “Hari Ketiga,” dll.

Dalam usaha ini, Gereja Katolik hanya berhasil sebagian. Dalam beberapa bahasa
hari ini, “hari Sabtu”
asli (atau hari dewa Saturnus)
digantikan oleh kata “Sabat” sedangkan “hari Minggu” asli
(hari dewa Matahari)
disebut sebagai “Hari Tuhan.”

Menggelapkan: “Membingungkan atau memburamkan sehingga sulit untuk dilihat atau dimengerti.
Membuat tidak jelas atau redup; menghitamkan.”

Jangan sampai terjadi kesalahan. Tujuannya adalah untuk menipu dan
menyembunyikan Sabat Alkitab yang benar. Eviatar Zerubavel, seorang profesor
sosiologi Israel di Universitas
Rutgers, menulis sebuah buku menarik berjudul The Seven Day Circle: The History and Meaning of the Week. Di
dalamnya, dia dengan jelas mendokumentasikan asal-usul berhala dari mingguan moderen dan juga upaya Katolik Roma untuk
mengaburkan asal-usul itu. Dia menulis:

Terlepas dari usaha yang jelas untuk membuat mingguan
ini memiliki ciri
Kristen yang khas, Gereja tetap memilih untuk melestarikan bentuk irama dari mingguan tujuh
hari Yahudi. Ini tidak boleh dianggap
terlalu ringan;
Karena bias saja dipilih untuk berkumpul
secara teratur sesuai dengan siklus mingguan delapan hari Romawi tradisional. .
.
Namun, dalam membatalkan hari Sabat, Gereja juga menghancurkan
raison d’etre (alasan keberadaan) dari minggu
an tujuh hari
Yahudi.

Pelestarian irama tujuh hari itu, sebagian, merupakan hasil
nyata dari keterikatan mendalam dan jernih Gereja terhadap paham Yahudi, dan juga sebuah upaya pragmatis untuk
menghindari pengasingan
komponen Yahudi yang cukup penting dari keanggotaannya secara tidak perlu. Namun, sekilas nama hari dalam mingguan di kebanyakan bahasa di Eropa seharusnya mengingatkan kita
bahwa minggu
an Yahudi bukanlah satu-satunya konteks
di mana evolusi siklus tujuh hari gerejawi seharusnya dilihat
. Seperti yang
akan kita lihat, pertemuan mingguan Yahudi dan
astrologi
di sekitar waktu Kekristenan
diperkenalkan ke dalam Kekaisaran Romawi yang menghasilkan siklus tujuh hari
yang sejak saat itu menyebar ke sebagian besar
peradaban dunia.3

Dengan kata lain, Zerubavel mengatakan, penyusunan mingguan
moderen adalah pilihan
yang disengaja, bukan perpanjangan otomatis dari bagaimana waktu telah dihitung sebelumnya. Panjang mingguan lain dengan sengaja
ditolak dan mingguan
tujuh hari sengaja dipilih untuk meniru mingguan tujuh hari Yahudi tersebut.

Ketika orang-orang diperhadapkan
pada fakta sejarah: bahwa hari Sabtu moderen bukanlah
Sabat Suci, maka banyak
orang menunjukkan fakta bahwa banyak bahasa mengacu pada hari ketujuh dalam sebuah minggu sebagai
“Sabat” ketimbang
menggunakan penunjukan planet asli dari Hari dewa Saturnus.
Zerubavel menjelaskan hal ini juga. Dia berkata:

Ketika Gereja Katolik
Roma secara resmi berpegang teguh pada nomenklatur tradisional Yahudi [sistem
penamaan] pada hari-hari dalam mingguan ini, rancangan planetari dari nama-nama hari
ini muncul pada awal abad ke-2 dalam tulisan-tulisan para
bapak gereja, dan populer digunakan oleh orang-orang Kristen.
Setidaknya sejak tahun 269 M. (Satu-satunya upaya terorganisir Kekristenan yang signifikan untuk mengembalikan
tata nama Ibrani asli pada hari-hari dalam mingguan ini tampaknya merupakan penghilangan
resmi “nama-nama berhala”
oleh Majelis Umum Pertama Pennsylvania, yang jelas mewakili semangat dari Serikat Sahabat,
antara tahun 1682 dan 1706. Kebetulan, sampai hari ini, Quaker masih menyebut sekolah hari Minggu
mereka sebagai “Sekolah
Hari Pertama”).
Seperti yang dapat kita ketahui dari fakta yang aneh secara etimologis bahwa
tidak ada rancangan nama-nama
hari planet dari sebuah mingguan yang dapat ditemukan dalam
bahasa Yunani atau bahasa Slavia, hanya
Gereja Timur yang tampaknya telah berhasil menekan pengaruh yang cukup besar
dari ilmu perbintangan. Roma jelas kurang berhasil, karena nama-nama planet paling sedikit beberapa hari dalam seminggu di
Inggris, Jerman, Belanda, Denmark, Norwegia, Islandia, Swedia, Finlandia, Lapp,
Hungaria, Albania, Rumanian, Italia, Prancis, Katalan, Spanyol, Breton, Gaelik,
Welsh, dan Cornish nampaknya menunjukkan
.

Jelas dari bukti etimologis [sejarah bahasa] bahwa ilmu perbintangan telah menyebar ke
seluruh Kekaisaran Romawi sebelumnya, dan mungkin jauh lebih cepat, daripada
kekristenan. Jadi, pada awal abad
keempat, ketika Gereja akhirnya menguasai Kekaisaran, ternyata usaha gerejawi
yang serius untuk sepenuhnya menghilangkan
kaitan ilmu
perbintangan dengan mingguan tujuh hari ini
. . . . Bahkan di jantung
Kekaisaran Romawi, di mana bahasa-bahasa yang berasal dari bahasa Latin
berlaku, hanya dihargai dua
hari “kunci” dari mingguan Yahudi-Kristen, yaitu hari Sabtu (Sabat) dan Minggu (Hari
Tuhan ), bahwa Gereja
telah berhasil menggantikan astrologi. Pengaruh
astrologi jelas semakin terasa di sekitar pinggiran Kekaisaran Romawi, di mana
kekristenan tiba beberapa saat kemudian. Inggris, Belanda, Breton, Welsh, dan
Cornish, yang merupakan satu-satunya bahasa Eropa yang sampai hari ini
mempertahankan nama-nama planet asli dari semua hari dalam mingguan tujuh hari ini, semuanya diucapkan di
daerah yang bebas dari pengaruh Kristen selama Abad pertama
di era kita, saat mingguan astrologi menyebar ke
seluruh Kekaisaran
. Tidak ada bahasa-bahasa ini yang berasal dari bahasa
Yunani atau Latin, bahasa-bahasa yang paling dekat hubungannya dengan Gereja. Dan kebetulan, juga berlaku
untuk semua bahasa lain yang mempertahankan urutan nama-nama planet setidaknya satu dari
dua hari “kunci” dari
mingguan Yahudi-Kristen
–Jerman,
Gaelik, Denmark, Norwegia, Islandia, Swedia, Finlandia, Hungaria, dan Albania.4

Inilah sebabnya mengapa banyak bahasa menggantikan “hari Sabtu” lama
dengan “Sabat” dan “hari Minggu” yang asli dengan
“Hari Tuhan”.

Sebuah survei mengungkapkan bahwa setidaknya dalam enam puluh lima bahasa,
hari-hari dalam mingguan
dinamai sesuai dengan tujuh dewa planet berhala kuno –Matahari, Bulan, Mars, Merkurius, Jupiter, Venus, dan Saturnus. Dan kebiasaan menyebut nama-nama hari berdasarkan nama dewa-dewa berhala itu sekarang paling umum dilakukan di daerah-daerah di mana agama Kristen itu dominan.

“Berdoa kepada planet-planet pada hari-hari mereka masing-masing adalah bagian dari pemujaan terhadap benda-benda langit.”

Robert L. Odom, Sunday in Roman Paganism, hal. 158.

Namun, akan menjadi tidak masuk akal
jika menganggap
penghormatan hari-hari dalam mingguan berdasarkan pada
benda-benda langit adalah berasal dari bahasa Ibrani atau Kristen.
Alkitab mengungkapkan bahwa orang-orang Yahudi kuno dan
orang-orang Kristen mula-mula yang menentukan
penamaan hari-hari
dengan nomor,
dimana hari yang keenam dan
yang ketujuh disebut juga
masing-masing sebagai “hari Persiapan” dan “hari Sabat”.


Kamus, ensiklopedi, dan sumber informasi umum lainnya praktis
menyebut nama-nama hari dalam kalender bersumber dari berhala.5

Sekali lagi, seperti yang sebelumnya: mingguan planet tidak diambil dari mingguan Alkitab. Itu berasal dari agama berhala. Gereja
berusaha menyembunyikan fakta
ini dengan mengubah nama-nama hari dalam mingguan ini dan dalam hal ini, mereka hanya berhasil sedikit.

Asal Usul Mingguan Planet

Mingguan moderen sama panjangnya dengan
mingguan Alkitab. Tapi,
seperti yang sudah dicatat,
nama-nama hari dalam mingguan
ini, dan juga bagaimana siklus mingguan itu berjalan, tidak berasal dari Alkitab. Seperti yang
Zerubavel katakan sebelumnya, “Gereja tetap memilih untuk melestarikan
bentuk irama dari mingguan
tujuh hari Yahudi. Ini tidak boleh
dianggap terlalu ringan;
Karena bias saja dipilih
untuk berkumpul secara teratur sesuai dengan siklus mingguan delapan hari
Romawi tradisional.
” Banyak
lagi yang akan dikatakan
mengenai hal ini nanti,
tapi untuk saat ini cukuplah untuk bisa memahami bahwa mingguan moderen
ini bukanlah sebuah perpanjangan
alami dari mingguan Alkitab. Sebaliknya, mingguan ini berasal
dari agama berhala dan dipilih dengan sengaja untuk meniru panjang mingguan
Alkitab.

Kalender tempel ditemukan di Permandian Titus di Roma.

Kalender tempel ditemukan di Permandian Titus di Roma.

Mingguan planet
memiliki semua sejarahnya sendiri, terlepas dari Kitab Suci.
Saat mingguan planet
pertama kali ditemui dan mulai diterima dalam kalender Julian, mingguan tujuh hari yang baru
dimulai pada hari Sabtu! Lihatlah, kalender “tempel” yang ditemukan di Permandian Titus, yang dibangun
di Roma pada tahun 81 Masehi.
Di bagian atas adalah tujuh dewa planet, sesuai dengan hari-hari dalam
seminggu. Dewa pertama yang terlihat
adalah dewa Saturnus.
Dia memegang sabit karena dia diakui
sebagai “dewa
panen.”

Dewa berikutnya dalam urutan,
pada hari kedua dalam minggu ini, adalah Sol, atau dewa matahari, dimahkotai
dengan sinar terang. Hari ketiga adalah milik dewi bulan, Luna, dinobatkan oleh bulan sabit.
Dewa-dewa lainnya mengikuti: Mars, dewa perang, memakai helm; Merkurius,
memakai helm bersayap dan memegang
sebuah tongkat ular; Jupiter, mencengkeram buntelan petirnya; dan akhirnya, hari terakhir
dalam mingguan dimiliki dewi cinta, Venus.

Ini jelas-jelas menetapkan
bahwa mingguan
moderen tidak mungkin ditarik dari Kitab
Suci karena, pada saat itu mulai digunakan dalam kalender Julian, mingguan itu dimulai pada Hari Saturnus dan berakhir
pada Hari Venus, yaitu hari Jumat.
Barulah dikemudian hari
mingguan ini dimulai pada hari Minggu dan berakhir pada hari Sabtu.


Mingguan Julian Mula-mula

Kalender Julian adalah sebuah penemuan
yang cukup baru pada saat
Sang Juruselamat berjalan di bumi. Orang
Romawi aslinya menggunakan kalender
Republik Romawi, yang sama seperti
kalender Ibrani, yaitu
kalender luni-solar.

Kalender Republik Romawi didasarkan
pada fase bulan. Imam
agama berhala Romawi, yang disebut paus,
bertanggung jawab atas pengaturan
kalender. . . .

Pada zaman Julius
Cæsar, bulan benar-benar tidak sesuai dengan musimnya. Julius Cæsar menjalankan
haknya sebagai pontifex maximus (imam
besar) dan mereformasi apa yang menjadi kalender yang tidak praktis dan tidak
akurat.6

Julius Cæsar kemudian
mengundang Sosigenes, seorang astronom Aleksandria untuk menemukan cara
baru untuk menghitung waktu.

Sosigenes memutuskan bahwa satu-satunya langkah praktis adalah dengan meninggalkan
kalender lunar sama sekali. Bulan harus diatur berdasarkan musim, dan sebuah
tahun tropis (matahari) digunakan, seperti pada kalender Mesir. . . . Kesulitan besar yang dihadapi setiap
pengubah [kalender] adalah bahwa tampaknya tidak ada cara untuk membuat perubahan
kalender yang masih akan memungkinkan bulanan bulan tetap sejalan dengan fase
Bulan [dilangit] dan tahun tetap sejalan dengan musim. Sehingga dipandang perlu untuk membatalkan dasar perhitungan
tradisional
untuk menyusun kalender musiman yang efisein.7

Julius Cæsar Statue

Kalender Julian adalah kalender berhala yang diberi nama sesuai dengan nama dia yang bertanggung jawab menyingkirkan kalender Republik Roma yang berdasarkan pada bulan di langit.

Kalender baru disebut kalender “Julian” sesuai nama Julius Cæsar.
Pada tahun 45 SM, 90
hari penuh ditambahkan pada
kalender untuk membawa bulan kembali tepat selaras dengan musim-musim. Tapi di sinilah terdapat fakta penting yang
kebanyakan orang tidak tahu. Kalender Julian yang baru memiliki siklus mingguan
yang berlangsung terus-menerus.
. . tapi mingguan itu panjangnya delapan hari!
“Kalender Julian awal tidak dibangun seperti kalender moderen, namun tanggalnya
tercantum dalam kolom, dengan hari-hari dalam minggu yang ditentukan oleh huruf
A sampai H.”8

Ini adalah fakta yang mudah ditemukan
dalam sejarah dan
arkeologi. Bahkan, semua kalender
Julian awal, yang disebut fasti, yang masih ada sampai sekarang menunjukkan
mingguan dengan panjang
delapan hari. Selanjutnya, kalender
ini berasal dari periode Kaisar
Agustus sampai Kaisar Tiberius,
atau dari tahun 32 SM
smapai tahun 37 M. Ini lebih dari sekedar mencakup
kehidupan Yahushua di bumi. Mingguan delapan hari dari
kalender Julian digunakan oleh orang-orang Romawi selama kehidupan Yahushua. Inilah yang ditempatkan
tentara Romawi di Palestina. Yang membawa kita pada sebuah hal yang menarik: Ada dua jenis kalender yang
diketahui oleh orang-orang Yahudi pada zaman Yahushua:

  1. Kalender matahari milik orang Romawi yang menjajah mereka dengan siklus
    mingguan tidak terputus dengan
    panjang delapan hari; atau,
  2. Kalender luni-solar masa Penciptaan, yang ditegaskan kembali dalam peristiwa Keluaran, dengan siklus mingguan yang dimulai
    ulang setiap Hari Bulan
    Baru
    dengan panjang tujuh hari.

Kalender manakah yang menurut anda akan digunakan oleh orang-orang Yahudi? Menarik untuk
dicatat bahwa sebagian besar gulungan Laut Mati mengandung sedikit lebih banyak
upaya untuk mengkorelasikan dua metode penentuan waktu yang berbeda. Hal ini saja sudah mengungkapkan bahwa setidaknya ada dua
kalender berbeda yang dikenal di tanah Palestina pada saat itu. Ini juga memberikan bukti tidak
langsung bahwa orang-orang Yahudi menggunakan kalender yang berbeda daripada
yang digunakan oleh orang-orang
Romawi yang menguasai mereka.

BERITA BOHONG! ”Hari Sabtu adalah hari Sabat” image

Fragmen batu dari kalender Julian awal ini menunjukkan bulan Agustus sampai Desember. Huruf A sampai H menjadi penentu hari dalam seminggu. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada fragmen-fragmen batu, yang membuktikan kalender Julian awal memiliki mingguan dengan panjang delapan hari.

Kalender Julian adalah
kalender matahari dan juga sekaligus adalah merupakan kalender berhala.
Kalender Masehi yang
digunakan saat ini, juga, adalah
kalender matahari dan juga merupakan kalender berhala. Hal ini hampir
identik dengan kalender berhala,
kalender matahari Julian,
dan sama sekali tidak memiliki
keserupaan dengan kalender luni-solar Alkitab milik Yahuwah.


Tulisan
pada Batu Nisan

Nisan yang diukir oleh
orang-orang Kristen pada pekuburan memberikan
bukti arkeologis tambahan bahwa orang-orang Kristen paling awal memiliki
pengetahuan tentang kalender Julian dan kalender Alkitab, dan perbedaan dalam
dua siklus mingguan kalender tersebut. Jadi, adalah tidak terbantahkan untuk menyimpulkan bahwa mereka memilih
untuk beribadah dengan
kalender Alkitab bahkan pada saat
mereka bekerja dengan menggunakan kalender Julian sekuler. Dalam Prasasti Latinæ Christianæ Veteres,
Ernst Diehl mencatat tulisan
pada nisan berikut ini dari
tahun 269 M:

Dalam konsulsi Claudius dan Paternus, pada Nones November, pada hari Venus, dan
pada tanggal 24 bulan lunar, Leuces menempatkan [peringatan ini] untuk putri tercintanya
Severa, dan Roh Kudus-Mu. Dia meninggal [pada usia] 55 tahun, dan 11 bulan
[dan] 10 hari.9

Ini adalah salah satu batu
nisan Kristen tertua yang bisa ditemukan di Roma dan sangat menarik
karena memberi dua tanggal yang berbeda! “Nones” November mengacu
pada tanggal 5
November. Pada tahun
itu, tanggal ini jatuh
pada “hari Venus” atau hari Jumat. Dalam penanggalan
bulan dilangit waktu itu jatuh pada hari ke 24 yang akan menjadi
“Hari Kedua” pada mingguan Alkitab.

Ini sangat penting karena jika “Hari Kedua” dalam prosesi tersebut
jatuh pada hari Jumat, maka hari
ketujuh –dan hari
Sabat- bertepatan dengan hari hari Rabu atau “hari dewa Merkurius” pada kalender berhala!

Pengakuan
para Sarjana Yahudi

Sudah terlalu lama, fakta bahwa orang-orang Yahudi beribadah pada hari Sabtu sebagai hari Sabat telah digunakan untuk
“membuktikan” bahwa hari Sabtu adalah hari Sabat Alkitab. Tapi itu tidak lebih
dari sebuah penalaran
melingkar belaka:
Orang-orang Yahudi beribadah pada hari Sabat. Oleh karena itu, hari Sabtu adalah hari Sabat
karena pada hari itulah
orang-orang Yahudi
beribadah.

Faktanya adalah, para ilmuwan Yahudi sangat sadar bahwa hari Sabtu adalah bukan hari Sabat asli dari Kitab Suci.
Berikut ini adalah kutipan dari para ilmuwan Yahudi, semua penekanan diberikan.

Dalam sebuah surat kepada Dr. LE Froom, tertanggal 20 Februari 1939, [Rabbi
Louis] Finklestein [dari Seminari Teologi Yahudi Amerika] dengan santai mengakui,
“Kalender Yahudi saat ini ditetapkan pada abad keempat.” Maimonides
dan sebagian besar Kronolog Yahudi lainnya setuju bahwa kalender Yahudi moderen didasarkan pada
“gerakan rata-rata matahari dan bulan, kalender [yang sebenarnya] telah
disingkirkan.”10,11

Maimonides (1135-1204), rabbi, philosopher and physician

Maimonides (1135-1204), rabbi, filsuf dan dokter.

Bulan Baru masih tetap ada, dan
hari Sabat awalnya,
bergantung pada siklus bulan. . .
Awalnya,
Bulan Baru dirayakan dengan cara yang
sama seperti hari Sabat
; Lambat laun menjadi kurang penting sementara hari
Sabat menjadi semakin hari semakin menjadi hari agamawi
dan kemanusiaan, untuk
melakukan meditasi dan pengajaran rohani, untuk perdamaian
dan menyenangkan jiwa.12

Dengan berkembangnya makna
hari Sabat sebagai hari pengudusan dan penekanan yang diberikan pada angka tujuh dalam jumlah yang
signifikan, minggu-minggu menjadi semakin banyak terpisah dari ikatannya dengan bulan di langit. . . .13

Bulan-bulan dalam setiap tahun adalah berdasarkan bulan di langit, dan dimulai dengan bulan baru (hodesh, yang
berarti “bulan”).
Selama zaman para Raja, bulan baru dirayakan dengan perayaan dua hari. (1
Samuel 20:24-47).14

Perhatikan dalam kutipan di atas bahwa Rabbi Finklestein secara terbuka
mengakui bahwa kalender Yahudi sekarang berbeda dari yang digunakan sebelum
abad keempat dan Maimonides melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa kalender yang asli
telah “dikesampingkan”.

Hal itu disebabkan oleh karena
penganiayaan ekstrim
yang dilakukan oleh gereja Kristen awal (Katolik Roma) setelah memperoleh
kekuasaan pada abad keempat Masehi.
Sekali lagi, orang-orang Yahudi sangat terbuka tentang fakta sejarah ini, mereka dengan santai mengakui bahwa mereka
mengubah kalender di bawah tekanan penganiayaan yang ekstrem.

“Di bawah pemerintahan Konstantius (tahun 337 M – 362 M) penganiayaan orang-orang Yahudi mencapai puncaknya. . . Perhitungan kalender dilarang dan diancam dengan hukuman
berat
“.15

Menyatakan bulan baru melalui pengamatan bulan
baru, dan tahun baru pada saat
musim semi, hanya bisa dilakukan oleh Sanhedrin. Pada masa Hillel II, Presiden Sanhedrin terakhir, [abad ke-4 M.], orang Romawi melarang praktik ini. Oleh karena itu Hillel II dipaksa untuk
membuat kalender tetapnya, hal ini kemudian, membuat Sanhendrin
memberikan pra-persetujuan pada semua tahun-tahun kalender di masa datang.16

(Untuk informasi lebih lanjut, baca “Konstantin I & Hillel II: Dua Orang yang telah Menipu Seluruh Dunia“).

Pengakuan para Sarjana
Katolik

Council of Nicæa

Konsili Nicæa masih dianggap sebagai salah satu dewan gereja paling berpengaruh yang pernah ada.

Yang cukup menarik, para
sarjana Katolik Roma juga sangat tumpul mengenai fakta bahwa mereka
bertanggung jawab atas perubahan kalender yang mempengaruhi hari ibadah orang
Kristen. Hal ini terjadi pada konsili Nicea dan telah dengan baik dirangkum oleh

Heinrich Graetz dalam karyanya
yang monumental, History of the Jews, yang diterbitkan oleh Jewish Publication Society of America
pada tahun 1893!

Kemudian dunia menyaksikan tontonan yang sampai sekarang tak terbayangkan dari
pertemuan umum pertama Nice [Nicæa], yang terdiri dari beberapa ratus uskup dan
imam, dengan kaisar sebagai
kepala mereka. Kekristenan berpikir untuk
merayakan kemenangannya, namun hanya berhasil me
mperlihatkan
kelemahan dan
perpecahan internalnya. Karena pada kesempatan ini, pada penampilan resmi pertamanya, dalam
kemegahan kekuatan rohani
dan fananya, tidak ada jejak karakter aslinya. . . Pada Konsili Nice, penghubung terakhir yang
menghubungkan Kekristenan dengan induknya telah diputuskan. Perayaan Paskah
Easter yang sampai hari ini dirayakan oleh sebagian besar orang bersamaan
dengan Paskah Passover Yahudi, dan bahkan pada hari-hari yang telah dihitung
dan ditetapkan oleh Sanhedrin di Yudea untuk dirayakan; namun di masa depan
perayaan hari-hari tersebut telah sepenuhnya terbebas dari kalender Yahudi.

Sebab adalah merupakan tindakan diluar kepantasan jika pada perayaan-perayaan
Paskah Easter yang paling kudus ini kita harus mengikuti kebiasaan-kebiasaan
orang-orang Yahudi. Untuk selanjutnya,
jangan sampai kita memiliki kesamaan dengan orang-orang najis ini; Juruselamat
kita telah menunjukkan kepada kita jalan yang lain. Hal ini memang akan terlihat
konyol jika orang-orang Yahudi dapat menyombongkan diri bahwa kita tidak dapat
merayakan Paskah tanpa bantuan dari aturan-aturan mereka (perhitungan-perhitungannya)”. Pernyataan
ini dikaitkan dengan Kaisar Konstantin .
. . [dan menjadi]
prinsip Gereja sekarang untuk menentukan nasib orang-orang Yahudi.17

Tidak diragukan lagi bahwa karena tindakan para uskup Katolik Roma
di Konsili Vatikan inilah yang
secara langsung bertanggung jawab atas perubahan gerejawi perihal kalender yang digunakan oleh
orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen kerasulan untuk beribadah. Sebagai ahli kronologi, David Sidersky
menjelaskan, ” Adalah sudah lebih tidak mungkin lagi di bawah pemerintahan
Konstantius untuk menerapkan kalender
yang lama
.”18

Dalam tahun-tahun berikutnya, orang-orang Yahudi berjalan melalui “besi
dan api”. Kaisar Kristen [kepausan
Roma] melarang perhitungan
kalender Yahudi
, dan tidak mengijinkan pengumuman hari-hari raya. Graetz
mengatakan, “Masyarakat Yahudi yang tersisa telah dibiarkan berada dalam
keraguan mengenai keputusan keagamaan yang paling penting: contohnya yang
berkaitan dengan perayaan-perayaan agama mereka”. Dampaknya kemudian
adalah pembuatan sebuah kalender dan perhitungan Ibrani yang tetap oleh Hillel
II.19

Dekrit dari Nicea,
“menghancurkan Hukum Bait Suci di Yudea,” sebagaimana adanya, dan peraturan kuno
Musa untuk menyelaraskan jalannya bulan dengan matahari pada akhirnya
digantikan oleh perhitungan yang melibatkan titik balik matahari musim semi, kemudian melihat bulan purnama terdekat untuk dipilih sebagai bulan
paskah. Dari titik balik
matahari ini, gereja [Katolik] membangun kalender gerejawi dan perayaan
Paskahnya. Sangat mudah untuk mengabaikan
pentingnya Konsili Nicæa dan pengaruhnya terhadap sistem waktu Yahudi, karena
walaupun gereja tersebut ingin meninggalkan perhitungan Yahudi, dan untuk
mengadopsi hari-hari raya yang dapat dige
ser, namun pada
akhirnya, ternyata
bahwa baik hari-hari raya Yahudi
maupun Katolik Roma dihitung dari titik waktu yang sama- . . . Titik Balik Matahari Musim Semi
.20

“Untuk mendamaikan para penyembah berhala dengan Kekristenan yang sedikit, Roma, mengusahakan kebijakan umum, mengambil tindakan-tindakan untuk menggabungkan perayaan penyembah berhala dan perayaan Kristen, dan melalui penyesuaian kalender yang sulit namun terampil, tidak lagi ditemukan masalah, secara umum, untuk mengabungkan penyembahan berhala dengan Kekristenan – sekarang sudah jauh tenggelam dalam penyembahan berhala . . . untuk bekerja sama.”

Alexander Hyslop, The Two Babylons, hal. 105, penekanan diberikan.

Para ilmuwan Katolik mengetahui hal ini. Inilah sebabnya, American Catholic Quarterly Review dapat
menerbitkan sebuah pernyataan sepert
i ini: “Hari Minggu
… adalah murni ciptaan Gereja Katolik.”21 Atau, seperti yang
diterbitkan dalam Ecclesiastical Review:

“Mereka [umat Protestan] menganggap kewajiban mereka untuk menjaga
kekudusan hari Minggu. Mengapa? Karena Gereja Katolik memberitahu mereka untuk
melakukannya. Mereka tidak memiliki alasan lain. . . pengudusan hari Minggu
menjadi sebuah aturan gerejawi yang sama sekali berbeda dengan hukum Sabat
Ilahi. . . Pembuat hukum hari Minggu. . . adalah Gereja Katolik”22

Ini penting karena hal itu membuktikan
bahwa hari Minggu bukanlah hari kebangkitan Yahushua. Sementara para pemelihara Sabat hari Sabtu
telah lama berkeras bahwa perintah keempat masih mengikat dan adalah hal penting bagi Yahuwah mengenai pada hari mana seseorang
beribadah, kebanyakan pemelihara hari Minggu menolak klaim semacam itu
dengan bersikeras, bahwa “saya beribadah pada semua hari”.

Ini adalah sebuah pendapat
yang dibuat karena ketidaktahuan. Pertama, perintah keempat tidak hanya
mengatakan untuk beribadah pada hari ketujuh. Tapi perintah itu juga melarang orang bekerja
pada hari ketujuh, pekerjaan harus
dilakukan pada enam hari lainnya dalam sebuah minggu. Selanjutnya, alasan yang diberikan secara tradisi untuk ibadah pada hari Minggu didasarkan
pada argumen bahwa hari Minggu adalah hari kebangkitan Yahushua. Namun, seperti
yang telah kita lihat, hari Minggu tidak ada pada mingguan delapan hari dari kalender Julian awal. Karena itu, Sang Juruselamat tidak bisa
bangkit pada hari itu. Hari Minggu
tidak memiliki dasar untuk
dijadikan hari beribadah karena ini adalah tradisi Gereja Katolik Roma, seperti yang selalu mereka klaim.

Catholic author and radio host, Patrick Madrid

Patrick Madrid, Penulis biografi dan pembawa acara radio beragama Katholik.

Bahkan parngetahui fakta ini. Patrick Madrid
adalah seorang warga
Amerika yang bekerja sebagai penulis, apologis, dan pembawa acara radio, yang beragama Katholik.
Pada tanggal 5 Januari 2006, Madrid berada di EWTN, Jaringan Radio Global Katholik. Pada sesi tanya jawab melalui telepon,
seorang pendengar menelepon
dengan sebuah pertanyaan. Saudara ipar pendengar mengatakan bahwa Gereja
Katolik telah mengubah hari Sabat dari hari Sabtu ke hari Minggu. Tanggapan Madrid, sambil
memberi sebuah “puntiran” Katolik untuk
membenarkan posisi mereka yang
tidak lagi beribadah pada Sabat Suci, mengungkapkan bahwa dia sangat menyadari
fakta sejarah dan Kitab Suci. Dia berkata:

Apa yang saudara iparmu mungkin tidak mengerti adalah bahwa Gereja Katholik
tidak mengubah perintah [Sabat]
itu. Gereja Katholik menaati perintah untuk menguduskan hari hari Sabat, tetapi dilakukan
di Hari Tuhan , dan umat Kristen
mula-mula mengubah ketaatan mereka terhadap perintah itu dari hari Sabtu
menjadi hari Minggu.

Terutama, karena adanya pemisahan yang kontras antara
tuntutan-tuntutan Perjanjian Lama: ritual-ritual dan tuntutan-tuntutan perjanjian
Musa berhadapan dengan ibadah Hari Sabat dan pengorbanan binatang, dan hal
semacamnya. Dan mereka ingin menunjukkan Kekristenan yang berbeda dari agama
Yahudi. Itu berasal dari agama
Yahudi, tetapi itu berbeda dari agama Yahudi. . . . merayakan kematian dan kebangkitan
Tuhan pada hari di mana Dia bangkit dari kematian tampaknya paling tepat.

Hal lain yang harus
kita ingat juga adalah bahwa kalendar yang kita ikuti, termasuk yang diikuti
oleh Gereja Advent Hari Ketujuh, bukan hanya sebuah kalendar yang dirancang
oleh Gereja Katholik, tetapi juga itu adalah kalendar yang berdasarkan tahun
matahari, bukan tahun lunar. Dan kalendar Yahudi yang dipakai
pada zaman Kristus, mengikuti kalendar lunar yang beberapa hari lebih pendek
dari kalendar
matahari.

Sehingga ironi
besarnya adalah bahwa bahkan Gereja Advent Hari Ketujuh sendiri tidak beribadah
pada hari Sabat yang sama seperti Sabat Yahudi pada zaman Kristus, karena
beberapa hari libur zaman sekarang
, telah diubah dan tidak lagi
mengikuti kalendar lunar
.23

Seluruh perihal ini
jauh lebih besar daripada hanya
hari Sabtu lawan hari
Minggu. Ini berkaitan dengan keseluruhan sistem penyembahan palsu: penyembahan
berhala/kepausan melawan
penyembahan Alkitabiah
yang murni dari Yang Mahakuasa.

Ketika saya mengemukakan fakta sejarah kalender mula-mula kepada teman pendeta Advent Hari Ketujuh saya,
dia terdiam beberapa saat. Akhirnya, dia berkata, “Anda benar. Tapi yang
Tuhan inginkan adalah agar kita tetap kudus pada
hari ketujuh dari kalender manapun
yang dipakai masyarakat.”

Aku tercengang. Pernyataan seperti itu dengan jelas bertentangan dengan setiap
pernyataan yang pernah dia buat bahwa Bapa mengharapkan kita untuk beribadah
pada sebuah hari yang tepat dan spesifik.

Hilang dalam Alkitab

Ada satu kesalahan yang hampir semua orang lakukan saat membaca Alkitab. Ini
sangat umum dan sangat bisa dimengerti. Artinya, ketika orang membaca Alkitab,
mereka melakukannya dengan memakai “kacamata” ideologis. Kacamata ini
dibuat oleh latar belakang budaya dan pendidikan masing-masing dan membentuk
bagaimana mereka menafsirkan apa yang mereka baca.

preacher in front of congregation

Orang-orang Kristen beribadah pada hari Sabtu atau hari Minggu karena mereka menganggap mingguan seperti sekarang ini telah bersiklus terus menerus dan tanpa henti sejak zaman Yahushua.

Tidak ada tempat lain di mana hal ini terlihat lebih
jelas selain dari perihal
hari Sabat. Seluruh dunia telah bersatu dalam menggunakan kalender Masehi kepausan sejak tahun
1940-an. Oleh karena
itu, wajar bila orang membaca tentang Sabat di dalam Kitab Suci, mereka
menganggap ini mengacu pada hari ketujuh dalam mingguan moderen: hari Sabtu. Namun,
asumsi ini, adalah salah.

Perbedaan terbesar antara kalender Alkitab dan kalender moderen ditemukan dalam siklus mingguan dari setiap metode penentu waktu ini. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya,
kalender moderen
memiliki siklus mingguan tidak
terputus. Ini berarti
bahwa setiap bulan dimulai pada sebuah hari dalam
sebuah minggu yang berbeda. Tidak demikian halnya dengan kalender
Alkitab. Siklus mingguan kalender Yahuwah dimulai ulang
pada setiap bulan baru. Tapi lebih dari itu, kalender moderen, yang disusun
berdasarkan matahari, dan
tidak memiliki hubungan antara mingguan dan apapun di alam. Sebaliknya, siklus mingguan kalender
Yahuwah sudah pasti
terikat pada fase bulan.

Tidak ada satupun teks dalam Alkitab yang menjelaskan bagaimana penanggalan
Alkitab bekerja dengan satu alasan yang sangat sederhana: itu sudah menjadi
pengetahuan
umum. Semua orang menggunakan
kalender itu. Tidak perlu menguraikan bagaimana kalender itu bekerja. Sama seperti kalender Masehi pada hari ini,
adalah tidak perlu untuk menjelaskan bagaimana kalender Masehi bekerja karena semua
orang sudah tahu.

Namun, ada petunjuk yang
tersedia dan tersebar bebas
di seluruh Alkitab. Jika
asas ajaran Alkitab: “aturan
di atas aturan, ayat di atas ayat, sedikit di sini, dan sedikit di sana” diterapkan, maka perbedaannya akan menjadi sangat jelas.


Hari-hari
Bulan Baru

Alkitab berisi banyak referensi mengenai kategori hari tertentu yang tidak ada
dalam kalender moderen:
Bulan Baru. Jelas, sebuah cara
menghitung waktu yang berbeda digunakan. Penghitung waktu ini pertama kali ditemukan pada minggu
penciptaan pada hari keempat: “Kemudian Elohim berkata, “Jadilah benda-benda
penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda
penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari
dan tahun-tahun . . . dan jadilah demikian”. (Kejadian 1:14, 15, NKJV)

Kata yang diterjemahkan “tanda” berasal dari kata Ibrani owth, yang
artinya: sebuah tanda, monumen, suar, penanda atau tanda. Yang lebih penting lagi adalah kata yang
diterjemahkan “musim”. Ini berasal dari kata Ibrani mo’ed yang berarti waktu atau musim yang
tetap, khususnya hari-hari raya. Ini digunakan
di seluruh kitab Imamat
pasal 23, mengacu pada
hari raya Yahuwah: “Yahuwah berfirman kepada Musa:”Berbicaralah
kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Hari-hari raya yang ditetapkan
Yahuwah yang harus kamu maklumkan sebagai waktu pertemuan kudus, waktu perayaan
yang Kutetapkan, adalah yang berikut”. (Imamat 23: 1-2, KJV). Hari raya pertama yang terdaftar adalah hari raya mingguan yaitu Sabat hari ketujuh. Dan kemudia diberikan hari-hari raya
tahunan.

“Karena hari-hari
raya Yahudi terjadi pada interval yang teratur, kata ini menjadi sangat dekat dengan mereka. . . Mo’ed
digunakan dalam arti luas untuk semua acara agama. Itu terkait erat dengan
Kemah Suci itu sendiri. . . [Yahuwah] bertemu orang Israel di sana pada waktu
tertentu untuk mengungkapkan kehendak-Nya. Ini
adalah istilah umum untuk waktu perkumpulan ibadah umat [Yahuwah]
.”24

Dasar kalender yang ditetapkan oleh Yahuwah pada masa Penciptaan adalah pergerakan bulan. Hanya dengan pergerakan, waktu dapat diukur. Tujuan pelacakan gerakan bulan adalah
untuk menetapkan
hari-hari suci! “Dia telah
menetapkan bulan menjadi penentu waktu.” (Mazmur 104: 19, KJV). Di sini, sekali lagi, kata yang diterjemahkan
“waktu” adalah mo’ed, atau, ” waktu perkumpulan
ibadah umat [Yahuwah]”.

Hari-hari Bulan Baru adalah hari-hari yang terpenting, dari keseluruhan metode tata cara pengukuran waktu luni-solar Alkitabiah karena hari-hari ini adalah
hari-hari yang mengatur awal bulan dan juga awal dari siklus mingguan. Hanya
karena fakta-fakta ini tidak diketahui kebanyakan orang Kristen, tidak berarti
bahwa para sarjana
Kristen juga tidak
mengetahuinya:

Bulan kalender itu
adalah satuan waktu yang terkait
erat dengan bulan di
langit. Kata Ibrani untuk “bulan [kalender]” juga berarti “bulan [di langit]”. . . Alasan dari adanya hubungan
antara bulan
[kalender] dan bulan [di langit] adalah karena awal bulan [kalender] ditandai oleh sebuah bulan baru [di langit]. Bulan [di langit] diamati dengan
cermat oleh orang-orang
pada zaman Alkitab. Saat itu
muncul sebagai bulan sabit yang tipis, itu menandai awal bulan baru.

Bulan lunar sekitar 29 hari
panjangnya. Oleh karena itu, bulan sabit pertama pada bulan baru akan muncul 29 atau 30
hari setelah bulan baru sebelumnya. Terkadang bulan sabit tidak terlihat karena
awan. Tapi ada aturan yang
mengatur bahwa bulan baru tidak akan pernah diperhitungkan lebih dari 30
hari setelah bulan baru yang lalu. Hal ini untuk mencegah terlalu banyak variasi dalam kalender.25

Siklus Mingguan

Perbedaan dalam siklus mingguan biasanya merupakan hal tersulit bagi
orang-orang yang mempelajari kalender luni-solar, itu menutupi otak mereka pada awalnya.26 Namun,
sekali lagi, para sarjana
cukup mengenal fakta-fakta ini, bahkan jika mereka tidak pernah berkhotbah
tentang tentang hal itu.
Emil G. Hisrch, dalam sebuah artikel berjudul, “Week: Connection with Lunar Phases” dalam Ensiklopedi Yahudi
menyatakan:

Mingguan tujuh hari itu
terhubung dengan bulan lunar, yang kira-kira, seperempatnya. Empat bagian dari bulan ini terbukti
digunakan di antara orang Ibrani dan orang-orang kuno lainnya; Tapi tidak jelas
apakah itu berasal dari yang pertama. Oleh karena itu, tidak perlu diasumsikan
bahwa itu berasal dari bangsa Babilonia, karena sama mungkinnya pengamatan
empat fase bulan menyebabkan orang-orang nomaden Ibrani secara spontan dan
independen merancang sistem untuk membagi interval antara bulan baru
berturut-turut. Menjadi masing-masing empat kelompok tujuh hari. . . . Penekanan yang diberikan pada persyaratan
[Imamat 23:15] bahwa minggu Pentakosta seharusnya “lengkap”
(“temimot”) menunjukkan bahwa minggu
an dapat saja diperhitungkan sedemikian rupa sehingga melanggar perintah
ini.

Kutipan ini menarik karena, pertama, dengan benar menghubungkan siklus mingguan
kuno dengan fase lunar; Dan, kedua, ini menunjukkan bahwa penghitungan sampai
Pentakosta yang membutuhkan minggu “lengkap” tampaknya menyimpulkan
bahwa siklus mingguan yang digunakan tidak akan secara otomatis menyediakan
minggu-minggu yang lengkap.

Bukti Tanggal

Karena hari pertama setiap bulan (hari Bulan Baru) selalu memulai kembali
siklus mingguan, maka hari Sabat
selalu jatuh pada tanggal yang sama
setiap bulan lunar. Hari Bulan Baru ada di sebuah kelas dengan sendirinya, tapi hari itu adalah hari ibadah. Jadi, hari yang kedua setiap bulan
juga merupakan hari pertama dari
setiap pekan kerja. Bahkan di kalender Masehi, terkadang kita memiliki tampilan bulan seperti ini.
Misalnya, pada bulan April
2017 memiliki bentuk yang sama
seperti itu seperti itu:

bulan April tahun 2017

Satu-satunya perbedaan antara tata letak bulan April 2017
dalam kalender masehi dengan bulan luni-solar adalah bahwa ini adalah
tata letak bulanan/mingguan untuk setiap bulan
pada kalender luni-solar.
Karena hari yang
pertama setiap bulan adalah hari ibadah Bulan Baru, maka Sabat hari ketujuh selalu jatuh pada hari ke 8, 15, 22 dan
29 dari sebuah bulan
lunar. Hal ini didukung oleh fakta bahwa setiap kali tanggal Sabat hari ketujuh
diberikan dalam Kitab Suci, itu
selalu jatuh pada tanggal-tanggal ini. Selain itu, setiap kali sebuah tanggal untuk Sabat hari
ketujuh dapat dibentuk dari
ayat-ayat di sekitarnya, itu
juga jatuh pada tanggal yang sama ini. Hal ini tidak mungkin terjadi pada siklus mingguan yang berlangsung terus-menerus.27


Sabat yang hilang

“Setiap tempat di dalam Alkitab di mana hari Sabat dan Bulan Baru diindikasikan, hari ke 2 bulan [di langit] atau bulan [kalender] akan selalu merupakan hari kerja pertama, dan hari ke 8, 15, 22 dan 29 dari setiap bulan adalah hari Sabat tanpa kecuali!

John D. Keyser, “Biblical Proof for the Lunar Sabbath.”

Yang cukup menarik, orang-orang yang paling sulit menerima fakta bahwa hari Sabtu bukanlah Sabat yang sejati adalah mereka yang
paling memahami betapa
pentingnya hari Sabat itu: yaitu mereka yang sudah
beribadah pada hari Sabtu. Mereka akan memprotes, “Tuhan tidak akan
membiarkan hari Sabat dilupakan! Tidak mungkin! Karena itu, hari Sabtu harus menjadi hari Sabat.”

Pendapat seperti ini adalah
sebuah fikiran yang salah. Bukan saja karena hari Sabtu telah
terbukti bukan
menjadi hari Sabat yang sejati,
namun juga karena di
dalam Kitab Suci, Yahuwah sendiri menyatakan bahwa hari Sabat akan dilupakan
dan bahwa Dialah yang menjamin bahwa itu akan dilupakan!

Nabi Yeremia, meratapi apa yang telah menimpa Yerusalem saat jatuh ke tangan
orang-orang Babel.
Tetapi karena “Babel” juga merupakan simbol bagi keseluruhan
infrastruktur penyembahan palsu, ratapan Yeremia juga memiliki aplikasi nubuatan sekunder yang mengarah ke suatu
masa ketika pengetahuan tentang hari Sabat kuno yang asli benar-benar hilang.

Yahuwah menjadi seperti seorang seteru; Ia menghancurkan Israel, meremukkan
segala purinya, mempuingkan benteng-bentengnya, memperbanyak susah dan kesah
pada puteri Yehuda.

Ia melanda kemah-Nya seperti kebun, menghancurkan tempat
pertemuan-Nya. Di Sion Yahuwah menjadikan
orang lupa akan perayaan dan sabat
, dan menolak dalam kegeraman murka-Nya
raja dan imam. (Ratapan 2: 5-6, KJV)

Bagian Alkitab ini bukan
satu-satunya tempat di Alkitab dimana Yahuwah menyatakan bahwa Dia akan
menyebabkan hari Sabat dilupakan. Kitab Hosea mengilustrasikan ketidaksetiaan
umat Yahuwah dengan
mempersamakannya dengan istri yang tidak setia yang pergi melacur pada kekasih
lain. Yahuwah adalah suami ilahi bagi orang percaya. “Sebab yang menjadi
suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, Yahuwah semesta alam nama-Nya; yang
menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus dari Israel, Ia disebut Elohim seluruh
bumi.” (Yesaya 54: 5)

Dengan berpaling pada peribadatan
palsu, “pengantin” Yahuwah (orang percaya) telah tidak setia
kepada-Nya.

Ada banyak janji indah yang tercatat di dalam kitab Hosea
pasal dua. Kita
suka membaca janji-janji itu; Kita
ingin mengklaim janji-janji
itu. Tetapi janji-janji
itu harus dibaca dalam konteks, dan konteksnya adalah bahwa pertama-tama
dinyatakan sebuah
pernyataan mengenai
ketidaksetiaan rohani.

Adukanlah ibumu, adukanlah, sebab dia bukan isteri-Ku, dan Aku ini bukan
suaminya; biarlah dijauhkannya sundalnya dari mukanya, dan zinahnya dari antara
buah dadanya,

Supaya
jangan Aku menanggalkan pakaiannya sampai dia telanjang, dan membiarkan dia
seperti pada hari dia dilahirkan, membuat dia seperti padang gurun, dan membuat
dia seperti tanah kering, lalu membiarkan dia mati kehausan.

Sebab ibu mereka telah menjadi sundal; dia yang mengandung
mereka telah berlaku tidak senonoh. Sebab dia berkata: Aku mau mengikuti para
kekasihku. (Hosea 2: 2, 3, 5, KJV)

Apa hukuman untuk
perzinahan rohani? Hari Sabat
yang diberikan diambil kembali:

Dan sekarang, Aku akan menyingkapkan kemaluannya, di depan mata para
kekasihnya, dan seorangpun tidak akan melepaskan dia dari tangan-Ku.

Aku akan menghentikan segala kegirangannya, hari rayanya,
bulan barunya dan hari Sabatnya dan segala perayaannya. (Hosea 2: 10-11, KJV)

“Bulan Baru” adalah sebuah
referensi yang jelas untuk kalender dimana hari Sabat dan “hari-hari raya penting”
(mo’edim) dihitung. “Karena kompromi dengan agama berhala, maka gereja Kristen mula-mula
kehilangan kemurnian kerasulannya.
Ini membuka gerbang masuknya banjir
tipuan dari Setan.
Dengan tidak menghargai dan memelihara
kebenaran, umat [Yahuwah] kehilangan kebenaran itu. Bila
kebenaran surga tidak dihargai sebagaimana mestinya, [Yahuwah] akan menghilangkannya; Dia
menyebabkannya dilupakan.”28 Dan justru itulah yang terjadi.

Pengadopsian mingguan kafir oleh
otoritas gerejawi yang menyatukan kekuasaan mereka dengan otoritas sekuler pada
abad keempat menyebabkan penganiayaan terhadap semua orang yang ingin tunduk
pada penanggalan
Alkitab. Seperti yang diamati oleh Robert Odom dalam karyanya, Sunday in Roman Paganism: “Ini nampaknya seperti jika
beberapa orang yang pandai dalam hal rohani memegang kontrol atas dunia kafir
yang meminta agar mingguan planetari yang sesat diperkenalkan, dan ini menjadi waktu yang
tepat bagi sebuah kelompok penyembah matahari yang paling terkenal, untuk
muncul dan meninggikan hari Matahari sebagai hari yang paling tinggi dan lebih
suci dari pada yang lain. Sungguh ini bukanlah kecelakaan.”29

Perubahan lambat dari
kekristenan kerasulan
murni menjadi kekristenan yang terkait dengan prinsip-prinsip kalender berhala sebagian besar
bertanggung jawab atas kurangnya pengetahuan yang ada saat ini mengenai
kalender sejati dari Sang Pencipta.
Siklus mingguan kafir
bersiklus terus menerus tanpa henti, diasumsikan bahwa siklus mingguan
terus-menerus itu
selalu ada. Fakta sejarah kalender Julian telah dilupakan dan penalaran
melingkar telah digunakan untuk “membuktikan” bahwa hari Sabtu adalah Sabat Alkitab: yaitu,
mingguan kalender
masehi moderen
telah terus bersiklus selama
tujuh hari dalam satu minggu, karena itu mingguan selalu bersiklus tanpa henti.
Hari Sabtu, kemudian, harus menjadi “hari Sabat
ketujuh” dari perintah keempat.30

Kalender Surga

Disepanjang Kitab Suci,
hari Sabat itu penting. Dari kitab
Kejadian sampai kitab Wahyu,
ini adalah benang emas, yang merajut
janji-janji Yahuwah. Namun adalah tidak masuk akal bahwa Sang Pencipta, Penguasa langit dan bumi,
tidak akan menentukan metode penghitungan waktu dimana setiap orang, di semua tempat dan waktu,
dapat mengetahui kapan hari Sabat tiba. Poin ini digambarkan dengan baik oleh
pengalaman seorang pelayan
pemelihara sabat hari sabtu yang ditangkap oleh KGB dan dimasukkan ke
dalam penjara selama era Soviet. Awalnya, dia ditahan di sel isolasi. Kemudian,
dia dikirim ke penjara Rusia.
Dengan sangat hati-hati dia terus melacak kamp kerja paksahari setiap hari sehingga dia bisa mengetahui kapan hari Sabat datang.

Akhirnya, dia kehilangan jejak. Entah dia kehilangan
kesadaran untuk beberapa waktu karena perlakuan buruk terhadapnya, atau sesuatu
yang lain, pada akhirnya tidak masalah. Apapun penyebabnya, dia akhirnya
kehilangan jejak, sehingga dia
tidak mengetahui lagi jenis hari pada minggu itu..

Oh, dia dipermainkan oleh para
penjaga! Mereka menyiksanya tanpa ampun. Dan dia benar-benar menderita
penderitaan mental. Dia mengasihi
Yahuwah dan ingin menghormati Dia. Dia dipenjara justru karena dia menolak
berkompromi perihal
keyakinannya. Dan sekarang, dia tidak tahu kapan hari Sabat datang dan juga tidak tahu apakah dia telah
bekerja atau tidak pada hari itu.

Ini adalah hasil dari ketidaktahuan
akan sabat sejati dan kalender sejati Yahuwah yang ditetapkan pada masa Penciptaan. Dia tidak menghendaki orang-orang tetap berada
dalam ketidaktahuan. Dia juga tidak memberikan kepada Adam dan Hawa selembar kertas untuk diikat di pohon agar mereka dapat
tetap menghitung. Sesuatu yang begitu penting tidak akan pernah
dipercayakan pada sesuatu yang mudah dihancurkan atau dengan mudah diubah!

Ingat, Yahuwah, adalah Sang Pencipta Segala Sesuatu. Dia tidak
perlu memberi Adam dan Hawa sebuah kalender yang tercetak di selembar kertas.
Dia menanamkan sistem penghitung
waktu-Nya ke dalam struktur penciptaan dan menanamnya di langit agar semua
orang dapat melihatnya di manapun
posisi mereka di bumi.

Fungsi bulan sebagai kalender secara eksplisit dijabarkan dalam Mazmur 104:19
dan Kejadian 1:14-15. Sifat fungsi bulan yang tidak berubah bahkan
direferensikan dalam mazmur lain: “seperti bulan yang ada selama-lamanya,
suatu saksi yang setia di awan-awan”. (Mazmur 89:37, KJV).

Sama seperti tidak masuk akal untuk
menganggap bahwa Yahuwah akan mempercayakan pengetahuan tentang sistem
penghitung waktu-Nya pada selembar kertas atau
bahkan sebuah balok
batu, adalah di luar
semua logika untuk berasumsi bahwa Dia akan mempercayakan penghitungan
Sabat-Nya yang Kudus ke dalam perawatan
musuh-Nya, Lusifer.
Namun, justru sebaliknya jika, dalam menghadapi semua bukti yang mengatakan sebaliknya, seseorang
berkeras bahwa hari Sabtu adalah Sabat hari ketujuh dari Alkitab.

Kalender matahari “Masehi”
moderen adalah penemuan
paus. Bahkan diberi nama berdasarkan
nama Paus Gregorius XIII,
kalender Masehi dalam bahasa Inggris bernama kalender Gregorian! Ketika
pertama kali diperkenalkan, hanya tiga negara yang menerimanya dan semua itu
adalah negara-negara Katolik. Negara-negara lain menolaknya karena itu milik Katolik.

Namun, kalender Julian juga tidak
lebih baik karena itu juga merupakan
kalender matahari kafir.
Hanya kalender pada masa penciptaan
yaitu kalender luni-solar yang memiliki kemampuan
untuk menentukan mo’edim sejati milik Yahuwah, waktu yang ditentukan oleh Surga
untuk beribadah.

Semua waktu didasarkan pada pergerakan. Oleh karena itu, hanya ada empat jenis kalender. Semua alat penentu waktu adalah seperti salah satu dari yang ada di bawah ini:

Sidereal [Bintang]: Kalender sidereal melacak waktu berdasarkan pergerakan relatif bintang-bintang yang diamati. Kalender Hindu menggunakan kombinasi penentu waktu sidereal dan matahari.

Solar [Matahari]: Pada kalender matahari, tahun didasarkan pada waktu yang dibutuhkan matahari untuk kembali ke posisi yang sama dalam siklus musim, atau 365 hari. Kalender Julian dan kalender Masehi adalah contoh penentu waktu matahari. Pada sebuah kalender matahari, tidak ada kaitan antara siklus mingguan dengan benda apapun di alam.

Lunar [Bulan]: Kalender lunar hanya didasarkan pada fase bulan. Karena tahun lunar adalah 354 hari lebih pendek dari tahun solar yang panjangnya 365 hari, maka bulanan kalender melayang sepanjang musim. Kalender yang digunakan oleh umat Islam adalah kalender lunar, itulah sebabnya Ramadan melayang mundur sepanjang tahun, dari satu tahun ke tahun berikutnya.

Luni-Solar [Bulan-Matahari]: Kalender Luni-Solat adalah yang paling elegan dan akurat dari semua kalender yang digunakan. Siklus mingguan dan bulan didasarkan pada pergerakan bulan, sementara tahun berlabuh ke matahari. Jadi, tidak ada musim yang melayang seperti kalender lunar yang ketat. Kalender Alkitab adalah luni-solar.


Tercatat di Surga

Kebenaran telah begitu berhamburan
dan terkubur di bawah kesalahan dan asumsi selama berabad-abad, dibutuhkan kesabaran dan perhatian mendalam
terhadap detail untuk mengumpulkan berbagai “potongan teka-teki” yang hilang dari
kebenaran. Namun, masih ada
dua bukti lagi yang tercatat di langit berbintang yang membantu menetapkan tanpa keraguan
bahwa hari Sabtu
bukanlah Sabat Alkitab. Itu
adalah tanggal penyaliban dan Garis Tanggal Internasional.

Tanggal Penyaliban

Singkirkan
spekulasi fiksi-ilmiah
yang menyenangkan tentang perpecahan dalam “ruang-waktu kontinum,”
waktu itu sendiri, tentu saja, berlangsung
terus-menerus. Itulah sebabnya kebanyakan masyarakat moderen mengalami kesulitan yang membungkus otak mereka di sekitar
sistem perhitungan waktu di mana siklus mingguan tidak berlanjut. Orang-orang menganggap siklus
mingguan moderen selalu
ada. Oleh karena itu, mereka cenderung berpikir dalam ruang kalender moderen bahkan pada saat sedang mengingat kejadian sejarah.

Sebagai contoh,
Pertempuran Marathon. Tanggal yang diterima secara umum adalah tanggal 12 September 490 SM. Apakah anda dapat melihat ada sebuah masalah di sini?
Sebenarnya, ada beberapa masalah (agak lucu) dengan tanggal itu. Pertama,
kalender Masehi tidak
ada pada tahun 490 SM. Lebih jauh lagi, meskipun kalender Julian memiliki satu
bulan yang disebut bulan September, tanggalnya juga hampir 450 tahun sebelum kalender Julian muncul!

Kesimpulannya, bulan “September”
tidak ada dalam kalender Yunani pada
tahun 490 SM. Kalender Yunani, seperti kalender Israel saat itu, adalah kalender luni-solar dengan
beberapa variasi yang berbeda antar
negara-kota di Yunani. Nama-nama bulan di Athena
disebut:

Hekatombion

Metageitnion

Boedromion

Pyanepsion

Maimakterion

Poseidon

Gamelion

Anthesterion

Elaphebolion

Munychion

Thargelion

Skirophorion

Sebuah Kalender Yunani kuno dari tahun 1600 SM

Sebuah Kalender Yunani kuno dari tahun 1600 SM.

Perhatikan tidak satupun bulan
“September” di antara nama-nama
bulan itu! Jadi apa artinya Pertempuran Marathon berlangsung pada 12
September?

Menggunakan tanggalan kalender
moderen sebelum
kalender itu benar-benar muncul sebenarnya menjadi sebuah alat yang berguna. Ini
memungkinkan orang dewasa untuk mengerti, relatif terhadap sistem penentu waktu yang moderen, saat sebuah peristiwa terjadi. Menghitung mundur menggunakan
kalender moderen adalah sebuah tindakan yang disebut menggunakan kalender proleptic. Kalender proleptik
hanyalah sebuah kalender yang memperluas sistem penanggalannya ke belakang
sebelum pengenalan sebenarnya. Namun, meski berguna, penting untuk mengetahui
kapan hal ini terjadi. Orang-orang yang percaya saat ini telah mencoba untuk menghitung mundur sampai ke masa Yahushua,
untuk “membuktikan” bahwa Dia disalibkan pada hari Jumat. Orang-orang lain juga telah melakukan hal yang sama, mencoba untuk
“membuktikan” bahwa Yahushua
sebenarnya disalibkan pada hari Rabu.

Seperti yang telah ditetapkan, dua hal ini adalah tidak mungkin karena alasan
lain selain fakta bahwa “hari
Jumat” maupun “hari
Rabu” belum diperkenalkan ke dalam kalender Julian. Selama hidup
Yahushua di bumi, kalender Julian masih menggunakan mingguan dengan panjang delapan hari. Oleh karena
itu, setiap klaim bahwa Sang Juruselamat
mengorbankan nyawa-Nya pada hari Jumat atau hari Rabu didasarkan pada tanggal proleptic, tidak lebih.

Memang benar, bahwa Yahushua disalibkan pada hari keenam dalam sebuah minggu. Kitab Imamat pasal 23 memberikan tanggal
untuk Paskah: “Dalam bulan yang pertama, pada tanggal empat belas bulan
itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi Yahuwah.” (Imamat 23: 5, KJV). Pada kalender Luni-solar, hari ke 14 setiap
bulan selalu jatuh pada hari keenam dalam sebuah minggu. Jadi, tanpa diragukan lagi, Yahushua wafat pada hari sebelum Sabat
hari ketujuh.

Karena alasan inilah, para pemimpin Yahudi meminta Pilatus untuk mematahkan kaki ketiga orang yang disalibkan itu, sehingga mereka yang saat itu masih bernafas dapat mati
dengan cepat dan dapat dikuburkan: “Karena hari itu hari persiapan dan
supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib
— sebab Sabat itu adalah hari yang besar — maka
datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki
orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.” (Yohanes 19:31, KJV).

Hari setelah Paskah bukan hanya Sabat hari ketujuh, hari itu juga merupakan hari pertama dari Hari Raya Roti Tidak
Beragi. “Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti
Tidak Beragi bagi Yahuwah; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak
beragi.” (Imamat 23: 6, KJV). Dengan kata lain, hari itu adalah “Sabat” yang besar.

Banyak dari para ilmuwan
saling beragumen
tentang tahun berapa penyaliban
terjadi karena, berulang-ulang, mereka mencari satu tahun di mana hari ke
14 bulan lunar (Paskah pada tanggal
14 bulan Abib) bertepatan dengan hari Jumat jika menggunakan penghitungan kalender secara
proleptik. Dengan menggunakan perhitungan dari Departemen Aplikasi
Astronomi Observatorium Angkatan Laut Amerika Serikat, adalah mungkin untuk
membuktikan bahwa hari ke 14 bulan lunar tidak dapat bertepatan dengan sebuah
hari Jumat pada tahun
yang paling mungkin menjadi tahun penyaliban Sang Juruselamat: yaitu tahun 31 M.31 Ini adalah
Fakta astronomi, terpelihara di langit, mudah dihitung karena sangat mudah
ditebak.

Yahuwah tidak akan membiarkan
generasi akhir tetap berada
dalam ketidaktahuan akan hal-hal penting semacam itu. Dia menetapkan
prinsip-prinsip astronomi yang memungkinkan kita untuk mengetahui dengan sangat
akurat pergerakan bulan 2.000 tahun yang lalu! Dan dengan gerakan yang sama ini, ketika diaplikasikan
pada sebuah kalender
luni-solar dan
dibandingkan dengan mingguan
moderen yang
membuktikan tanpa keraguan bahwa
Yahushua, saat disalibkan pada hari keenam mingguan lunar, tidak disalibkan pada hari
Jumat.

Ini penting karena hal ini meneguhkan dua fakta tambahan:

  1. Sabat kuno yang masih dikuduskan pada saat penyaliban Sang Juruselamat bukan hari Sabtu;
  2. Hari kebangkitan Yahushua – alasan yang
    diberikan untuk beribadah pada hari Minggu – bukanlah hari Minggu.

Kedua fakta ini saja sudah dengan
jelas mengungkap kesalahan perhitungan hari ibadah seseorang jika menggunakan kalender
matahari moderen. Hari Sabtu bukanlah hari Sabat yang benar, bukan hari Sabat kuno dari Alkitab, dan
hari Minggu bukanlah hari kebangkitan
Yahushua dan oleh karena itu, bukan hari dimana seseorang harus beribadah secara khusus untuk
menghormati kebangkitan.

Garis Tanggal Internasional

Garis Tanggal Internasional adalah salah satu bukti yang paling jelas dan paling lucu,
bahwa kalender moderen
tidak dapat digunakan untuk menetapkan hari Sabat Suci. Ini adalah penemuan buatan manusia. Ini murni
sewenang-wenang dan telah berubah
beberapa kali tanpa alasan lain selain kenyamanan.

Badan Administrasi
Kelautan dan Atmosfer Nasional dari Departemen Perdagangan Amerika Serikat
mengakui sifat Garis Tanggal
Internasional yang murni sewenang-wenang, dengan menyatakan:

Garis Tanggal Internasional,
ditetapka pada tahun
1884, melalui pertengahan
Samudra Pasifik dan secara kasar mengikuti 180 derajat garis bujur utara-selatan di Bumi. Terletak di
tengah dunia dari meridian utama – bujur nol derajat yang ditetapkan di Greenwich, Inggris, pada
tahun 1852.

Garis Penanggalan Internasional berfungsi sebagai “garis demarkasi”
yang memisahkan dua tanggal kalender yang berturutan. Saat anda melewati garis
tanggal, anda menjadi penjelajah waktu! Dengan menyeberang ke barat anda telah
berada satu hari di depan; dengan menyeberang ke timur anda telah “kembali
ke masa lalu.”

Terlepas dari namanya, Garis Tanggal Internasional
tidak memiliki status internasional yang sah dan negara bebas untuk memilih
tanggal yang mereka amati
. Sementara garis tanggal umumnya membentang dari
utara ke selatan dari kutub hingga kutub, garis itu berbentuk zigzag di sekitar
perbatasan politik seperti di Rusia
timur dan di Kepulauan
Aleutia di Alaska.32

Bagian paling timur Rusia sebenarnya lebih jauh ke timur daripada bagian paling
barat Alaska! Pada peta di
bawah ini kita dapat sekilas melihat betapa sewenang-wenangnya garis itu.

Sebuah peta dunia yang menunjukkan jalur Garis Tanggal Internasional, bergaris zig-zag melintasi Samudera Pasifik.

Sebuah peta dunia yang menunjukkan jalur Garis Tanggal Internasional, bergaris zig-zag melintasi Samudera Pasifik.

Yang paling baru, Garis Tanggal Internasional ini
diubah pada tahun 2012. Hal ini menciptakan sebuah masalah pada orang-orang Kristen pemelihara hari Sabat-Sabtu di Samoa. Apakah mereka akan beribadah pada Sabat
hari ketujuh yang baru? Atau, apakah mereka tetap akan berpegangan pada yang lama, yang berarti bahwa, dengan tanggal baru, mereka
sekarang akan beribadah
pada hari Minggu?

Perubahan Garis Tanggal Internasional 2011-2012

Garis Tanggal Internasional bersifat imajiner dan benar-benar sewenang-wenang. Sangat
menggelikan untuk menganggap bahwa Yahuwah mengizinkan sesuatu yang sama
pentingnya dengan Sabat-Nya bergantung pada sesuatu yang sangat mudah berubah seperti
kalender moderen yang,
dengan permintaan sederhana,
dapat diubah.

Garis Tanggal Internasional buatan manusia diperlukan hanya jika anda mau menghitung hari Sabat dengan menggunakan kalender Masehi milik kepausan. Namun, jika anda menggunakan bulan di langit untuk menetapkan
awal bulan kalender,
dan selanjutnya hari Sabat, maka
perangkat buatan semacam itu tidak diperlukan. Bulan di langit diciptakan untuk menetapkan musim (mo’edim). Hal ini akurat bagi semua orang, di mana pun mereka
tinggal.


Hanya Satu Sabat yang Benar

Agama-semu ibarat sains-semu. Ini palsu, sebuah
penipuan menyamar sebagai kebenaran. Dalam sains-semu dan agama-semu,
sebuah hipotesis didasarkan pada sebuah asumsi dan kemudian usaha dikeluarkan
untuk membuktikan hipotesis, bukan
untuk sampai pada kebenaran. Namun,
jika anggapan itu salah, tidak ada “bukti” yang akan mengubah
kesalahan menjadi kebenaran.

Demikian juga, sebuah tradisi
panjang yang menyebut hari
Sabtu sebagai hari
“Sabat” tidak membuatnya menjadi seperti demikian. Fakta bahwa orang-orang Yahudi moderen sekarang beribadah pada
hari Sabtu tidak membuktikan
apapun selain dari apa
yang telah diakui oleh ilmuwan mereka sendiri: mereka tidak lagi beribadah dengan menggunakan kalender Alkitab.

Fakta arkeologi, Alkitab, dan astronomi menunjukkan kebenaran: Sabat asli
Alkitab ditentukan dengan
kalender Luni-solar, berdasarkan pada
pergerakan bulan di langit.
Ini berarti bahwa hari Sabtu bukan “hari Sabat Yahuwah Eloahmu.” (Keluaran 20:10,
KJV). Ini juga berarti
bahwa hari Minggu bukanlah hari kebangkitan Yahushua. Keduanya adalah hari
pemujaan palsu, yang ditetapkan
oleh Setan untuk merebut penyembahan
yang hanya layak di berikan kepada Yahuwah sendiri.

Dr. Martin Luther King, Jr.
Namun, fakta ini tetap tidak akan pernah meyakinkan siapa saja yang tidak mau
mengakui kebenaran karena
kebenaran ini adalah kebenaran yang tidak enak. Abraham Lincoln pernah berkata: “Ketika
seseorang yang benar-benar keliru mendengar kebenaran, dia akan berhenti melakukan kesalahan atau
berhenti bersikap jujur.” WLC menghimbau anda untuk mengesampingkan setiap asumsi
dan prasangka yang selama ini
sudah dihargai. Dahulukanlah
kebenaran di tempat
yang pertama dan ikuti Anak Domba itu kemanapun Dia memimpin.

Keputusan sekarang ada di tangan Anda. Dengan
adanya fakta yang terbuka di hadapan Anda, apa
yang akan Anda putuskan? Sebagai penutup, kata-kata Dr. Martin Luther King, Jr berikut ini adalah sangat
sesuai: “Yang pengecut
bertanya: apakah aman? Yang
bijak bertanya: apakah itu politis? Yang sombong bertanya: apakah itu populer? Yang berhati nurani bertanya: apakah itu benar? Dan ada saatnya
seseorang harus mengambil posisi yang tidak aman, tidak politis, atau tidak populer; tapi kita harus mengambilnya
karena itu benar.”



2 “Beberapa ilmuwan mengatakan namanya Frigg; Yang lain mengatakan namanya adalah Freya; Sarjana lain mengatakan Frigg dan Freya adalah dua dewi yang berbeda. Apapun namanya, dia sering dikaitkan dengan Venus, sang dewi cinta, kecantikan dan kesuburan Romawi. ‘Hari Jumat’ berasal dari Bahasa Inggris Kuno ’Frīgedæg.’” (https://www.livescience.com/45432-days-of-the-week.html)

3 Eviatar Zerubavel, The Seven Day Circle, p.
23, penekanan diberikan.

4 S.d.a., halpp. 23-24, penekanan diberikan.

5 Robert L. Odom, Sunday in Roman Paganism,“The Pagan Planetary Week,” http://4angelspublications.com/Books/SiRP/CHAPTER%201.pdf, penekanan diberikan.

6 eLaine Vornholt & Laura Lee Vornholt-Jones, Calendar Fraud, “Time’s Greatest Conspiracy Theory: The Continuous
Weekly Cycle.”

7 “The Julian Calendar,” Encyclopædia Britannica, penekanan diberikan.

8 Calendar Fraud, op cit., hal. 31.

9 Inscriptiones
Latinæ Christianæ Veteres,
Vol.
2, hal. 118, #3033.

10 Calendar Fraud, op cit.

11 Maimonides, Kiddusch Ha-hodesch, Tr. Mahler, Wein, 1889.

12 “Holidays,” Universal Jewish Encyclopedia, hal. 410.

13 The
Universal Jewish Encyclopedia,
Isaak
Landman (ed.), Vol. X, “Week,” (1943 ed.), hal. 482.

14 The
Universal Jewish Encyclopedia,
“Calendar,” hal. 631.

15 “Calendar,” The Jewish Encyclopedia, penekanan diberikan.

16 “The Jewish Calendar and Holidays (incl.
Sabbath)”: The Jewish Calendar; Changing the Calendar, www.torah.org, penekanan diberikan.

17 Heinrich Graetz, History of the
Jews
, Vol. II, hal. 563-564, penekanan diberikan.

18 David Sidersky, Astronomical Origin of Jewish Chronology, Paris, 1913, hal. 651, penekanan diberikan

19 Grace Amadon, “Report of Committee on Historical Basis, Involvement,
and Validity of the October 22, 1844, Position”, Bagian V, Sec. B, hal. 17-18, penekanan diberikan; Box 7, Folder 1, Grace Amadon Collection, Center for
Adventist Research, Andrews University, Berrien Springs, Michigan.

20 S.d.a.

21 January, 1883

22 February, 1914

23 Untuk mendengar pembicaraanya. klik disini.

24 Mo’ed (#4150), The Key Word Study Bible, King James Version, “Lexical Aids to the
Old Testament.”

25 Nelson’s
Illustrated Bible Dictionary
, Thomas Nelson Publishers, 1986, penekanan diberikan.

26 Adalah bukan skop dari artikel ini untuk menjelaskan secara rinci bagaimana sebuah kalender Alkitab bekerja. Untuk informasi lebih lanjut, klik disini dan disini.

27 For a detailed and in-depth study of this subject, see Weekly Sabbath Days Are Determined By The
Moon
by Arnold Bowen and Matthew Janzen.

28 eLaine Vornholt & Laura Lee Vornholt-Jones, The Great Calendar Controversy, p. 87, emphasis in original.

29 Odom, op cit., p. 157.

30 Calendar Fraud, op cit. p. 44.

31 For a detailed explanation on why 31 C.E. is the only year possible for the crucifixion date, read: “When Was Christ Really Crucified?

Sebuah kajian yang seksama mengenai Garis Tanggal Internasional dengan tidak terbantahkan membuktikan bahwa siklus mingguan moderen tidak berlangsung terus menerus tanpa henti dari sejak masa Penciptaan. Menganjurkan hal yang sebaliknya adalah sebuah tindakan tunduk pada tradisi dan asumsi – dengan mengesampingkan bukti yang ada.


Apakah yang dimaksud dengan Garis Tanggal
Internasional?

Garis Tanggal Internasional adalah garis khayal yang melintas melalui pertengahan lautan Pasifik. Garis ini
secara
resmi
ditetapkan pada tahun 1884 pada Konferensi Meridian
Internasional di Washington, D.C. dengan tujuan tunggal untuk menjadi
pemisah hari padakalender
Masehi
.

Garis
Penanggalan
Internasional berfungsi sebagai “garis batas” yang memisahkan dua
tanggal kalender yang berturutan. Saat anda melewati garis tanggal, anda menjadi penjelajah
waktu! Dengan
menyeberang ke
barat anda
telah berada satu hari di depan; dengan menyeberang ke timur anda telah “kembali ke masa
lalu.”2

Sebagian besar, Garis Tanggal mengikuti garis meridian 180°, yang berada di
seberang garis meridian Greenwich (Meridian Perdana) di London, Inggris.3
Namun,
garis
ini sama
sekali tidak lurus,
karena ada beberapa penyimpangan yang dibuat untuk kepentingan
politik dan ekonomi
dari daerah terdekat. Lokasi untuk Garis Tanggal Internasional dipilih dengan asal
(semena-mena); penentuannya
hanya didasarkan pada persoalan kenyamanan dan tidak memiliki kaitan
apapun dengan alam.

180 derajat dipilih [untuk Garis Tanggal Internasional] karena sebagian besar beroperasi
melalui laut terbuka di Pasifik tengah, dibuat zigzag untuk menjaga
negara-negara terdekat tetap berada pada hari dan tanggal mereka sendiri. Jadi pilihan 180
derajat itu dibuat
asal [semena-mena], tapi
itu mendasari
Garis Tanggal
Internasional
yang dipakai hari ini.4

Garis Tanggal
Internasional bisa berada di mana saja. . . Tapi yang paling mudah dengan
membuatnya 180°
dari garis meridian penentu yang melewati Greenwich, Inggris. Juga beruntung karena daerah ini ditutupi,
terutama oleh laut kosong. Namun, selalu ada zig dan zag di dalamnya untuk menyesuaikan
denngan
keadaan lokal.5

Garis Tanggal Internasional, Peta Dunia dengan Zona Waktu

“Garis
meridian 180° dipilih sebagai Garis Tanggal Internasional karena sebagian besar melintas melalui Samudra Pasifik
Pasifik yang berpenduduk
jarang. Hal
ini
ditetapkan pada Konferensi Meridian Internasional pada tahun 1884 di
Washington, D.C. di mana 26 negara hadir.”

(https://www.timeanddate.com/time/dateline.html, diambil pada tanggal 20 Mei, 2017.)

Ringkasan
Garis
Tanggal Internasional:

Apakah yang dimaksud dengan Garis Tanggal Luni-Solar?

Garis
Tanggal Luni-Solar adalah garis batas yang terbentuk di bumi oleh matahari
dan bulan pada saat bulan dan matahari mengalami konjungsi.6
Fenomena ini terjadi pada awal setiap siklus lunar dan sangat mudah ditebak.
Berbeda dengan Garis Tanggal buatan manusia, Garis Tanggal
Luni-Solar tidak
sewenang-wenang; sebaliknya, garis ini didasarkan pada gerak benda-benda langit seperti yang
dimaksudkan Yahuwah.

Berfirmanlah Elohim: “Jadilah
benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah
benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap[waktu
ibadah7] dan
hari-hari dan tahun-tahun. (Kejadian 1:14)

Perhatikan bahwa kitab Kejadian tidak mengatakan …

“Berfirmanlah Elohim, Biarlah sebuah komite manusia (sekitar 6.000 tahun dari sekarang) menciptakan garis khayal sesuai keputusan mereka untuk memisahkan siang dari malam, dan biarlah itu menjadi tanda, yang menunjukkan masa-masa yang tetap [waktu ibadah] dan hari-hari dan tahun-tahun.”

Hal yang membuat Garis Tanggal Luni-Solar begitu luar biasa adalah
bahwa hal itu memampukan kita untuk membedakan
antara hari dalam
kalender
tanpa penemuan manusia (yaitu Garis Tanggal Internasional).8 Saat menentukan Hari Bulan Baru yang
dimulai
pada saatfajar
setelah konjungsi

bulan-matahari terjadi, seluruh
dunia akan menyatu dalam mengamati bukan hanya hari Sabat dan hari-hari raya
tahunan, tetapi juga setiap hari. Artinya, setiap orang di bumi memulai hari mereka
dalam periode 24 jam yang sama.

Bagaimana Cara Kerja Garis Tanggal Luni-solar

Fajar pertama setelah konjungsi bulan-matahari menandai dimulainya garis tanggal. Fajar
kemudian bergerak maju dari titik itu membawa serta Hari Bulan Baru ke seluruh
dunia. Selanjutnya, enam hari kerja mengikuti dan kemudian Sabat hari ketujuh
(Sabat Lunar). Meskipun garis tanggal Yahuwah, yang juga bisa disebut
“garis fajar”-Nya,
berubah secara geografis dari satu bulan ke bulan berikutnya, yang dimulai pada
Hari Bulan Baru saat fajar setelah konjungsi namun dipastikan bahwa setiap orang di bumi memulai hari mereka
dalam periode 24 jam yang sama. Karena
itu kebutuhan akan garis tanggal palsu buatan manusia sama sekali tidak
dibutuhkan.

Seandainya hari-hari raya Bapa tidak dilupakan dan kalender-Nya tidak pernah ditinggalkan, maka tidak akan ada alasan untuk menyulap garis tanggal internasional buatan manusia.

Bagaimana perbandingan antara Garis Tanggal Internasional dengan Garis Tanggal Luni-solar?

(1a) Apakah Garis Tanggal Internasional berdasarkan pada fenomena yang dapat diamati?

Tidak. Garis tanggal internasional adalah 100% khayalan dan dibuat semena-mena.

(1b) Apakah Garis Tanggal Luni-solar berdasarkan pada fenomena yang dapat diamati?

Ya. Itu berdasarkan pada pergerakan benda-benda langit (sesuai dengan Kej. 1:14).

(2a) Dapatkah Garis Tanggal Internasional dipindah oleh manusia?

Ya. Manusia telah memindahkan garis tanggal internasional beberapa kali demi kenyamanan politik dan ekonomi.

(2b) Dapatkah Garis Tanggal Luni-solar dipindah oleh manusia?

Tidak.
Karena Garis Tanggal Lunisolar ditentukan oleh benda-benda langit, itu berada diluar jangkauan manusia. Garis Tanggal Luni-solar berada langsung dibawah pengawasan Bapa Yahuwah, Dia yang dengan hikmat meletakkan dasar bumi dan dengan pengertian ditetapkan-Nya langit. (Amzal 3:19)

(3a) Siapa yang membuat Garis Tanggal Internasional?

Garis tanggal internasional dibuat oleh sebuah komite yang terdiri dari beberapa orang di Washington, D.C..

(3b) Siapa yang membuat Garis Tanggal Luni-solar?

Garis Tanggal Luni-solar ditetapkan oleh Yahuwah. Itu ditentukan pada awal dari setiap bulanan melalui pergerakan benda-benda langit (sesuai dengan Kej. 1:14).

(4a) Kapan Garis Tanggal Internasional ditetapkan?

Garis Tanggal Internasional ditetapkan pada tahun 1884.

(4b) Kapan Garis Tanggal Luni-solar ditetapkan?

Garis Tanggal Luni-solar ditetapkan pada masa Penciptaan melalui pengaturan matahari dan bulan.

Garis Tanggal mana yang menurut anda akan didukung Surga?

Garis Tanggal Internasional

Garis Tanggal Luni-Solar

Khayal & Asal

Nyata; dapat ditetapkan secara obyektif melaui fenomena langit yang dapat diamati.

Dapat dipindahkan oleh manusia (Garis Tanggal Internasional telah dipindahkan beberapa kali untuk kenyamanan politik/ekonomi.)

Tidak bisa dipindah oleh manusia (Karena Garis Tanggal Luni-solar ditentukan oleh benda-benda langit, hal itu berada diluar jangkauan manusia. Garis Tanggal Luni-Solar berada di bawah pengawasan langsung Bapa Yahuwah.)

Diatur oleh sebuah komite yang beranggotakan beberapa orang yang berkumpul di Washington, D.C.

Ditetapkan oleh Sang Pencipta (Garis Tanggal Luni-Solar ditentukan pada awal dari setiap bulanan melalui pergerakan benda-benda langit sesuai dengan Kej. 1:14.)

Ditetapkan pada tahun 1884

Ditetapkan pada masa Penciptaan


Bangun…

Banyak
orang pada hari
ini, yang bangun dengan setengah kebenaran dan
kebohongan yang diumumkan dalam gereja yang
dilembagakan
dan kembali ke perjanjian Taurat. Mereka tercerahkan dengan sifat abadi dari hari-hari
raya Yahuwah
dan dengan giat mempromosikan kembali hidup kudus dan taat
pada semua
yang telah diperintahkan oleh Yahuwah. Namun, yang sering diabaikan, adalah
bahwa kalender yang digunakan untuk menghitung hari-hari raya itu adalahkalender berhala yang
tidak dapat diperbaiki lagi. Bukan hanya itu, kalender berhala itu juga
dengan tidak
dapat dihindari bergantung pada Gari Tanggal Internasional. Ini adalah masalah
besar bagi mereka yang mengaku hanya mematuhi Kitab Suci saja. Berani mengumumkan sola scriptura9 sambil
membuat hari-hari raya Yahuwah tunduk
pada pengaturan
Garis
Tanggal Internasional buatan manusia adalah benar-benar tidak konsisten. Berhentilah sejenak dan pikirkan hal ini.
Bagaimana mungkin
hari
Sabat dan perayaan tahunan bergantung pada penemuan buatan manusia berusia 130
tahun?

Penipuan Garis Tanggal: Apa itu & Kenapa itu Penting! [WAJIB DIBACA JEMAAT ADVEN] image

Berani mengumumkan sola scriptura sambil membuat hari-hari raya Yahuwah tunduk pada pengaturan Garis Tanggal Internasional buatan manusia adalah benar-benar tidak konsisten.

Gereja Adven & Garis Tanggal Internasional: Disonansi Kognitif yang Terbaik

Gereja
Advent Hari Ketujuh telah diberkati dengan kekayaan kebenaran Alkitab. Satu
bidang, khususnya, adalah pengakuan mereka akan pentingnya menjaga hari Sabat
suci. Sayangnya, SDA dengan tegas menolak kepenuhan tiga pesan malaikat dan
meningkatnya terang
mengenai
kalender Alkitab. Akibatnya, mereka terus secara membabi buta berpegang teguh
pada teologi miring untuk meninggikan hari Sabtu dari kalender Masehi buatan Kepausan (yang ditentukan oleh Garis
Tanggal Internasional buatan
manusia) sambil mengakui Kitab Suci
sebagai satu-satunya aturan untuk iman dan kewajiban.

Melihat lebih dekat Teologi Gereje Adven

Jika anda seorang jemaat gereja Adven, dengan rendah hati kami memohon anda untuk berhenti sejenak memikirkan hal ini: Jika pertikaian akhir sesederhana Sabtu lawan Minggu, bagaimana mungkin satu-satunya perbedaan antara dua hari ini hanyalah sebuah garis khayal yang dibuat pada tahun 1884 oleh sebuah komite beranggotakan beberapa orang di Washington D.C.?Penipuan Garis Tanggal: Apa itu & Kenapa itu Penting! [WAJIB DIBACA JEMAAT ADVEN] image

Orang-orang
dari gereja Adven dengan tekun mengklaim bahwa Sabtu adalah Sabat Suci
(“meterai Yahuwah“)
dan hari Minggu itu adalah hari penyembahan berhala (“tanda binatang
itu
“), namun mereka mengabaikan fakta bahwa hanya garis tanggal buatan manusia itu saja yang memisahkan kedua hari ini. Mereka menyadari pentingnya menguduskan Sabat dan menyadari betapa besarnya kesalahan
dalam meninggikan hari matahari kafir, namun mereka bebas memperbolehkan manusia menentukan
kapan hari ketujuh berakhir dan kapan
hari berikutnya dimulai (melalui Garis Tanggal Internasional). Ini tidak masuk akal. Satu-satunya
perbedaan antara “Meterai
Yahuwah” dan “Tanda
Binatang” dalam teologi Gereja Adven adalah garis tanggal buatan manusia. Jika anda seorang jemaat gereja Adven, dengan
rendah hati kami memohon anda
untuk berhenti sejenak memikirkan
hal ini: Jika pertikaian akhir sesederhana Sabtu lawan Minggu, bagaimana mungkin satu-satunya perbedaan antara dua hari ini hanyalah sebuah garis khayal yang dibuat pada tahun
1884 oleh sebuah komite beranggotakan
beberapa orang di Washington D.C.? Dan
jika hari Sabtu adalah Sabat kuno dari Kitab Suci, mengapa itu harus diatur secara eksklusif oleh sebuah penemuan tahun 1884?

Dipindahkan

Dari sejak awal Garis Tanggal Internasional
telah dipindahkan beberapa kali demi kenyamanan. Bukan hanya itu, tapi bahkan jalur darurat yang tidak resmi10 sebelum
Garis Tanggal Internasional ini dibuat telah dipindahkan setidaknya dua kali:

gambaran Garis Tanggal Internasional thn 1888

Jalur garis tanggal darurat setelah penyesuaian Alaska pada tahun 1867, namun mengabaikan penyesuaian Filipina tahun 1844/45, seperti yang diterbitkan dalam edisi ke-4 (1885-90) Meyers Konversationslexikons (garis bujur dihitung dari meridian Ferro dan Paris). Sumber: https://www.staff.science.uu.nl/~gent0113/idl/idl_philippines.htm

Filipina: Pada tahun 1844,
Filipina (bersama Kepulauan Mariana, Guam, dan Kepulauan Caroline) menghilangkan
hari Selasa, 31
Desember dari kalendernya, dan menggeser garis tanggal yang diyakini ke timur. Akibatnya, apa
yang sebelumnya telah dikenali sebagai hari Jumat, menjadi hari Sabtu, dan apa
yang sebelumnya telah dikenal sebagai hari Sabtu, menjadi hari Minggu. Orang-orang
Adven di
Filipina mengabaikan hal ini sepenuhnya, sambil beribadah pada hari
Sabtu yang baru mereka berkata, “Sabat kita adalah Sabat Perjanjian Baru.”11
Aslinya, teologi gereja
Adven menyatakan bahwa orang yang meninggikan hari yang sebelumnya merupakan hari Sabtu (hari
Minggu
yang baru) berada dalam bahaya
menerima “tanda binatang itu”. Ini tidak masuk akal dan tidak
konsisten. Bagaimana mungkin seorang pencari kebenaran yang jujur dapat
​​terus
berpegang teguh pada doktrin yang keliru tentang siklus mingguan yang tidak
terputus
ketika menghadapi bukti yang
sudah sangat jelas
tersebut?

Alaska: Ketika
Amerika Serikat membeli Alaska dari Rusia pada tahun 1867, garis darurat
dipindahkan ke barat. Akibatnya, Alaska mengalami dua hari Jumat secara berurutan.

Atas dorongan Menteri Luar Negeri AS William Seward, Senat Amerika Serikat
menyetujui pembelian Alaska dari Rusia seharga $7.200.000 pada tanggal 9 April
1867, dan bendera Amerika Serikat dikibarkan pada tanggal 18 Oktober pada tahun yang sama (sekarang
disebut Hari Alaska). Bertepatan dengan perubahan kepemilikan, Garis Tanggal Internasional secara
resmi dipindahkan ke barat, dan kalender Alaska berubah dari kalender Julian ke kalender Masehi. Karena itu, bagi
warga, Jumat 6 Oktober 1867 diikuti oleh Jumat 18 Oktober 1867; dua hari Jumat berturut-turut
karena pergeseran tanggal.12

Ini berarti bahwa apa yang sebelumnya telah dikenal sebagai hari Sabtu, berubah menjadi hari Jumat,
dan apa yang sebelumnya telah dikenal sebagai hari Minggu, berubah menjadi hari Sabtu. Pikirkan
tentang itu; para pemelihara Sabat Sabtu di Alaska hari ini
beribadah pada hari yang pada 150
tahun yang lalu merupakan hari
Minggu. Sekali lagi, konsekuensi bagi Gereja Adven sangat besar karena teologi mereka
memaksakan bahwa mereka
yang tetap bertahan
menguduskan hari Minggu pada akhirnya akan menerima tanda binatang itu. Bagaimana bisa, padahal
baru 150 tahun yang lalu, hari ibadah mereka (Sabtu) adalah hari Minggu?
Integritas menuntut agar umat Yahuwah
mengakui kesalahan mengerikan
karena telah membuathari-hari suci Surgawi diatur oleh garis tanggal buatan manusia.

Kepulauan Samoan dan Tokelau: Pada
tahun 1892, Garis
Tanggal Internasional
dipindahkan ke bagian barat Kepulauan Samoan. Hal ini dilakukan
dengan
membuat
hari
Senin, 4 Juli terjadi
selama
dua hari berturut-turut di kepulauan tersebut. 119 tahun kemudian, pada tahun
2011, Samoa memindahkan IDL kembali ke timur dengan menghapus
hari Jumat,
30 Desember dari kalendernya. Tokelau, sebuah pulau terdekat milik Selandia
Baru, melakukan transisi juga. Saat ini, Garis Tanggal
Internasional lewat
di
antara pulau Samoa dan Samoa Amerika.

Mayoritas anggota
gereja Adven di
Samoa sekarang beribadah pada hari Minggu yang baru karena, kata mereka, siklus
mingguan yang
tidak terputus
adalah yang penting. Namun, mereka mengabaikan fakta bahwa penyesuaian yang
dilakukan pada tahun 2011
hanya mengembalikan Samoa ke minggu kalender yang diamati sebelum tahun 1892.
Ini benar-benar tidak masuk akal dan sekali lagi membuat kesalahan dalam
mengklaim bahwa minggu moderen telah bersiklus tanpa henti dari sejak
masa
Penciptaan.

Menurut Teologi Gereja Adven, meterai Yahuwah (pengudusan Sabat hari ketujuh) dan tanda binatang (pengudusan hari Minggu) harus menjadi satu dan sama di Samoa. Hal ini saja, seharusnya cukup bagi orang-orang Adven yang tulus untuk menilai ulang cara pandang mereka. (Saran Bacaan: Batas Penanggalan Internasional Berubah: Hari Sabat Tidak Berubah?)

Atol Kwajalein: Pada tahun 1993,
Kwajalein (salah satu Kepulauan Marshall) menghapuskan hari Sabtu, 21
Agustus dari kalendernya, menyebabkan Garis Tanggal Internasional dipindahkan ke timur.
Hal ini membawa Kwajalein selaras dengan pulau-pulau lain yang, sampai saat
itu, telah berada di hari yang berbeda.

Kiribati Timur: Pada tahun 1995,
Kiribati memindahkan Garis Tanggal Internasional ke timur untuk
“kenyamanan administratif.”13 (Sebelumnya, Republik Kiribati dipotong
oleh garis
tanggal.)

“Yahudi” Moderen Mengakui Sebuah Masalah

Dalam agama
Yahudi moderen, ada empat pendapat
utama14 mengenai di mana seharusnya garis tanggal
itu berada:

  1. 90° di sebelah timur Yerusalem
  2. 180° di sebelah timur Yerusalem
  3. Pertengahan Pasifik: Menyerupai Garis Tanggal
    Internasional
  4. Tidak Ada Garis Tanggal Spesifik (ditempat
    lokal masing-masing)

Meskipun tidak ada pencari kebenaran sejati yang harus berpatokan pada “Yahudi” Ashkenazi dalam hal apa pun, namun, adanya fakta bahwa ada perdebatan di antara para rabi yang
punya kebiasaan sendiri adalah
pertanda
akan adanya sebuah
masalah yang lebih besar.

Leluhur dan para Nabi

Jadi, bagaimana para leluhur dan para
nabi mengatur waktu? Apakah kita harus percaya bahwa umat Yahuwah zaman dulu dan para leluhur/nabi pasca-air bah menggunakan
garis tanggal khayal zigzag
di tengah dari apa yang sekarang menjadi samudra Pasifik untuk menentukan kapan
hari-hari Sabat dan hari raya tiba? Ini benar-benar tidak masuk akal. Sekali
lagi, garis tanggal moderen
diciptakan pada tahun 1884 oleh manusia
biasa untuk tujuan perdagangan duniawi.

Keturunan Nuh

Pikirkanlah ini sejenak: Ketika keluarga Nuh mulai tumbuh
dan memenuhi bumi
setelah air bah, beberapa orang pasti telah melakukan perjalanan ke timur dan
beberapa orang akan
melakukan perjalanan ke barat. Akhirnya kedua kelompok itu saling bertemu di
sisi lain dunia. Sekarang perhatikan ini: Jika keturunan Nuh mengamati siklus
mingguan tidak terputus,
mereka akan terpisah satu
hari kalender pada saat
mereka bertemu di sisi lain (misalnya satu kelompok akan mengamati hari keenam,
sementara kelompok lainnya sedang mengamati hari ketujuh). Alasannya adalah
bahwa mereka yang bepergian ke timur sedang melakukan perjalanan menuju
matahari terbit (memulai
hari-hari mereka lebih cepat
seiring dengan pergerakan mereka ke timur), sementara mereka yang
melakukan perjalanan ke barat sedang melakukan perjalanan menuju matahari
terbenam (memulai
hari-hari mereka semakin
lambat seiring pergerakan mereka ke barat). Akibatnya, ketika kedua
kelompok bertemu di sisi lain dunia, mereka yang telah bepergian ke timur akan
berada satu hari di depan orang-orang yang bepergian ke barat. Jadi, siapa yang
benar? Kalender siapa yang benar? Jawabannya: Jika mereka mengamati siklus
mingguan yang tidak terputus,
maka keduanya akan
benar, namun itu adalah
mustahil. Hal ini
sekali lagi menunjukkan kekeliruan siklus mingguan yang tidak terputus.

Pertanyaan: Jika umat Yahuwah zaman dulu tidak menggunakan
garis tanggal palsu moderen
untuk mengukur waktu, apa yang mereka gunakan?

Berfirmanlah Elohim:
“Jadilah benda-benda penerang pada
cakrawala
untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang
itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun.
(Kejadian 1:14)

Jawaban: Mereka menggunakan Garis Tanggal Luni-solar,
yang dibentuk setiap bulan oleh “benda-benda penerang di cakrawala”. Jika orang-orang berdosa tidak meninggalkan
kalender Surga dan mengabaikan hari-hari raya Yahuwah, maka garis tanggal palsu tidak akan pernah diperlukan. Garis
Tanggal Internasional buatan manusia adalah hasil pemberontakan terbuka melawan
Surga.

Tantangan pada semua Pemelihara Sabat Sabtu (termasuk para guru dan pendeta):

Orang yang bingung

Pertanyaan: Bagaimana anda bisa secara konsisten menguduskan hari Sabat Sabtu
tanpa menggunakan Garis
Tanggal Internasional buatan manusia?

Jawaban: Anda tidak bisa. Sangat
tidak mungkin untuk menggunakan Kalender Masehi buatan Kepausan tanpa menggunakan garis tanggal buatan
manusia – karena inilah garis yang memberitahu anda kapan harus beralih dari satu hari
ke hari berikutnya; Inilah garis yang memberi tahu anda hari mana yang harus dianggap kudus, dan hari mana yang
harus diperhitungkan sebagai hari
biasa. Hal ini mungkin
tidak ada bedanya bagi
gereja-gereja pemelihara hari Minggu yang dilembagakan yang mengajarkan
pelanggaran hukum, tetapi bagi mereka yang rajin mengetahui hal-hal yang dari Yahuwah dan yang
menyadari nilai abadi dari hari-hari Sabat dan hari-hari raya-Nya, ini membuat
semua perbedaan ini di dunia!

Jika
kita melayani Bapa tanpa kompromi, kita harus membiarkan firman-Nya sendiri membedakan bagi kita mana yang kudus dan mana yang biasa. Artinya, kita harus
menggunakan kalender Surga dan garis tanggal Surga untuk menentukan kapan
hari-hari Sabat dan hari-hari raya tiba, bukan garis tanggal palsu manusia yang melintas zigzag di samudra
Pasifik selama 130 tahun terakhir.

Ajukan Pertanyaan

Jika anda adalah Pemelihara
hari Sabat Sabtu, tanyalah pendeta anda, “Bagaimana
kita dapat secara konsisten mengamati Sabat hari Sabtu tanpa menggunakan Garis
Tanggal Internasional buatan manusia yang baru berumur 130 tahun?” Jika
dia jujur, dia harus mengakui bahwa itu tidak
mungkin
. Dunia tidak bisa bersatu dalam mengamati hari/tanggal Masehi tanpa menggunakan Garis
Tanggal Internasional.
Pertanyaan logis berikutnya yang akan mengitu adalah, “Jika
demikian, bagaimana
hari
Sabtu dapat ditetapkan
sebagai
Sabat hari ketujuh?” Tidak ada jalan lain; jika hari itu penting,
maka metode yang digunakan untuk menghitung hari juga penting. Anda tidak dapat
menggunakan dua
cara, anda tidak dapat mengatakan
bahwa Sabat hari ketujuh sangat penting bagi Bapa kita di Surga, sambil mengatakan bahwa adalah
dapat diterima jika
orang-orang duniawi menentukan kapan Sabat ketujuh dimulai dan berakhir
(melalui Garis
Tanggal Internasional).


Terimalah Kebenaran

Sekarang
matamu telah terbuka terhadap tipu daya kalender moderen, apa yang akan anda lakukan? Maukah anda
menaati sekaligus dan mulai belajar/mengamati kalender Surga? Atau akankah anda dengan keras menutup telinga anda, menutupi mata anda, dan membelakangi terang? Maukah anda menjemput salibmu dan
mengikuti Anak Domba kemanapun Dia pergi? Atau akankah anda mnundur dari
undangan itu
dan
kembali pada kepuasan dan kegelapan
dari mana anda telah
dipanggil?
Kami
berdoa agar anda dapat melepaskan roh Laodikea dan melarikan diri dari Babel selama masih ada waktu.

Tolong
jangan membuat kesalahan dengan percaya bahwa ada keamanan dalam jumlah.
Pendeta anda mungkin memilih
untuk tetap dalam kegelapan. Keluarga gereja anda mungkin lebih
memilih kenyamanan bangku gereja karena ketidaknyamanan memikul salib. Setiap
orang yang anda kenal mungkin
menolak hujan akhir dan meningkatnya terang mengenai kalender Bapa. Namun itu tidak
melepaskan anda dari
tanggung jawab untuk menerima kebenaran. Yahuwah telah memberitahukannya
kepadamu. Berkat yang luar biasa menanti mereka yang percaya dan taat.

Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang
sampai rembang tengah hari. (Amsal 4:18)


Artikel Terkait:


1 “Garis Tanggal Internasional belum ditetapkan secara resmi sampai tahun 1880an, namun kebutuhan akan jalur semacam itu di Bumi untuk menyesuaikan hari tersebut secara tidak sengaja ditemukan oleh kru Magellan yang, dari tahun 1519 sampai 1521, adalah orang pertama yang mengelilingi dunia.” (Peterson, James F., Sack, Dorthy.,
Gabler, Robert E.. “Physical Geography.” 11th ed. Cengage Learning, Feb.
4, 2016. Education. 672 pp. p. 34. http://tinyurl.com/kps2efn, diambil pada tgl 11 Mei, 2017.)

2 National
Oceanic and Atmospheric Administration, http://oceanservice.noaa.gov/facts/international-date-line.html, diambil pada tanggal 29 April 2017.

3Meridian
Greenwich (Meridian Perdana) di
tetapkan pada tahun 1851 oleh Sir George Biddell Airy,
seorang ahli matematika dan astronom Inggris. Meridian Greenwich
inilahyang
sekarang menetapkan Coordinated Universal Time (UTC). Memilih Greenwich sebagai
titik jangkar untuk mengukur waktu “adalah sewenang-wenang. Ini lebih
didasarkan pada kebanggaan dan kenyamanan nasional.”
(http://www.livescience.com/44292-international-date-line-explained.html, diambil pada tanggal 29 April, 2017.)

5 Astronomical
Applications Department of the U.S. Naval Observatory, http://aa.usno.navy.mil/faq/docs/international_date.php, diambil pada tanggal 8 Mei, 2017

6 Matahari,
karena gerakannya yang sedikit lebih cepat, bergerak maju dari depan sekitar
12,2° setiap hari. Akibatnya, ia berada jauh di depan bulan sehingga berputar
mengelilinginya dan menyusulnya lagi setelah sekitar 29,5 hari (12,2° x 29,5 =
360° = lingkaran penuh). Konjungsi bulan-matahari adalah momen yang tepat di
dalam waktu
ketika matahari kembali sejajar dengan bulan (bujur langit yang sama) sebelum
sekali lagi bergerak di depan bulan pada awal siklus bulan berikutnya. Waktu
konjungsi sering disebut sebagai “bulan baru” astronomi.

7Kata
yang diterjemahkan sebagai “musim” dalam Kejadian 1:14 adalah mo’ed.
“Mo’ed digunakan dalam arti luas untuk semua
perkumpulan ibadah, terkait erat dengan
kemah suci itu sendiri … [Yahuwah] bertemu dengan Israel di sana pada
waktu-waktu tertentu untuk tujuan mengungkapkan kehendak-Nya. Ini adalah
istilah umum untuk
perkumpulan ibadahumat [Yahuwah]“. (“Lexical Aids to the Old Testament,” Hebrew-Greek Key Word Study Bible, hal. 1626.)

8Sementara
kita memanfaatkan teknologi moderen untuk menentukan dengan tepat kapan konjungsi akan
terjadi, kita tidak menggunakan garis tanggal buatan manusia; Sebaliknya, kita
menggunakan benda-benda
langit
sendiri untuk memperhitungkan waktu, sama seperti kita diinstruksikan dalam
Kejadian 1:14. Orang-orang zaman dulu lebih pintar dan selaras dengan langit dibanding kita sekarang. Hal ini
dibuktikan oleh struktur kuno yang tak terhitung jumlahnya di seluruh dunia
yang dapat memprediksi gerhana, equinoxes, solstices, dan sebagainya secara
akurat. Konsekuensinya, mereka dapat secara akurat memperkirakan fenomena langit tanpa menggunakan
fasilitas moderen.

9 Sola Scriptura adalah seruan dari Reformasi Protestan. Ini adalah kalimat dari bahasa Lathin, artinya “Hanya Alkitab”.

10 “Kebutuhan akan garis tanggal kalender dipopulerkan oleh ahli geografi abad ke-13 yang mengagumi bagaimana seorang navigator lingkaran akan ‘secara paradoks’ mendapatkan atau kehilangan tanggal tergantung pada arahan perjalanannya …. Berbagai paus dan kerajaan kemudian mengumumkan garis tanggal kalender sesuai dengan Kebutuhan mereka.” (The Jerusalem Post [penekanan diberikan], http://www.jpost.com/Jewish-World/Judaism/Ask-the-Rabbi-A-matter-of-time-167236, diambil pada tgl 18 Mei, 2017.)

11 http://adventist.ph/philippines-profile, diambil pada tgl 8 Mei, 2017.

12 https://en.wikipedia.org/wiki/Department_of_Alaska, diambil pada tgl 12 Mei, 2017.

13 BBC News quoting Michael Walsh, the Kiribati Honorary Consul to the UK, http://www.bbc.com/news/world-13334229, diambil pada tgl 13 Mei, 2017.

Peningkatan
terang dalam beberapa tahun terakhir telah mengungkapkan bahwa hari menurut Alkitab —termasuk hari Sabat—
dimulai saat fajar. Urutan kejadian-kejadian yang terjadi diseputar kematian
dan penguburan Yahushua menjadi bukti yang meyakinkan bahwa kaum Yahudi
pada zaman Yahushua masih tetap menguduskan hari Sabat yang dimulai pada saat
fajar.

coup de grâcePernahkah
anda mendengar istilah coup de
grace
? Para
wartawan kadang-kadang memberitakannya sebagai coup d’etat atau kudeta dalam bidang politik atau dalam bidang yang
lain. Namun coup de grace ini berbeda. Coup de grace adalah sebuah serangan
membunuh yang dilakukan dengan cepat.

Ini dimulai
kembali ketika kebutuhan akan pengobatan di medan perang jauh lebih banyak melebihi apa yang
diharapkan. Pada dasarnya, coup de grace
adalah sebuah pembunuhan lembut di mana seorang sejawat yang sudah sangat
sekarat dibunuh secepat dan semudah mungkin, tanpa merasakan kesakitan.
Ungkapan ini telah berkembang sampai, digunakan di dunia moderen, dan diartikan
sebagai “suatu tindakan atau peristiwa yang mengakhiri atau menghancurkan
sesuatu yang sudah semakin melemah atau yang sudah parah”.1

Pendapat
bahwa Sabat adalah sebuah periode 24-jam, yang berlangsung dari matahari terbenam
sampai matahari terbenam, telah menjadi semakin melemah dan melemah dengan
adanya penemuan, diantara bukti-bukti yang lain, bahwa ayat utama yang menjadi
dasar pelaksanaannya yaitu, Imamat 23:32, telah diartikan di luar konteks dan
sama sekali tidak berlaku untuk Sabat hari ketujuh.

Coup de grace yang menghapuskan
untuk selamanya keyakinan terhadap Sabat dari matahari terbenam sampai
matahari terbenam ditemukan dalam catatan kematian dan penguburan Sang
Juruselamat. Urutan kejadian dari peristiwa-peristiwa ini menetapkan dengan
kepastian yang mutlak bahwa jam-jam Sabat dimulai pada pagi hari, dan bukan
pada saat matahari terbenam.

URUTAN
KEJADIAN

Kematian
Yahushua:

“Kira-kira jam sembilan
berserulah Yahushua dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?”
Artinya: Eloah-Ku, Eloah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? … Yahushua
berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya”. (Matius
27:46 & 50, KJV)

Sebelum jam
mekanik ditemukan, waktu di siang hari secara merata dibagi menjadi 12 bagian.
Ketika Yahushua bertanya, “Bukankah ada dua belas jam dalam satu
hari?” (Yohanes 11: 9, KJV) tidak ada orang yang berdebat dengan-Nya.
Semua orang bisa melihat sebuah jam matahari dan mengetahui bahwa hari dimulai
dengan datangnya terang atau cahaya. Karena itu, “waktu” musim dingin
menjadi lebih pendek dari waktu di musim panas.

Yahushua
sudah meninggal “sekitar jam sembilan” pada hari Paskah, tanggal 14
bulan Abib. Ini setara dengan kira-kira pukul tiga sore. Untuk waktu pada tahun
itu, tidak lama setelah titik balik matahari musim semi, tepatnya itu terjadi
pada jam tiga sore lebih sedikit. Mereka yang bersikeras bahwa hari Sabat
dimulai saat matahari terbenam meyakini bahwa Yahushua diambil dari kayu salib
dan dimakamkan pada saat matahari sudah turun di kaki langit. Waktu Yerusalem
pada tahun itu, matahari terbenam antara pukul 18:59-19:19. Kajian yang
seksama mengungkapkan bahwa adalah tidak mungkin bagi semua hal yang dicatat
dalam Alkitab untuk dapat terjadi dalam tempo empat jam mulai dari waktu setelah
kematian Sang Juruselamat sampai matahari terbenam.

3:07

Yahushua wafat segera setelah jam 3 sore.

Mayat
Yahushua Diminta

“Menjelang malam datanglah
seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid
Yahushua juga. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yahushua. Pilatus
memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya”. (Matius 27:57-58, KJV)

Ada dua
bagian Alkitab yang secara tegas mengungkapkan hari dimulai saat fajar, salah
satunya adalah pada catatan mengenai penyaliban. Namun, karena tradisi dan
kesalahan penerjemahan, ayat-ayat ini dikaburkan oleh mereka yang memaksakan bahwa hari Sabat dimulai saat matahari terbenam.

Tradisi: Orang-orang secara
tradisional telah beranggapan kitab Kejadian pasal 1 mengajarkan bahwa hari dimulai saat matahari terbenam karena kalimat yang sering diulang: “Jadilah petang dan jadilah pagi,
itulah hari [pertama,
kedua, ketiga,
dll]”. Namun, kalimat ini diluar dari
konteks. Dalam pasal pertama Kitab Kejadian, Yahuwah sudah menjelaskan apa yang disebut hari, yaitu: terang! “Berfirmanlah Elohim, Jadilah terang: Lalu terang
itu jadi. Elohim melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu
dari gelap. Dan Elohim menamai terang itu hari dan gelap
itu malam”. (Kejadian
1: 3-5, KJV).

Keluar dari
kegelapan yang tak tertembus sebelum
Penciptaan, hari
pertama Penciptaan dimulai ketika Yahuwah menyatakan, “Jadilah
terang”. Tindakan berikutnya adalah memisahkan terang dari gelap. Dia
kemudian menamai dua hal yang telah dibagi-Nya itu. Yahuwah “menamai Hari itu terang, dan gelap itu malam”. Oleh
karena itu, adalah pemaksaan jika “hari” dimulai dari gelap dan itu adalah upaya menggabungkan apa yang telah dipisahkan Yahuwah.

Ungkapan,
“jadilah petang, dan jadilah pagi, dalam satu hari” harus dipahami dalam konteks terang sebagai “hari” dan berhubungan
dengan cahaya, dan “malam” sebagai
periode gelap.

Kata yang
diterjemahkan “petang” dan diasumsikan salah sebagai waktu-waktu malam berasal dari kata Ibrani, ereb.

Kata ini
merupakan waktu siang sesaat sebelum dan kemudian diikuti terbenamnya matahari. … Ungkapan “pada waktu petang” [sesungguhnya, “diantara waktu petang”]
berarti periode antara matahari terbenam dan waktu gelap,
“senja”.2

Hasil
terjemahan dari kata ini tidak bisa
mengacu pada waktu gelap yang Sang Pencipta sebut
Malam, karena dimulai
sebelum matahari terbenam! Terang
menguasai hari; gelap menguasai malam. Oleh karena itu, jika masih ada sedikit cahaya di langit, masih dianggap sebagai siang hari.

Kesalahan Penerjemahan: Alkitab untuk kedua kalinya
menjelaskan bahwa hari tidak
dimulai saat matahari terbenam, sebagaimana yang dinyatakan, di dalam kisah penguburan Yahushua. Khususnya, ketika Yusuf dari Arimatea pergi
dan meminta tubuh Yahushua kepada Pilatus. Karena hal ini tidak memiliki terjemahan langsung dari kata Yunani, para
penerjemah
memilih untuk menggunakan kata “petang”. Karena kata itu terdengar seperti kata “petang” yang digunakan dalam kitab Kejadian pasal
1, yang telah menghasilkan
kebingungan
dan keyakinan bahwa hari dimulai saat matahari terbenam terus berlanjut.

Namun, hal
ini tidak didukung oleh Alkitab. Bahkan, ayat singkat dalam kitab Matius
ini memberikan
konfirmasi paling jelas bahwa Sabat tidak dimulai saat matahari terbenam. Pikirkan kembali ayat ini: “Menjelang malam, datanglah seorang kaya …
yang bernama Yusuf, yang … pergi menghadap Pilatus, dan meminta mayat Yahushua”. (Matius 27: 57-58).

Kata “petang” di sini berasal dari kata Yunani opsios dan, hal yang sama,
penggunaan umumnya tidak memiliki arti yang serupa dengan kata Ibrani yang digunakan dalam kitab Kejadian pasal 1.
Kata ini berarti: “Waktu
malam … kata ini benar-benar menandakan ‘larut malam’, yang terakhir
dari dua ‘petang’ yang diperhitungkan oleh orang-orang Yahudi, yang
pertama dari pukul 3 sore sampai matahari
terbenam, dan yang terakhir setelah matahari terbenam; ini adalah
arti yang lazim. Namun, keduanya digunakan”.3

Bahkan tanpa
bukti kronologis tambahan, ini saja seharusnya cukup untuk
membuktikan selamanya bahwa Sabat tidak dimulai
saat matahari terbenam karena penggunaan umum dari kata tersebut mengungkapkan bahwa
Yusuf bahkan tidak
mendekati Pilatus untuk
mendapatkan izin untuk
mengambil tubuh Yahushua sampai setelah matahari terbenam!

Namun tujuan dari penelitian ini, bukan
untuk
membuktikan bahwa Yusuf dari Arimatea pergi
menghadap
Pilatus setelah matahari terbenam.
Hal ini untuk menunjukkan kemustahilan
penyelesaian penguburan Yahushua sebelum
matahari terbenam.
Penggunaan
umum kata opsios mengacu pada setelah matahari terbenam. Tetapi karena kata tersebut kadang digunakan untuk periode
waktu dari sore hari sampai matahari
terbenam,
waktu yang lebih awal akan digunakan dalam hal ini. Sekali lagi, ini bukan penggunaan
umum dari kata tersebut, tetapi karena digunakan sesekali untuk merujuk pada
jam sore hari sebelum matahari terbenam, yang akan menjadi titik awal untuk
penelitian kita.

Oleh
karena argumen,
selama penelitian terpendek ini, perkiraan waktu yang paling konservatif selalu dipilih.

Kitab Injil sangat berhati-hati dalam menyembutkan pengikut Sang Juruselamat yang hadir pada waktu kematian-Nya. Baik Yusuf dari Arimatea maupun Nikodemus tidak
tercatat
sebagai orang yang hadir pada waktu itu di setiap
kisah dalam Injil. Kehadiran para pengikut terkemuka ini pasti akan disebutkan jika mereka hadir
pada waktu itu.

Dikarenakan
panjangnya jam-jam pada waktu tahun itu, Yahushua
kemungkinan besar meninggal sekitar pukul 3:10 sore. Akan membutuhkan waktu bagi Yusuf dari Arimatea untuk mengetahui kematian-Nya. Beberapa orang Yahudi yang datang bersukacita atas
kematian Juruselamat kembali ke Yerusalem setelah itu, karena takut dengan kegelapan dan gempa bumi. “Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ
untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil
memukul-mukul diri”.
(Lukas 23:48, KJV). Berita kematian tersebut masih akan
memakan waktu untuk sampai
kepada Yusuf.

Adalah tidak dapat dibantah untuk beranggapan bahwa dibutuhkan setidaknya 45 menit sampai satu jam
atau lebih bagi Yusuf untuk mengetahui Yahushua telah meninggal. Dia
tentu akan
membutuhkan sedikit waktu untuk pulih dari syok dan kesedihan
yang mendalam, dan setelah itu memutuskan suatu tindakan dan
melanjutkannya. Dia bahkan
mungkin,
pada saat itu, telah berkonsultasi dengan
Nikodemus. Kita berbicara tentang hati manusia yang sejati dengan emosi-emosi dan respon-respon manusia
yang sejati. Bahkan
jika Yusuf mengetahui kematian Juruselamat dalam waktu
yang cukup
singkat, adalah tidak realistis untuk menganggap bahwa di menit dia menerima kabar, dia langsung pergi untuk meminta tubuh
Yahushua. Dia akan
menghabiskan setidaknya sedikit waktu
untuk berduka.
Kemudian akan membutuhkan beberapa menit untuk berjalan kaki
dari rumahnya ke tempat Pilatus tinggal. Dia akan tiba di sana tidak lebih awal
dari pukul 4:30 di sore hari.

Yusuf juga mungkin
menjadi seorang
Yahudi yang berpangkat tinggi, namun Pilatus masih berpangkat lebih tinggi darinya. Akan dibutuhkan beberapa menit bagi penjaga untuk mengirim permintaan
Yusuf kepada Pilatus dan kembali dengan jawaban, bahwa Pilatus menyetujuinya.

Dengan memperkirakan secara konservatif bahwa Yusuf pergi
menghadap Pilatus
sekitar pukul 4:30 sore, waktu tercepat yang dia habiskan ketika menghadap Pilatus—dan ini agak terburu-buru—yaitu pukul 4:45 sore.

4:45

Paling cepat Yusuf akan dapat bertemu Pilatus pada jam 4:45 sore, dan mungkin lebih lambat.

Pilatus terkejut dan tidak percaya

Mati oleh
penyaliban adalah kematian yang lambat dan menyakitkan. Justru dari kata “menyalibkan” ini sehingga kita mendapatkan kata “menyiksa”, menandakan penderitaan yang sangat intens. Biasanya dibutuhkan beberapa hari untuk otot pada akhirnya ambruk dan korban mati karena sesak napas. Namun, Yahushua tidak
mati karena sesak napas. Dia mati karena jantung
yang pecah.

Pilatus
tidak mengetahui hal ini. Sehingga, ketika Yusuf meminta izin untuk
mengambil tubuh Yahushua, “Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yahushua sudah mati”. (Markus 15:44, NKJV). Dengan terus terang, Pilatus tidak percaya bahwa ada orang bisa mati dari penyaliban dengan begitu cepat. Dia “memanggil
kepala pasukan dan
bertanya kepadanya apakah Yahushua
sudah mati. Sesudah didengarnya keterangan
kepala pasukan, dia berkenan memberikan mayat itu kepada
Yusuf”. (Markus 15: 44-45, Alkitab Jenewa thn. 1599).

Ini membutuhkan beberapa waktu. Pilatus tidak
tinggal di Yerusalem. Dia tinggal di Kaisarea. Catatan-catatan menunjukkan bahwa dia hanya datang ke Yerusalem pada
saat perayaan-perayaan nasional ketika orang-orang Yahudi
diketahui ada kemungkinan berbuat rusuh. Penemuan-penemuan arkeologi baru-baru ini menolak skenario yang disarankan sebelumnya bahwa Pilatus tinggal di Benteng Antonia dan menunjukkan
bahwa jauh lebih mungkin Pilatus adalah tamu dari Herodes Antipas di istana
yang dibangun oleh Herodes Agung.

Bentuk Istana Herodes

Bentuk Istana Herodes, tempat dimana Pilatus diyakini tinggal sebagai seorang tamu dari Herodes Antipas.

Mendapatkan persetujuan memasuki istana untuk berbicara kepada Pilatus mungkin membutuhkan waktu lebih dari 15 menit dalam penelitian ini. Pastinya pada saat Yusuf diantar masuk untuk menghadap Pilatus, mereka saling menyapa sesuai dengan adat-istiadat
orang Timur, menyatakan
permintaannya, mendengarkan pertanyaan-pertanyaan Pilatus, kemudian mendengarkan lagi
saat Pilatus memerintahkan
untuk seorang utusan dikirim kepada perwira yang bertugas di
Golgota, lebih banyak waktu akan berlalu. Paling lambat jam 5 sore, dan lebih mungkin jam 5:15 sore, atau
bahkan lebih lambat, tergantung kapan Yusuf tiba dan mulai meminta izin untuk dapat menghadap Pilatus.

Namun, oleh
karena asumsi, kita akan menganggap itu terjadi pada jam 5 sore.

Tempat
penyaliban adalah sekitar 1 kilometer (atau kurang dari satu mil) dari istana Herodes4. Seorang perwira yang sehat dapat menempuh jarak ini dalam hitungan menit, terutama jika dia menunggangi kuda. Tapi harus diingat bahwa kepala pasukan itu akan diperlambat oleh banyaknya peziarah yang memadati Yerusalem
untuk merayakan Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi. Pada saat itu (1) seorang
utusan dipanggil, diberikan
sebuah pesan dan
diutus, (2) mencari jalannya sendiri untuk melewati rakyat banyak, (3) menyampaikan pesan, (4) Kepala pasukan itu memberi perintah-perintah dan menunjuk tentara lain untuk tetap bertugas selama dia pergi, (5) dan kemudian
perwira itu mencari jalan sendiri kembali melalui orang banyak, saat itu waktu
akan cenderung menunjukkan setidaknya jam 5:15 sore.

5:15

Sampai waktu dimana prajurit tiba untuk menjawab pertanyaan Pilatus, itu sudah setidaknya akan terjadi pada jam 5:15 sore.

Pilatus mengizinkan Yusuf untuk
mengambil mayat

Sesudah
didengarnya keterangan kepala pasukan, dia berkenan memberikan mayat itu kepada
Yusuf.
” (Markus 15:45)

Adalah
mustahil untuk
mengetahui apakah Pilatus hanya memberi perintah lisan kepada kepala pasukan untuk melepaskan mayat Yahushua untuk
diberikan kepada Yusuf dari
Arimatea, atau apakah dia menulis perintah pada kertas dari kulit. Terlepas
dari itu, pada saat itu kepala pasukan diizinkan masuk, menjawab pertanyaan-pertanyaan Pilatus, meyakinkannya tentang kematian Juruselamat, Pilatus memberikan izin, dan Yusuf berangkat, waktu tercepat yang telah berlalu setidaknya 15 menit, sehingga waktu menjadi jam 5:30 sore. Jika
Pilatus mengutus seorang juru tulis untuk menulis
perintah, dan memeterainya dengan cincin materainya, itu akan
menunda kembali keberangkatan Yusuf dari istana sekitar minimal 15 menit.

5:30

Yusuf tidak akan meninggalkan Pilatus sebelum jam 5:30 sore.

Rute langsung dari Istana Herodes ke Golgota

Golgota sekitar 1 kilometer
jauhnya dari Istana Herodes. Siapapun yang melintasi jarak ini akan diperlambat oleh kerumunan para pengunjung yang berkumpul untuk perayaan Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi.

Yusuf mempersiapkan pemakaman

Sesudah
didengarnya keterangan kepala pasukan, dia berkenan memberikan mayat itu kepada
Yusuf
. Yusuf pun membeli kain lenan …” (Markus 15:45-46,
KJV
)

Yusuf tidak
segera bergegas ke Golgota. Dia bahkan tidak tahu apakah dia akan mendapatkan
izin untuk mengambil mayat penjahat yang dihukum.
Setelah mendapat izin, dia melakukan hal berikut:

  1. Dia
    kembali ke rumah untuk memberikan perintah kepada para hambanya untuk mulai mengumpulkan bersama-sama alat-alat dan perlengkapan yang
    dibutuhkan untuk menurunkan
    mayat Yahushua dari kayu
    salib, membawanya ke tempat pemakaman, dan kemudian membersihkan dan mempersiapkan
    untuk dimakamkan.
  2. Dia
    mungkin mengirim pesan kepada Nikodemus, karena Nikodemus diketahui akan datang membawa rempah-rempah untuk pemakaman.
  3. Dia pergi
    (atau menyuruh seorang hambanya untuk pergi) dan membeli kain lenan
    untuk pemakaman. (Markus 15:46)

Saat beberapa orang
mungkin
mempertanyakan tentang bagaimana Yusuf dapat membeli alat-alat pemakaman di akhir sore pada hari
Paskah, ada tiga poin penting yang
perlu diingat. Tiga poin penting ini berlaku untuk skenario tersebut jika penggunaan umum dari kata opsios diterima, yang menunjukkan
bahwa Yusuf pergi menghadap Pilatus setelah matahari terbenam.

  1. Paskah
    adalah hari kerja
  2. Entah
    toko-toko yang masih terbuka; atau,
  3. Dia mampu
    melacak pemilik toko yang tidak akan ragu untuk menjual beberapa dagangannya, bahkan di malam hari, karena persyaratan pemakaman yang ketat dari orang-orang Yahudi yang mengharuskan
    segera dikubur.

Adalah
mungkin bahwa Yusuf
dapat membeli kain pemakaman setelah matahari terbenam.
Orang-orang Yahudi, selalu dikenal tentang
usaha mereka yang tak ada henti-hentinya untuk menghasilkan uang, tentu
akan masih membuka toko
setelah
matahari terbenam. Dalam kitab Amos pasal 8, orang-orang Yahudi tidak dikecam karena
menjual di malam hari. Sebaliknya, mereka telah dikecam karena ingin mempercepat berlalunya jam-jam suci hari
Sabat.

Kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan
yang membinasakan orang sengsara di negeri ini, dan berpikir: “Bilakah bulan baru berlalu,
supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh
menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang
dengan neraca palsu?. (Amos 8: 4,5, KJV)

Perhatikan
bahwa jika semua toko secara rutin ditutup saat matahari terbenam, tidak
akan ada
keinginan untuk buru-buru
mengakhiri jam-jam suci karena semua akan tahu bahwa mereka tidak
bisa membuka toko sampai hari berikutnya.

Bukit tengkorak Golgota

Golgota, bukit berbentuk tengkorak, terletak sekitar 1 kilometer dari Istana Herodes.

Namun, jika toko-toko ditutup, Yusuf akan melacak orang-orang yang menjual kain kafan di
rumah mereka. Di banyak negara, bahkan sampai hari ini, pemilik-pemilik toko tinggal di atas atau di belakang
toko mereka. Ini tidak akan menjadi hal yang sulit baginya untuk membeli kain
pemakaman bahkan di akhir sore hari atau malam. Tapi ini akan masih membutuhkan lebih banyak waktu karena penjaga toko akan merayakan (atau
bersiap-siap untuk merayakan) Paskah dengan keluarga dan teman-teman. Dengan beranggapan bahwa Yusuf tahu persis kemana harus pergi dan tidak perlu membuang waktu dengan berputar-putar mencari toko di jalan, namun
langsung menuju ke toko, itu juga akan membutuhkan waktu. Yerusalem bukanlah kota yang
moderen, yang ditata dengan luas dan dengan jalan-jalan raya yang lurus. Yerusalem memiliki jalan-jalan yang sempit, berliku-liku, dan penuh sesak dengan
kios-kios dan peziarah.

Golgota
hanya berjarak beberapa ratus meter di luar pintu gerbang kota. Namun, Golgota berjarak satu kilometer dari istana Herodes. Jika seseorang menambahkan jarak satu
kilometer tersebut dari jarak-jarak tambahan yang dijalani oleh Yusuf saat dia
kembali ke rumahnya, pergi mencari dan membeli kain pemakaman, kembali ke rumah untuk mengumpulkan sisa dari apa yang
diperlukan, pergi ke pintu gerbang kota, itu semua menambah akumulasi
berlalunya waktu.

Dari saat
Yusuf pergi meninggalkan Pilatus, hingga saat dia berangkat ke Golgota, setidaknya dua jam akan berlalu, bahkan mungkin lebih. Adalah
wajar jika menganggap bahwa Yusuf dan Nikodemus kemungkinan besar bertemu di
pintu-pintu gerbang
kota dan melanjutkan
perjalanan ke Kalvari
bersama-sama. Dengan menambahkan kegiatan lain yang
terjadi sejak Yusuf pertama kali pergi menghadap Pilatus, ini akan membawa dia, paling
cepat, sekitar
jam 7:30 malam saat dia mulai keluar
menuju Golgota
dengan hamba-hambanya dan mungkin dengan satu atau dua keledai untuk membawa perlengkapan yang diperlukan.

Ketika hambatan-hambatan yang terlibat dalam proses ini dengan cermat dipertimbangkan, secara cepat menjadi jelas bahwa adalah mustahil untuk melakukan pemakaman pada saat matahari terbenam (antara pukul 18:59-19:19). Oleh karena itu, jika kita mengasumsikan waktu paling cepat dan terpendek yang memungkinkan, maka matahari
sudah terbenam saat Yusuf
meninggalkan kota tersebut.

7:30

Yusuf, dengan para hamba dan perlengkapannya, akan meninggalkan Golgota setelah matahari terbenam.

Menurunkan Mayat Yahushua

“… kemudian
dia menurunkan mayat Yahushua
…” (Markus 15:46, KJV)

Tidak akan membutuhkan waktu lama bagi Yusuf, Nikodemus dan hamba-hamba
itu untuk
mencapai Golgota. Lagi pula, situasinya sudah terkondisi di sepanjang jalan utama masuk Yerusalem. Setibanya di sana dengan izin Pilatus untuk menurunkan mayat Yahushua, mereka akan menjadi sibuk.

Beberapa
saat setelah Yahushua meninggal, orang-orang Yahudi mengamati proses-prosesnya dan memutuskan bahwa tidak ada satu pun mayat
yang boleh berada di atas salib karena hari
berikutnya adalah hari Sabat dan hari pertama Hari Raya Roti Tidak Beragi.

Karena hari itu
hari persiapan dan supaya pada hari Sabat
mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib (sebab Sabat itu adalah hari yang besar) maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu
dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. Maka datanglah prajurit-prajurit lalu
mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan
bersama-sama dengan Yahushua. Tetapi ketika mereka sampai kepada
Yahushua dan melihat bahwa Dia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya. (Yohanes 19: 31-33, KJV)

Ayat ini masih memberikan bukti tambahan
bahwa Sabat tidak bisa dimulai saat matahari terbenam. Perhatikan fakta-fakta berikut:

  1. Pilatus terkejut ketika mendengar ada orang yang bisa mati begitu cepat melalui penyaliban, sehingga dia memanggil seorang kepala
    pasukan yang bertanggung jawab atas
    eksekusi itu untuk bertanya kepadanya.
  2. Kepala pasukan itu mengkonfirmasi kematian Yahushua.
  3. Orang-orang Yahudi telah
    pergi menghadap Pilatus untuk meminta izin untuk mematahkan kaki orang yang dihukum itu sebelum Yusuf pergi menghadap dia, gubernur tidak perlu memanggil kepala pasukan untuk mengkonfirmasi kematian
    Yahushua. Dia pasti sudah mengetahui bahwa Yahushua sudah mati karena sesak napas
    yang disebabkan oleh kaki
    yang patah.

Dekat tempat di mana Yahushua disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.

Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yahushua ke situ.

(Yohanes 19:41-42, KJV)

Dengan
demikian, orang-orang
Yahudi pergi menghadap Pilatus untuk meminta izin untuk mempercepat kematian dua tahanan lainnya5. Yusuf telah
menerima izin untuk mengambil mayat
Yahushua. Mereka kemungkinan besar menyampaikan permintaan mereka kepada Pilatus ketika Yusuf sedang
berkoordinasi
dengan Nikodemus untuk pemakaman Yahushua.

Menurunkan
tubuh Juruselamat dari salib akan menjadi
tugas yang melelahkan dan
memakan
waktu. Alkitab mencatat bahwa tidak ada tulang Yahushua yang patah, sesuai dengan nubuat. Yusuf, Nikodemus dan hamba-hamba mereka, akan sangat berhati-hati
saat melepaskan tubuh Yahushua, namun meskipun demikian, itu bukanlah tugas yang mudah untuk melepaskan paku-paku yang begitu besar, yang
tertancap jauh ke
dalam kayu. Bahkan, para arkeolog memiliki tulang-tulang yang utuh dalam sebuah osuarium (kotak
tulang) yang masih berisi paku. Jelas, siapa pun yang mengubur mayat tersebut tidak mampu melepaskan paku itu atau, setidaknya, dianggap sebagai usaha yang sia-sia.

Yusuf dan
Nikodemus akan menghabiskan berapa
lama pun waktu yang
diperlukan untuk dengan sangat hati-hati, penuh hormat menurunkan mayat Yahushua dari kayu salib. Mereka tidak
terburu-buru untuk pergi makan makanan Paskah. Mereka terlibat dalam peristiwa yang paling penting dalam hidup mereka. Lalu, mereka menyuruh hamba-hamba mereka untuk membawa mayat Yahushua ke Taman
Makam, yang
dekat. Ini mungkin memakan waktu satu jam untuk menyelesaikannya, hingga
diperoleh waktu jam 8:30 malam.

8:30

Menurunkan mayat tanpa membuatnya semakin rusak merupakan sebuah pekerjaan yang rumit.
Hal ini akan membuat mereka selesai menurunkan mayat setidaknya pada jam 8:30 malam.

Membersihkan
Mayat Yahushua untuk dikuburkan

“Dan sesudah dia menurunkan mayat itu, dia mengapaninya
dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam
bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat
.” (Lukas 23:53, KJV)

Mempersiapkan
mayat untuk penguburan selalu memakan waktu. Dengan
penganiayaan berat yang diderita oleh Sang Juruselamat sebelum kematian, dipadu dengan ritual-ritual
dari proses
penguburan orang Yahudi, itu bahkan
akan memakan waktu yang lebih lagi. Yusuf,
sebagai orang yang sangat kaya, memiliki sebuah makam yang baru digali
yang disiapkan untuk istri dan dirinya sendiri di sebuah
taman yang tenang. Di dalam lokasi makam tersebut terdapat kolam air yang sangat besar untuk penampungan air hujan. Mereka memiliki persediaan air yang banyak, tetapi itu masih akan menjadi tugas yang sangat lama dan sulit untuk membersihkan mayat yang terluka dan rusak. Setiap satu ember air harus
diturunkan dan diangkat; rambut dan bagian yang tersisa dari jenggot, dicuci. Ritual pembersihan jauh lebih lama dari bilasan yang cepat. Tingkat pembersihan yang dibutuhkan kemungkinan akan mengharuskan setidaknya
dua jam. Karena hal ini, itu akan menjadi sekitar jam 10.30 malam.

10:30

Membersihkan mayat pasti sulit, membuat waktu berlalu sampai jam 10:30 malam.

Membungkus mayat Yahushua untuk dikuburkan

Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang
mula-mula datang waktu malam kepada
Yahushua.
Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati
beratnya. Mereka mengambil mayat Yahushua, mengapaninya dengan kain lenan dan
membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan
mayat
“. (Yohanes 19: 39-40, KJV)

Taman Makam

Taman Makam

Setelah mayat itu dibersihkan
secara menyeluruh, pekerjaan sulit mengikat mayat dengan kain-kain pengikat dan rempah-rempah masih harus dilakukan. Tidak seperti mayat-mayat yang ditempatkan di dalam peti
mati di dunia barat, tidak ada satu
pun bagian
tubuh yang menyentuh bagian lain. Lengan dan kaki semua harus terikat dengan kain yang memisahkannya. Tangan dan kaki biasanya diikat dengan kain secara terpisah seperti wajah. Ini merupakan praktik umum yang dapat disimpulkan
dari keterangan yang diberikan dalam Alkitab tentang Lazarus setelah kebangkitan-Nya: “Orang yang telah mati datang ke luar, kaki dan tangannya
masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yahushua
kepada mereka, bukalah kain-kain itu dan biarkan dia pergi”. (Yohanes 11:44, KJV)

Dalam
pemikiran orang Yahudi,
proses penguburan sangat penting. Jika tubuh mayat tidak benar
dikubur, individu dianggap dikutuk oleh Yahuwah. Oleh karena itu, proses
mengubur mayat, terutama untuk
seseorang yang dikasihi, akan menjadi proses yang menyeluruh dan sangat hati-hati.

Tidak semua
orang dikuburkan terbungkus dengan rempah-rempah. Hanya raja dan orang yang sangat kaya yang mampu melakukan pembalseman rempah-rempah. Raja
Hizkia menyimpan rempah-rempah di dalam rumah harta
karunnya. Rempah-rempah itu dianggap sebagai bagian dari
kekayaannya. “Rempah-rempah yang disebutkan sebagaimana yang
digunakan oleh Nikodemus untuk persiapan mayat
Tuan kita, Yoh
19: 39,40 adalah ‘mur dan gaharu’, dimana kata yang terakhir
harus dipahami bahwa bukan gaharu
untuk pengobatan, tetapi kayu yang
sangat wangi dari
kelas agallochum Aquilaria.”6 Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa nilai rempah-rempah yang
dibawa oleh Nikodemus adalah lebih dari $200.000 dollar di pasar zaman sekarang.7

“Rempah-rampah seberat lima puluh
kati”
adalah jumlah yang sangat besar dari rempah-rempah yang sangat
mahal! Mur adalah suatu cairan. Gaharu adalah bubuk. Ritual
membungkus mayat dengan rempah-rempah jauh lebih dari sekedar membuat mumi secara kilat, dengan segenggam dupa yang dilemparkan ke dalamnya. Setiap bagian dari tubuh harus
dibungkus secara individual dalam beberapa lapisan. Campuran rempah-rempah cair
dan bubuk diaplikasikan pada
setiap
lapisan, dengan hati-hati dan penuh hormat. Itu
adalah proses yang sangat memakan waktu.

Pembungkusan mayat yang teliti dengan rempah-rempah, dapat
memakan waktu hingga dua jam
(jika tidak lebih) untuk menyelesaikannya. Sehingga akumulasi waktu akan membawa mereka hingga tengah
malam.

12:30

Membungkus mayat dengan rempah-rempah adalah sebuah proses yang sangat menguras waktu.

Mereka akan selesai melakukan itu setidaknya setelah pukul 00:30 malam.

Pemakaman

“Dan sesudah dia menurunkan mayat itu, dia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di
dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan
mayat
.” (Lukas 23:53, KJV)

Ketika mayat tersebut sudah selesai dibungkus, hanya akan membutuhkan beberapa menit untuk akhirnya
meletakkan mayat itu di dalam kubur. Mengguling batu ke tempatnya, melepaskan kain yang berlumuran
darah, dan mengumpulkan alat yang digunakan untuk melepaskan Sang Juruselamat dari kayu
salib, tidak
akan memakan waktu yang sangat lama. Saat jam 12:50 malam, keadaan memilukan akan mengantarkan langkah-langkah lelah menuju ke rumah.

12:50

Mereka, baik para pria maupun para perempuan akan kembali ke Yerusalem sekitar pukul 12.50 malam.

Rute para perempuan pulang dari taman makam

Para perempuan akan membutuhkan waktu sekitar 15 sampai dengan 20 menit untuk kembali dari Taman Makam.

Para Perempuan

“Dan perempuan-perempuan yang datang
bersama-sama dengan Yahushua dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana
mayat-Nya dibaringkan. Dan setelah
pulang, mereka menyediakan rempah-rempah
dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat”. (Lukas 23: 55-56, KJV).

Dalam budaya-budaya Timur Tengah, anggota-anggota keluarga adalah orang-orang yang harus mempersiapkan mayat-mayat untuk dimakamkan. Perempuan-perempuan dari keluarga tersebut mempersiapkan mayat jika yang meninggal adalah seorang perempuan, sementara anggota keluarga
laki-laki mempersiapkan mayat jika yang meninggal adalah seorang laki-laki. Berbagai sumber menyatakan
bahwa Yusuf dari Arimatea adalah anggota keluarga Yahushua, sehingga hal yang logis jika dia terlibat
dalam penguburan Sang Juruselamat.

Sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Suci,
perempuan-perempuan tinggal di belakang dan tidak terlibat dalam proses penguburan. Mereka juga sangat ingin melakukan sesuatu untuk penguburan tersebut, tetapi mempersiapkan mayat untuk
penguburan adalah pekerjaan laki-laki. Sebagai
gantinya, mereka
menyaksikan dari jarak tertentu
dengan penuh hormat, menentukan dan mengumpulkan rempah-rempah dan minyak untuk
mengurapi mayat setelah
mayat itu
dibungkus.

Setelah batu
itu digulingkan ke tempatnya, tidak ada
lagi yang harus dilakukan di makam. Perempuan-perempuan kembali ke rumah, mungkin menemani para laki-laki untuk perlindungan. Ini bukan
perjalanan yang terburu-buru. Mereka telah terjaga sepanjang malam. Mereka secara mental, emosional, dan
fisik kelelahan. Tentu saja, tidak ada cara untuk menentukan
secara tepat di mana perempuan-perempuan
tersebut tinggal, tetapi
jika mereka tinggal di sekitar ruang
umum bagian atas,
mereka berjarak kira-kira satu kilometer dari makam. Jika
mereka tinggal di kota bagian
bawah, butuh waktu lebih lama untuk kembali ke rumah. Pergi dengan jarak
yang lebih pendek, bagaimanapun, itu akan memakan waktu sekitar 15-20 menit untuk melintasi jarak yang melelahkan dari kubur ke rumah
mereka.

Bentuk kota Yerusalem

Tempat Ruangan Atas berada pada sudut kanan bawah dari gambar bentuk Yerusalem kuno ini. Perlu dicatat juga bahwa Istana Herodes berada di kiri atas.

Perempuan-perempuan mungkin telah menggunakan waktu tersebut untuk mendiskusikan rangkaian tindakan mereka
selanjutnya. Mereka
ingin untuk mengurapi mayat Tuan mereka yang tercinta.
Mereka juga ingin melakukan beberapa tindakan kecil untuk memuliakan-Nya. Setelah kembali ke rumah
mereka, mereka membuat dengan tekun campuran rempah-rempah pengurapan yang mereka telah sediakan. Lukas mengatakan bahwa perempuan-perempuan “menyediakan rempah-rempah dan
minyak”. Namun, Alkitab
menjelaskan secara jelas bahwa, ketika mereka membandingkan dan meracik apa yang ada di tangan mereka, mereka menyadari bahwa mereka tidak memiliki
jumlah yang cukup. Tidak ada yang bisa dilakukan pada saat itu karena hari
Sabat akan dimulai karena matahari
telah terbit. Oleh
karena itu, “pada hari
Sabat mereka beristirahat
menurut hukum Taurat”. (Lukas 23:56).

Setelah hari
Sabat berlalu dan kios-kios pasar dibuka kembali
untuk bisnis, perempuan-perempuan itu “membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki
Yahushua”.
(Markus 16: 1, KJV). Meskipun mereka sangat ingin kembali ke makam untuk meminyaki mayat Yahushua, mereka menunggu. Mereka
tidak bisa membeli rempah-rempah tambahan yang mereka butuhkan sampai Sabat berlalu. Mereka tahu cara terbaik untuk
menghormati Dia adalah menaati-Nya. Dia mengatakan, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala
perintah-Ku.”
(Yohanes 14:15, NKJV). Mereka menaati hari Sabat untuk menghormati
“Tuan atas hari Sabat” itu.

Sebagaimana yang dinyatakan sebelumnya, adalah
wajar untuk mengasumsikan bahwa perempuan-perempuan
itu kembali ke
Yerusalem bersama para laki-laki. Dengan memungkinkan 15 menit untuk
perjalanan pulang, ini akan membuat mereka kembali ke rumah sekitar jam 1:05 malam. Perempuan-perempuan itu kembali ke rumah mereka masing-masing, melihat persediaan yang mereka miliki, lalu berkumpul sekali lagi untuk berkonsultasi tentang apa saja pasokan mereka yang masih kurang yang harus dibeli setelah hari Sabat berlalu. Karena ini adalah tengah malam,
jelas tidak akan ada toko-toko terbuka. Dengan
berbicara secukupnya, ini akan memakan waktu minimal satu jam, sehingga waktu menjadi pukul 02:00 malam.

2:00

Dengan perkiraan waktu zaman dulu, para perempuan baru akan menghentikan persiapan mereka pada sekitar jam 2 malam.

Sabat saat fajar

Hari itu adalah hari persiapan
dan
Sabat hampir mulai.” (Lukas 23:54, KJV)

Kumpulan
catatan Injil tentang kematian
dan penguburan Yahushua sangat singkat. Alkitab hanya memberi petunjuk banyaknya waktu yang terlibat dalam proses
penguburan. Namun, ketika daftar kejadian diambil, langkah demi langkah, ketika
kata-kata penting yang dicari
dalam bahasa Yunani,
fakta-fakta menjadi jelas: penguburan Yahushua tidak bisa terjadi sebelum
matahari terbenam. Jika penggunaan
yang lebih umum
dari opsios diterima, butuh waktu
hampir sepanjang malam! Segala sesuatu yang terjadi selama jam-jam malam dianggap sebagai bagian dari hari keenam dalam
seminggu dan disebut hari persiapan. Menurut Injil
Lukas, mereka tidak selesai sampai hari berikutnya ketika hari Sabat dimulai
yaitu saat fajar.8 Meskipun hal ini tidak
jelas dalam terjemahan bahasa Inggris, bahasa Yunani yang asli
menetapkan ini tanpa pertanyaan.

Ungkapan yang diterjemahkan “hampir mulai” dalam ayat ini, adalah kata Yunani, … (epiphosko). Definisinya mencengangkan: “mulai bertambah terang. – mulai fajar”9

Ini adalah bentuk #2017, … (epiphauo), yang berarti “menerangi
… memberikan terang.”10 Karena mereka menunggu dari petang hingga malam untuk memulai
proses meminta izin untuk mengambil mayat
tersebut, menurunkankannya, membersihkan dan membungkusnya, dll,. itu membawa mereka pada jam-jam malam untuk melakukan pekerjaan mereka. Mereka belum selesai sampai hari Sabat dimulai pada saat terang mulai bertambah.11

The New Strong’s Expanded
Dictionary of Bible Words
menguraikan tentang definisi ini, menyatakan epiphosko “bermakna mendekatnya hari Sabat.”12 Jika kata tersebut digunakan dalam hubungannya dengan mendekatnya hari Sabat, dan jika
kata itu sendiri berarti “mulai
menyingsingnya fajar”, kesimpulannya
adalah jelas: Sabat dimulai saat fajar merekah, bukan saat terbenamnya matahari dan saat gelap gulita.

Di
Yerusalem, pada zaman itu matahari terbit terjadi antara pukul 5:54 – 6:27. Namun,
fajar-permulaan terang- bahkan muncul lebih awal. Waktu fajar astronomi di
Yerusalem untuk bulan April terjadi antara jam 5:05 (awal bulan) dan jam 4:25 (di
akhir bulan saat hari-hari memanjang menuju titik balik matahari musim panas).

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, perkiraan waktu tersingkat itu sengaja
dipilih untuk penelitian ini. Tidak perlu membuat-buat rintangan-rintangan
waktu yang terlibat. Entah seluruh proses bisa diselesaikan sebelum matahari
terbenam atau tidak bisa. Dengan asumsi Yusuf meminta izin untuk mengambil mayatsebelum matahari terbenam, membawa kita sekarang pada saat perempuan-perempuan
mempersiapkan rempah-rempah untuk pengurapan. Mereka akan menyadari bahwa
mereka tidak memiliki cukup rempah-rempah dan tidak ada cara untuk membeli
lebih banyak di waktu tengah malam. Mereka menunda upaya-upaya mereka sampai
mereka bisa membeli lebih banyak pada saat hari Sabat telah berlalu. Berdasarkan
perhitungan kami, ini sekitar tujuh jam setelah matahari terbenam. Kendati
demikian, hebatnya, perkiraan konservatif kami sekitar empat jam. Dengan kata lain,
Alkitab menjelaskan bahwa prosesnya benar-benar memakan lebih banyak waktu
daripada waktu yang diperkirakan dalam penelitian ini!

Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Sabat dimulai saat fajar karena mereka
menunda persiapan-persiapan mereka. Oleh karena itu, pada saat pekerjaan
penguburan orang-orang itu selesai, mereka kembali ke Yerusalem, perempuan-perempuan
telah mengumpulkan rempah-rempah urapan mereka dan menyadari bahwa mereka
membutuhkan lebih banyak rempah-rempah, adalah sebenarnya mendekati jam 5 pagi!
Sabat, tanggal 15 bulan Abib, tiba dengan fajar dan perempuan-perempuan beristirahat menurut
hukum Taurat.

5:00

Alkitab menyatakan bahwa keseluruhan proses itu berakhir
pada saat fajar mulai merekah pada hari Sabat, atau sekitar pukul 5 pagi!
Daftar kegiatan ini sesungguhnya dilakukan sepanjang malam.

Kebangkitan

“Setelah lewat hari Sabat, Maria
Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi
ke kubur dan meminyaki Yahushua. Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu
itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur” (Markus 16: 1-2,
KJV).

Dalam hal ini, masih ada satu konfirmasi terakhir bahwa hari dimulai dengan fajar,
bukan matahari terbenam: “Setelah hari Sabat lewat, menjelang
menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan
Maria yang lain, menengok kubur itu”. (Matius 28: 1, KJV). Ungkapan menjelang
menyingsingnya fajar” berasal dari kata yang sama persis seperti yang
digunakan dalam Lukas 23:54 untuk menunjukkan bahwa hari Sabat “hampir
mulai” saat perempuan-perempuan itu mengesampingkan persiapan-persiapan
mereka karena hari Sabat hampir hampir dimulai. Ini berarti, “mulai bertambah terang: – Mulai fajar”13

“Menjelang” adalah sebuah kata yang menunjukkan pergerakan ke arah
sesuatu. Ini adalah terjemahan yang baik dari kata Yunani, eis, yang juga mengungkapkan gerakan dan menunjukkan sebuah titik
yang dicapai.14 Kata ini tidak akan digunakan jika Hari Pertama dimulai
saat matahari terbenam pada malam sebelumnya. Kata itu hanya digunakan saat cahaya
“fajar memulai hari pertama minggu itu” dimana hari dimulai.

Jika orang-orang Yahudi memulai hari mereka saat matahari terbenam, mereka akan
mulai setiap hari saat matahari terbenam, termasuk hari pertama minggu itu.
Namun, Matius 28: 1 jelas menyatakan bahwa setelah lewat hari Sabat (itu
berakhir dengan berlalunya terang pada malam sebelumnya) karena terang mulai merekah pada hari pertama minggu itu, (hari pertama minggu itu belum dimulai
saat matahari terbenam malam sebelumnya), perempuan-perempuan kembali ke kubur untuk
meminyaki mayat Yahushua. Ini adalah Hari Raya Buah Pertama, pada tanggal 16
bulan Abib.

Dia tidak ada di sini! Dia telah bangkit!

Dia tidak di sini! Dia telah bangkit!

“Singkapkanlah mataku, supaya aku
memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.” (Mazmur 119: 18, KJV)

Hikmat kemahatahuan Yahuwah secara sengaja merancang kematian Anak-Nya yang
tunggal dalam setiap bagiannya. Kemahatahuan-Nya tahu bahwa kebenaran hari
Sabat akan tersembunyi selama hampir 2.000 tahun. Tindakan yang paling terakhir
dari kehidupan yang egois untuk meninggalkan catatan kronologi peristiwa-peristiwa
yang, ketika dipelajari dengan hati-hati, dapat menunjukkan kepada orang-orang
percaya dari generasi terakhir kebenaran tentang kapan hari Sabat dimulai.

Penganut Sabat hari Sabtu yang menaati hari Sabat dari matahari terbenam pada Jumat
malam sampai matahari terbenam pada Sabtu malam, ingin menyesuaikan seluruh
kronologi peristiwa antara kematian Yahushua tak lama setelah jam 3 sore dan matahari
terbenam sekitar pukul 7 malam – kurang dari empat jam! Namun, ini adalah pekerjaan
yang mustahil. Seperti yang ditunjukkan, perkiraan waktu paling konservatif
mengungkapkan proses akan menyita waktu sembilan jam paling sedikit! Dan,
sebagaimana yang dibuktikan berdasarkan waktu-waktu untuk fajar astronomi, seluruh
proses benar-benar menyita waktu lebih lama dari yang diperkirakan.

Tidak ada
cara yang sesuai dalam segala sesuatu yang terjadi dalam rentang waktu empat
jam. Lebih lanjut, dengan melakukan hal tersebut bertentangan dengan
fakta-fakta berikut sebagaimana yang diuraikan oleh Kitab Suci:

  1. Jika penggunaan
    umum dari kata opsios diterima,
    Yusuf dari Arimatea tidak bisa mendekati Pilatus untuk meminta izin
    mengambil mayat itu sampai setelah
    matahari terbenam. (Matius 27: 57-58). Bahkan jika Yusuf pergi ke Pilatus
    sebelum matahari terbenam, masih tidak mungkin untuk menyesuaikan seluruh
    kronologi kejadian menjadi sesempit empat jam.
  2. Setelah menerima izin untuk menguburkan mayat itu, Yusuf
    pergi untuk membeli kain
    penguburan. (Markus 15:46)
  3. Proses penguburan tersebut begitu panjang, Alkitab
    menyatakan hari baru sudah mulai saat fajar karenanya perempuan-perempuan
    mengesampingkan persiapan-persiapan mereka dan beristirahat selama hari
    Sabat. (Lukas 23:54)
  4. Setelah lewat hari Sabat, perempuan-perempuan itu pergi
    dan membeli lebih banyak rempah-rempah yang digunakan untuk meminyaki mayat.
    (Lukas 23:56 dan Markus 16:1).
  5. Perempuan-perempuan itu kembali ke kubur karena hari
    itu “fajar mulai menyinsing pada hari pertama minggu itu.”
    (Matius 28:1).

Kronologi
kejadian kematian dan penguburan Yahushua dengan teguh menetapkan fakta bahwa
hari menurut Alkitab, dan Sabat hari ketujuh, dimulai saat fajar, bukan saat
matahari terbenam. Ini adalah saatnya untuk menanggalkan kesalahan-kesalahan
dari tradisi dan asumsi dan menyambut jam-jam kudus Sabat sebagaimana yang dimaksud:
dari datangnya cahaya saat fajar, sampai cahaya pergi di waktu malam. Yang lainnya
hanyalah tradisi berdasarkan asumsi yang salah.

WLC menantang semua orang yang masih terus berpegang teguh pada pemeliharaan hari Sabat dari matahari terbenam sampai matahari terbenam untuk menyampaikan urutan kejadian lain untuk membuktikan posisi mereka. Urutan kejadian itu tentu harus terlaksana di antara waktu kematian Yahushua sesaat setelah jam 3 sore sampai matahari terbenam, pada sekitar jam 7 malam. Nyatakan waktu, jarak dan urutan kejadiannya. Jika itu adalah kebenaran, itu bisa dibuktikan. Jika tidak, saatnya untuk menguji kembali pemahaman yang sudah kuno.

Kontent Terkait:


1 Merriam-Webster
Dictionary

2 The
New Strong’s Expanded Dictionary Of Bible Words
, 2001 ed.,
#6153, penekanan diberikan.

3 Ibid.,#3798,
penekanan diberikan

4 Tempat
penyaliban “tradisional” diusung oleh Katolik Roma sebagai Golgota dapat diabaikan
karena berbagai alasan, salah satunya adalah bahwa tempat tersebut terletak di dekat
sebelah barat kota. Kemurnian hukum ritual Yahudi serta faktor –faktor terkait
menetapkan bahwa tidak ada yang bisa dikuburkan di sisi barat Yerusalem. Karena
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kubur di mana Yahushua dikuburkan dekat
dengan tempat eksekusi, tempat tradisional Golgota tidak termasuk sebagai
tempat asli eksekusi.

5 Yohanes 19
menjelaskan para tentara mematahkan kaki orang lain tetapi tidak pada Yahushua
karena Dia telah mati. Ayat 38 diterjemahkan dengan menyatakan bahwa “setelah
itu Yusuf dari Arimatea, … meminta kepada Pilatus, supaya dia diperbolehkan
menurunkan mayat Yahushua. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu
datanglah dia dan menurunkan mayat itu. Di sini
sekali lagi timbul masalah terjemahan. Kata diterjemahkan “setelah” sebenarnya
menunjukkan “pendampingan; ‘ditengah-tengah’ … (gen asosiasi, atau acc
Suksesi). Dimana dia bergabung; menduduki posisi menengah. “(Strong’s Expanded Dictionary, #3326, penekanan
diberikan.)

Dengan kata lain, itu menggambarkan perjalanan waktu
dimana banyak hal-hal yang berbeda yang terjadi serentak, serta saling tumpang tindih
dengan tidak adanya urutan yang digambarkan secara jelas. Masih ada kemungkinan
menunjukkan dengan tepat ketika orang-orang Yahudi mendekati Pilatus dengan
mempertimbangkan kumpulan catatan Injil Markus tentang kejadian-kejadian yang
sama, yang membuktikan bahwa Pilatus tidak mengetahui kematian para tahanan
pada saat Yusuf pergi menghadap dia.

6 Smith’s Bible Dictionary

7 Alkitab tidak
menyatakan bahwa Nikodemus pergi dan membeli rempah-rempah untuk penguburan.
Hal ini juga sejalan dengan bagaimana orang kaya pada zaman itu memelihara
kekayaan mereka. Dengan tidak adanya
bank-bank sebagai tempat menyetorkan uang, mereka biasanya membeli aset-aset yang nyata, yang bisa dijual jika
diperlukan.

8 Injil Lukas
sesungguhnya menyatakan bahwa Sabat dimulai saat fajar dan diikuti segera
dengan teks yang menggambarkan pada saat para laki-laki menggulingkan batu ke
tempatnya. Namun semua kumpulan catatan Injil harus dipertimbangkan. Ini jelas
merupakan sebuah kesimpulan yang umum, yang memperkuat fakta bahwa peristiwa-peristiwa
penguburan mencakup semua jam-jam malam, dan bukan menentukan saat waktu
tertentu.

9 The
New Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible,
#2020, edisi 1990.

10 S.d.a.

11 eLaine Vornholt
and Laura Lee Vornholt-Jones, The Great
Calendar Controversy,
hal. 40.

12 Op.
cit.,
#2020,
penekanan diberikan

13 S.d.a.

14 Strong’s
Expanded Dictionary
, #1519

Kalender Sang Pencipta didasarkan pada
Bulan dan Matahari, seperti yang dirinci di dalam Alkitab. Sebagaimana dukungan
untuk Kalender yang sejati bertambah, demikian juga argumen konyol yang menentangnya
ikut bertambah. Kapankah Bulan sebenarnya diciptakan dan bagaimana hal itu
mempengaruhi kemampuannya untuk menjadi pengukur waktu Surgawi yang akurat? Dapatkah
kita dengan jujur ​​mempercayai kebijaksanaan dan pola yang telah ditetapkan di
dalam kitab Kejadian? Mari kita cari tahu.

boy playing with cars

Demi mendapatkan kegiatan yang menyenangkan pada
saat hujan, kegiatan yang membuat anak-anak tergila-gila untuk keluar rumah,
Alex dan Sophia masuk ke dalam gerbong stasiun tua mereka dan pergi dengan
orang tua mereka ke sebuah pabrik mobil besar untuk melihat perakitan dan
melihat bagaimana mobil-mobil dibuat. Keluarga itu melewati gudang-gudang besar
di mana pembuatan awal dari komponen-komponen dan roda-roda mobil ditempatkan.
Memasuki pabrik mobil raksasa yang sangat canggih, mereka menyaksikan dengan
kagum ketika robot-robot besar dan para pekerja dengan teliti memulai dengan
beberapa bagian yang masih berbentuk aneh dan perlahan tapi sistematis
masing-masing bagian itu dirakit untuk membentuk sebuah mobil. Ketika setiap komponen-komponen
yang baru sudah ditempatkan pada posisinya, Alex menjadi semakin cemas. Bagian
favoritnya dari semua mobil-mobil dan truk-truk mainannya adalah roda-roda
karet yang membuat mainan itu dapat bergerak cepat di lantai dapur. Alex bertanya
kepada ayahnya, “Di mana roda-rodanya? Bagaimana mobil-mobil ini dapat
bergerak?” “Bersabarlah”, ayahnya menjawab. “Para perancang
telah memiliki sebuah rencana dan waktu khusus untuk semua bagian. Saya yakin roda-roda
itu akan ditambahkan ketika waktunya sudah tepat”. Alex masih tidak yakin.
Roda-roda adalah bagian yang paling penting di matanya. Dia dengan penuh
semangat mendesak keluarganya ke ujung jalur perakitan. Sophia dan Alex, keduanya
meminta untuk diangkat ke atas pagar pembatas padat di ujung sehingga mereka
bisa mendapatkan sebuah pandangan yang lebih baik. Di sanalah mereka berada!
Indah, mobil-mobil baru mengkilap keluar dari jalur perakitan … dengan roda-rodanya!
“Roda-rodanya!” Seru Alex. Dia cukup lega akhirnya dapat melihat roda-roda
itu. “Dan coba tebak?” Orang tua mereka tersenyum. “Yang itu
adalah milik kita!” Alex dan Sophia memekik dengan sukacita! Sungguh
menarik untuk melihat bagaimana mobil baru mereka sedang dibuat! Mereka akan mengingat
hari ini selamanya.

Dalam kisah ini, kita melihat bagaimana Alex
khawatir dalam mempercayai para perancang. Baginya, roda-rodanya perlu dipasang
duluan; namun, para perancang jelas telah mempunyai sebuah rencana dan sebuah urutan
pekerjaan untuk pembuatan sebuah mobil. Jika para insinyur duniawi dapat dengan
efisien merancang dan membangun sebuah mobil, betapa lebihnya lagi kita bisa
mempercayai rencana Bapa Surgawi kita dan pola yang diletakkan pada minggu
Penciptaan?

Ada sebuah argumen populer melawan Kalender
Luni-Solar Sang Pencipta yang menganjurkan bahwa karena Bulan tidak diciptakan,
atau setidaknya ditetapkan1,
sampai hari ke-4 dari minggu Penciptaan, maka bulan tidak bisa memainkan peran tak
terpisahkan dalam Kalender Sang Pencipta, terutama dalam hal siklus mingguan.
Sementara orang-orang skeptis dengan cepat memaparkan anggapan ini sebagai
“bukti” melawan Kalender Luni-Solar, sebuah kajian yang lebih dalam akan
menunjukkan kesalahan dari penalaran ini.

Bapa Surgawi kita adalah Pencipta susunan, alasan,
dan hukum yang mengatur alam semesta kita yang luar biasa ini. Kita melihat
kebijaksanaan dalam pola-Nya yang ditetapkan dalam minggu Penciptaan dalam
kitab Kejadian. Dia memulainya dari sesuatu yang tidak ada dan kemudian menciptakan
segala sesuatu dalam waktu yang tepat dan dalam urutan yang benar. Dia tidak
akan menciptakan Adam dan Hawa pada hari pertama karena mereka ada untuk, “Beranakcuculah
dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan
di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di
bumi”. Belum ada sesuatu yang mereka dapat kuasai pada hari pertama; Bumi
belum berbentuk dan kosong. Jadi secara alami, mereka diciptakan setelah tempat untuk mereka huni telah diciptakan,
juga dengan tanaman dan hewan yang juga tumbuh dan berkembang biak. Mari kita mengkaji
urutan yang Yahuwah telah buat di Hari ke-1, 2, dan 3 dan melihat bagaimana
mereka terkait dengan Hari ke-4, 5, dan 6.

Urutan ini dengan jelas menunjukkan bahwa Yahuwah membuat
dan menyelesaikan hunian Duniawi ini dan kemudian Dia memenuhinya. Yahuwah …

Hari ke-1: Menciptakan Terang –
kegelapan dipisahkan. Siang dan Malam pertama.

Hari ke-2: Memisahkan air yang menyelubungi
bumi (menciptakan cakrawala).

Hari ke-3: Mengumpulkan air di Bumi
dalam satu tempat, menciptakan daratan yang kering; memenuhi daratan itu dengan
rumput dan tanaman serta pohon yang menghasilkan buah.

Pada titik ini dalam Penciptaan, tampaknya Bumi
sudah siap untuk mempertahankan kehidupan hewan. Dalam kebijaksanaan-Nya yang
tak terbatas, Yahuwah terus menyempurnakan planet kita yang menakjubkan ini.

Hari ke-4: Dua benda Penerang besar,
Matahari dan Bulan, ditetapkan dan Bintang-bintang ditempatkan pada lokasi
mereka yang sempurna. Tujuan benda-benda penerang ini yang dimaksudkan untuk
melacak waktu dan menetapkan waktu-waktu beribadah telah dipaparkan:

“… dan biarlah benda-benda penerang itu
menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap [H4150], dan hari-hari dan
tahun-tahun”. (Kejadian 1:14)

H4150: “Mo’ed digunakan dalam arti luas untuk
semua acara agama. Itu terkait erat dengan Kemah Suci itu sendiri . . . [Yahuwah]
bertemu orang Israel di sana pada waktu tertentu untuk mengungkapkan
kehendak-Nya. Ini adalah istilah umum untuk waktu perkumpulan ibadah umat . . .
[Yahuwah]”. (“Lexical Aids to the Old Testament,” Hebrew-Greek
Key Word Study Bible, hal. 1626).

Disinilah Sang Pencipta mengatur pengatur-waktu yang
ditetapkan di langit. Sebagai tambahan selain dari menentukan waktu-waktu beribadah,
perhatikan apa yang Musa catat mengenai hal yang benda-benda langit itu harus lakukan,

“Untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap.”
(Kejadian 1:18)

Ini adalah sebuah penyataan ulang dan penyempurnaan
yang jelas dari apa yang pertama-tama dilakukan pada Hari ke-1 – sebuah
pemisahan antara Terang dan Gelap. Ini adalah
sebuah titik yang besar
. Di sinilah Dia menempatkan “roda-roda
mobil” dari Kalender-Nya, jika anda mau tahu. Jelaslah bahwa Matahari dan
Bulan memiliki, pada kenyataannya, telah dibuat dan memenuhi kehendak Sang Tuan,
memisahkan terang dari gelap, siang dari malam (yang sudah terjadi selama tiga
kali 24 jam sebelum Hari ke-4); namun, peran benda-benda penerang yang telah
ditetapkan secara ilahi ini, lebih lanjut didefinisikan dan disempurnakan
bersama dengan Bintang-bintang pada Hari ke-4. Hal ini menjadi lebih jelas
ketika anda mempertimbangkan kata-kata bahasa Ibrani dan frase yang digunakan
oleh Musa saat mencatat bagian ini. (H6213). (Lebih lanjut tentang hal yang
sangat penting ini dalam sekejap).

Hari ke-5: Dia mengisi lautan dengan
kehidupan yang melimpah, dan memenuhi langit dengan setiap burung bersayap.
Perhatikan bagaimana pada Hari ke-5 Dia memenuhi apa yang Dia pisahkan pada
Hari ke-2 minggu Penciptaan.

Hari ke-6: Pada Hari Penciptaan yang
terakhir, Yahuwah mengisi daratan dengan makhluk hidup dan kemudian Dia
menciptakan Laki-laki dan Perempuan. Mereka harus beranak cucu dan bertambah
banyak dan merawat Ciptaan-Nya. Perhatikan bagaimana pada Hari ke-6 Dia memenuhi
apa yang Dia bentuk pada Hari ke-3.

Dalam tinjauan
ulang…

Hari ke-1

Hari ke-4

Day 1 and Day 4 of Creation

Hari ke-2

Hari ke-5

Day 2 and Day 5 of Creation

Hari ke-3

Hari ke-6

Day 3 and Day 6 of Creation

Bukankah menarik bahwa satu-satunya hal yang diciptakan
pada Hari ke-4 adalah waktu? Pada Hari ke-4, menurut kitab Kejadian 1:14,
benda-benda langit ditetapkan untuk menentukan waktu dan penanggalan. Selain
itu, perhatikan bahwa tidak ada kehidupan (harus dipahami sepenuhnya) diciptakan
sampai setelah prinsip penanggalan telah ditetapkan. Musa tidak mencatat minggu
dari sebuah bulan dalam kitab Kejadian pasal 1 tapi kami akan menunjukkan bahwa
bulanan itu akan menjadi seperti ini:

Lunar Solar Calendar

Untuk lebih membuka pola yang ditetapkan dalam
Minggu Penciptaan, seperti yang disebutkan sebelumnya, matahari, bulan, dan
bintang-bintang (semua yang ada di langit) sudah diciptakan dalam Kejadian 1:1.
Keyakinan ini telah diperkuat baru-baru ini ketika sedang mempelajari kisah
Penciptaan. Berikut adalah apa yang WLC percaya disampaikan oleh Alkitab:

“Pada mulanya Elohim menciptakan langit
dan bumi”. (Kejadian 1:1) (termasuk matahari, bulan, dan bintang-bintang
yang berada di langit).

Kata “menciptakan” di sini adalah bara (H1254). Penggunaannya dalam kitab Kejadian
pasal 1 tampaknya menunjukkan penciptaan sesuatu secara mutlak, dari yang tidak ada. Kata ini hanya digunakan 5 kali dalam kitab Kejadian pasal
1: (1) “… menciptakan langit dan bumi”. (2) “… menciptakan
laut yang luas …”. (3) “… menciptakan manusia menurut
gambar-Nya …”. (4) “… diciptakan-Nya dia; laki-laki dan
perempuan. (5) diciptakan-Nya mereka”.

Kata lain yang diterjemahkan sebagai “menjadikan”
di seluruh kitab Kejadian adalah asah
(H6213). Kata ini berarti “mengerjakan atau membuat, dalam arti dan
penggunaan yang luas: – mencapai, memajukan, menetapkan, …”2.
Kata ini, dalam pasal pertama dari Kitab Kejadian, tampaknya untuk menandakan kemajuan pada sesuatu yang sudah dibuat,
atau menetapkan sesuatu. Sebagai
contoh: Yahuwah “menjadikan” (H6213) cakrawala dengan memisahkan air
yang sudah ada; Dia “menjadikan” (H6213) dua benda penerang
besar”. Kitab Mazmur pasal 104, ketika mengulang apa yang tampaknya
menjadi kisah kronologis minggu Penciptaan, menggunakan kata yang sama persis yang
digunakan oleh Musa dalam Kejadian 1:16, hanya, di sini diterjemahkan sebagai
“menetapkan”.

“Dia menetapkan (H6213) bulan menjadi
penentu waktu [mo’ed]”. Mazmur 104:19

Pemahaman ini memberi pencerahan pada kitab Kejadian
1:1 dan hari pertama Penciptaan (yang dirancang seperti itu). “Jadilah
terang” pada “Hari ke-1” adalah terang dari matahari, yang
menjelaskan mengapa ada hari yang
sebenarnya
(siklus terang/gelap) sebelum “Hari ke-4”. Matahari
yang menerangi pada “Hari ke-1” menjelaskan mengapa ada hari (H3117-yom: “menjadi
panas; sebuah hari”)
dan malam sebelum “Hari ke-4”.
Matahari, bulan, dan bintang-bintang hanya “ditetapkan” menjadi
penentu kalender ilahi pada “Hari ke-4”. Namun, benda-benda penerang
ini “diciptakan” (bara
H1254) pada mulanya ketika dinyatakan bahwa “Elohim menciptakan langit
…” (Kejadian 1:1).

Berfikir bahwa karena Yahuwah belum menetapkan
Matahari dan Bulan pada hari pertama maka kedua benda penerang ini tidak dapat
digunakan untuk menentukan Kalender-Nya adalah sungguh tidak masuk akal. Dia
jelas menyatakan bahwa Matahari dan Bulan ada untuk menjadi, “tanda yang
menunjukkan masa-masa yang tetap [mo’edim], dan hari-hari dan tahun-tahun”,
(Kejadian 1:14) dan bukti lebih kuat untuk Bulan dalam kitab Mazmur 104:19,
“Dia menetapkan bulan menjadi penentu waktu [mo’ed]: matahari yang tahu
akan saat terbenamnya”. Hari Bulan Baru adalah jelas merupakan hari beribadah
di seluruh Alkitab. Lihat Bilangan 29:6, 2 Raja-raja 4:23, Mazmur 81: 3, Yesaya
66:23, Yehezkiel 46:1-6, dan Amos 8: 5.3

Ironisnya, orang-orang tidak memiliki masalah
menggunakan kalender matahari meskipun matahari tidak ditetapkan sebelum hari
ke-4. Mengapa bulan menjadi kurang berfungsi sebagai penentu sebuah kalender,
terutama mengingat kitab Mazmur 104:19?

Dia menetapkan
bulan menjadi penentu waktu; matahari yang tahu akan saat terbenamnya.

Argumen ini tidak lebih dari sebuah kemunafikan.
Seluruh persoalan bahkan kehilangan kredibilitasnya karena seperti yang telah ditetapkan dari
Kitab Suci bahwa baik Matahari dan Bulan telah diciptakan di dalam kitab
Kejadian 1:1.

Dalam sekilas pandangan pertama, beberapa orang mungkin
melihat manfaat dalam argumen bahwa Bulan tidak tetapkan pada hari pertama
sehingga tidak dapat digunakan untuk menentukan Kalender-Nya. Namun, Alkitab
menggambarkan sesuatu yang sangat berbeda. Bulan ada dan masih jelas ditetapkan
untuk digunakan dalam Pertemuan Kudus-Nya, waktu-waktu beribadah, dan karena
itu menjadi bagian tidak terpisahkan dalam Kalender-Nya. Bulan terpancang kokoh
sebagai penentu kalender yang tidak tergoyahkan di langit. Terpujilah Yahuwah,
sekarang dan selamanya, untuk rencana-Nya yang sempurna, kebijaksanaan-Nya, pemeliharaan-Nya,
dan untuk Kalender abadi-Nya yang indah di langit!


1 Kami menambahkan kata “atau ditetapkan”
karena ada ruang dalam teks Ibrani yang baik secara konteks dan tata bahasa
yang menyatakan bahwa Matahari dan Bulan termasuk dalam pemanggilan datangnya Terang pada hari ke-1 minggu Penciptaan dan benda-benda
penerang ini telah khusus ditempatkan pada
posisi dan susunan mereka pada hari ke-4 minggu Penciptaan.

2 Strong’s Dictionary

3 Bilangan 29:6 selain dari korban bakaran Bulan
Baru serta dengan korban sajiannya, dan korban bakaran yang tetap serta dengan
korban sajiannya dan korban-korban curahannya, sesuai dengan peraturannya,
menjadi bau yang menyenangkan, suatu korban api-apian bagi Yahuwah.

2 Raja-raja 4:23 Berkatalah suaminya: “Mengapakah pada
hari ini engkau hendak pergi kepadanya? Padahal
sekarang bukan Bulan Baru dan bukan hari Sabat.” Jawab perempuan itu:
“Jangan kuatir”.

Mazmur 81:3 Tiuplah
sangkakala pada Bulan Baru, pada bulan purnama, pada hari raya kita.

Yesaya 66:23 Dan akan terjadi Bahwa dari satu Bulan Baru
kepada Bulan Baru berikutnya, dan dari satu Sabat kepada Sabat berikutnya,
Seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapan-Ku, firman Yahuwah.

Yehezkiel
46:1
Beginilah firman Yahuwah Elohim: Pintu gerbang
pelataran dalam yang menghadap ke sebelah timur haruslah tertutup selama enam
hari kerja, tetapi pada hari Sabat supaya dibuka; pada hari Bulan Baru juga
supaya dibuka.

Yehezkiel 46:6 Pada Bulan Baru harus dipersembahkan seekor lembu
jantan muda yang tiada bercela, serta enam ekor domba dan seekor domba jantan
yang tiada bercela.

Hosea
5:7
Mereka telah berkhianat terhadap Yahuwah, sebab mereka
telah memperanakkan anak-anak yang tidak sah; sekarang sebuah Bulan Baru akan
memakan habis mereka dan warisan mereka.

Amos 8:5 dan berpikir:
“Bilakah Bulan Baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah
hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa,
membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu.

Pertanyaan: Apakah aturan dalam
Keluaran 12: 10, 16, dan 19 khusus untuk perayaan Hari Raya Roti Tidak Beragi?

Jawaban: Perayaan Paskah dirayakan
pada malam tanggal 14 bulan pertama kalender Luni-solar. 7 hari perayaan Hari Raya Roti Tidak Beragi dimulai pada tanggal 15 pagi dan berakhir pada tanggal
21 senja. Tanggal 15 adalah sebuah hari Sabat Besar karena selalu bertepatan
dengan hari Sabat mingguan.

Ada aturan yang khusus untuk hari pertemuan/Sabat
dari Hari Raya Roti Tidak Beragi. Aturan-aturan ini jelas menggantikan aturan-aturan
pada hari Sabat mingguan dan aturan-aturan itu tidak berlaku untuk Perayaan
yang lainnya.

1. Keluaran 12:10 mengijinkan untuk [menyalakan api] untuk membakar setiap sisa-sisa domba Paskah
pada hari Sabat Besar tanggal 15.

2. Ayat 16 mengijinkan penyiapan makanan pada hari
Sabat Besar ini yang selalu bertepatan dengan hari Sabat mingguan pada tanggal
15.

3. Ayat 19 mengandung sebuah ijin tersirat untuk membuang ragi dari rumah mereka.

4. Menyiapkan makanan juga diperbolehkan pada semua
hari-hari perayaan Hari Raya Roti Tidak Beragi ini berlangsung termasuk pada hari
Sabat/hari pertemuan pada tanggal 21.


Ayat Pendukung:

Kel. 12:17 – "Jadi kamu harus tetap merayakan
hari raya makan roti yang tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku
membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir. Maka haruslah kamu rayakan
hari ini turun-temurun; itulah suatu ketetapan untuk selamanya. 18Dalam
bulan pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu pada waktu petang, kamu
makanlah roti yang tidak beragi, sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan
itu, pada waktu petang".

Kel. 12:10 – "Janganlah kamu tinggalkan apa-apa
dari daging itu sampai pagi; apa yang tinggal sampai
pagi kamu bakarlah habis dengan api
".

Kel. 12:16 – "Kamu adakanlah pertemuan yang
kudus, baik pada hari yang pertama maupun pada hari yang ketujuh; pada
hari-hari itu tidak boleh dilakukan pekerjaan apapun; hanya
apa yang perlu dimakan setiap orang, itu sajalah yang boleh kamu sediakan
".

Kel. 12:19 – "Tujuh
hari lamanya tidak boleh ada ragi dalam rumahmu
, sebab setiap orang yang
makan sesuatu yang beragi, orang itu harus dilenyapkan dari antara jemaah
Israel, baik ia orang asing, baik ia orang asli".

Title: Mengapa WLC tidak
menggunakan Hari Setelah Bulan Purnama sebagai Hari Bulan Baru?

Pertanyaan: Mengapa WLC tidak
menggunakan Hari Setelah Bulan Purnama sebagai Hari Bulan Baru?

Jawaban: Tim WLC percaya bahwa
perhitungan Bulan Purnama sebagai Hari Bulan Baru adalah sebuah kesalahan yang
mengerikan. Tidak ada bukti apapun yang dapat mendukung anggapan bahwa Bulan Purnama
adalah penanda untuk Hari Bulan Baru. Mereka yang mengajarkan bahwa Bulan Purnama
adalah Bulan Baru melakukannya terutama karena didasarkan pada empat asumsi/penafsiran.
Kita sekarang akan melihat masing-masing asumsi/penafsiran ini secara singkat.

Menurut mereka
yang menganjurkan perhitungan Hari Bulan Baru dengan berpatokan pada Bulan Purnama…

(1) Klaim: “Sebuah gerhana
matahari total terjadi pada siang hari (dan berlangsung selama tiga jam – Matius
27:45) pada hari penyaliban Yahushua (pada hari ke-14 bulan lunar). Sebuah
gerhana matahari hanya dapat terjadi selama konjungsi. Oleh karena itu, bulan
harus dimulai pada saat bulan purnama”.

Masalah/Asumsi: Meskipun benar bahwa sebuah
gerhana matahari hanya dapat terjadi pada saat bulan sedang dalam posisi
konjungsi (berada tepat diantara bumi dan matahari), masalah yang sangat jelas
dengan pernyataan ini ditemukan dalam fakta bahwa tidak ada gerhana matahari total
yang terjadi di Yerusalem pada musim semi tahun 31 M.1 (http://eclipse.gsfc.nasa.gov/phase/phases0001.html)2. Bahkan,
Yerusalem tidak pernah berada di jalur gerhana total dalam waktu kapanpun
selama abad pertama. Pukulan telak lain pada anggapan ini adalah bahwa gerhana
matahari umumnya hanya bertahan sekitar 7-8 menit, bukan 3 jam. “Gerhana
matahari total terpanjang selama periode 8000 tahun dari tahun 3000 SM sampai
5000 M akan terjadi pada tanggal 16 Juli 2186, ketika gerhana total akan
berlangsung selama 7 menit 29 detik”. (http://en.wikipedia.org/wiki/Solar_eclipse). Kegelapan yang melingkupi
wilayah pada saat Penyaliban adalah sebuah keajaiban, dan tidak dapat
dijelaskan dengan fenomena yang terjadi secara alami. Mengklaim bahwa ada
gerhana matahari total, yang berlangsung selama tiga jam, pada saat penyaliban
Yahushua adalah berlebihan dan tidak dapat dibuktikan oleh bahkan satu buktipun.


1 Nubuatan 70 Minggu (Daniel 9) menetapkan dengan
pasti tahun Penyaliban Yahushua.

2 Untuk lebih spesifik, metode yang diusulkan untuk
memperhitungkan Tahun Baru yang dikaji pada poin #2 (dibawah)
menuntut bahwa gerhana matahari total harus terjadi pada siang hari di
Yerusalem pada tanggal 10 April, 31 M. Tidak ada kejadian seperti itu. Klaim ini tidak dapat dibuktikan oleh bahkan
satu buktipun
.


(2) Klaim:
“Sebuah pembelajaran
mendalam terhadap kata Yunani yang diterjemahkan sebagai ‘gelap’ dalam catatan
Lukas tentang penyaliban mengungkapkan bahwa matahari terhalang oleh bulan,
yang hanya dapat terjadi pada saat konjungsi”.

“Dan matahari menjadi gelap, dan tabir
Bait Suci terbelah di tengah-tengah”. (Lukas 23:45, KJV)

Beberapa orang, yang menganjurkan penggunaan metode
Bulan Purnama, telah mengklaim bahwa kata yang diterjemahkan “menjadi gelap”
dalam bagian ini adalah kata Yunani ekleipō
[Strong G1587], akar kata dari “gerhana” di zaman moderen. Mereka
mengatakan bahwa hal ini membuktikan bahwa penyebab kegelapan di lokasi
Penyaliban adalah gerhana matahari. Seperti yang dibahas pada poin sebelumnya
(#1), ini adalah sebuah kemustahilan mutlak. Kegelapan yang melanda lokasi Penyaliban
adalah manifestasi supranatural, kesaksian Yahuwah. Namun demikian, mari kita
melakukan kajian pada masalah-masalah dari pernyataan ini.

Masalah/Asumsi: Kata yang diterjemahkan
dalam ayat ini sebagai “menjadi gelap” adalah skotizō [Strong G4654], bukan ekleipō
[Strong G1587].

“Dan [G2532] matahari [G2246] menjadi gelap [G4654], dan
[G2532] tabir [G2665] Bait Suci [G3485] terbelah [G4977] di tengah-tengah. [
G3319]” (Lukas 23:45, KJV)

Skotizō berarti “menutupi
dengan kegelapan, menggelapkan, ditutupi dengan kegelapan,…”. Hal ini
dapat merujuk pada kegelapan kiasan (misalnya, Efesus 4:18) atau kegelapan nyata
(misalnya, benda-benda langit; Wahyu 8:12). Ekleipō,
walau itu adalah akar kata untuk “gerhana” moderen dan dapat merujuk
pada gerhana matahari, namun umumnya itu berarti “gagal, meninggalkan, memupuskan,
lewat,…”. Tidak arti dari kata ini yang khusus diperuntukkan pada
matahari atau benda-benda langit.

Ekleipō ditemukan hanya dalam tiga ayat
Alkitab, tidak satupun dari ayat ini yang khusus untuk pergerakan relatif bulan
terhadap matahari:

“Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan
dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu sudah gagal [G1587 – ekleipō], kamu
diterima di dalam kemah abadi”. (Lukas 16:9, KJV)

“Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya
imanmu jangan gugur [G1587 – ekleipō].
Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu”.
(Lukas 22:32, KJV)

“Seperti
jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah,
tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan [G1587 – ekleipō]“. (Ibrani 1:12, KJV)

Bahkan dalam terang penggunaan umum/arti dari kata
ini (ekleipō), yang dengan tidak terbantahkan
telah membuktikan kesalahan klaim yang dikaji ini, membawa pengulangan bahwa
kata ini bahkan tidak ditemukan dalam ayat bukti yang ditawarkan untuk menopang
Bulan Purnama sebagai dasar perhitungan Hari Bulan Baru, meskipun beberapa orang
menyatakan seperti itu.


(3) Klaim:
“Perempuan dalam kitab
Wahyu pasal 12, yang berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya,
dan bintang-bintang di atas kepalanya adalah pengumuman Hari Tahun Baru. Pada
suatu hari setiap musim semi, rasi bintang Virgo terlihat terbit di timur
dengan bulan purnama di bawah kakinya. Dia juga “berselubungkan
matahari” dalam arti bahwa tidak terjadi kegelapan yang menyeluruh saat fenomena
ini muncul. Dia memiliki 12 bintang di kepalanya, yang berarti bahwa ia adalah kepala
tahun. Oleh karena itu, bulan purnama di bawah kaki Virgo adalah penanda untuk Hari
Bulan Baru, dan awal tahun”.

“Maka
tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan
matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas
bintang di atas kepalanya”. (Wahyu 12:1, KJV)

Masalah/Asumsi: Tidak ditemukan dalam ayat ini
sesuatupun yang menyiratkan bahwa fenomena ini adalah penanda untuk Hari Bulan
Baru, atau awal tahun. Juga ayat ini tidak mengatakan bahwa perempuan itu
berdiri pada sebuah “bulan purnama”. Jika kita mau jujur
​​mengevaluasi setiap detail dari gambaran tentang perempuan ini, maka kita
harus mengakui bahwa selain berdiri di bulan, dia juga berselubungkan matahari.
Daripada menafsirkan dengan bebas bahwa “berselubungkan matahari”
berarti bahwa tidak terjadi kegelapan yang menyeluruh saat fenomena ini muncul,
kita seharusnya mencari waktu disaat Virgo (“perawan”) secara harfiah
berselubungkan matahari (dengan jalur tengah matahari melalui rasi bintang itu)
sementara bulan berada di bawah kakinya. Apakah fenomena seperti itu ada? Ya,
hal itu terjadi setiap musim gugur, sering (tetapi tidak selalu) bertepatan
dengan awal Bulan Ketujuh.

Virgo, clothed with the sun, and the moon under her feet

Virgo: Fenomena ini terjadi pada salah
satu bulan setiap musim gugur. Namun, tidak ada dalam ayat itu, yang menunjukkan
bahwa ini ada kaitannya dengan Hari Bulan Baru atau Tahun Baru. Mereka yang
membela metode perhitungan Bulan Purnama yang mendasarkan pemenuhan sebagian
dari penjelasan ayat ini (Why.12:1) pada musim semi sedang membangun secara
eksklusif dengan asumsi dan dugaan yang tidak berdasar.

Sementara Wahyu 12:1 adalah sebuah konfirmasi ilahi
bahwa gereja yang sejati sepanjang sejarah telah mengandalkan Matahari, Bulan,
dan Bintang untuk menentukan hari Sabat dan Hari-hari Raya, tidak ada di dalam
ayat tersebut yang menyiratkan bahwa penjabaran mengenai perempuan itu memiliki
sebuah kaitan dengan Hari Bulan Baru atau awal tahun.1 Mereka yang
mencoba untuk menggunakan kitab Wahyu pasal 12 sebagai bukti penggunaan metode
perhitungan Bulan Purnama, walaupun mereka mungkin memiliki niat baik, telah
menambahi ayat itu dan mendasarkan penafsiran mereka secara eksklusif dia atas
sebuah spekulasi.


1 Masalah lain yang timbul dari anggapan bahwa Bulan
Purnama di bawah kaki Virgo merupakan penanda untuk memulai tahun adalah presisi
aksial. Karena titik balik matahari bergerak ke arah barat sepanjang gerak relatif ekliptika pada bintang-bintang
yang tetap, waktu fenomena ini (bulan purnama di bawah kaki Virgo) secara
perlahan mengambang. Pada zaman sekarang, fenomena ini umumnya terjadi pada
akhir bulan April atau awal bulan Mei. Namun, hanya 2.000 tahun yang lalu, peristiwa
yang sama ini berlangsung beberapa minggu sebelumnya, pada akhir bulan Maret
atau awal bulan April. Jika kita maju cepat 2.000 tahun dengan menggunakan
tingkat presisi yang sekarang, fenomena ini tidak akan berlangsung sampai akhir
bulan Mei atau awal bulan Juni.


(4) Klaim:
“Mazmur 81:3
mengatakan bahwa sangkakala harus dibunyikan pada saat Bulan Purnama karena itu
adalah Bulan Baru”.

“Tiuplah sangkakala pada bulan baru, pada waktu
yang ditetapkan [H3677], pada hari raya kita
[H2282]”. (Mazmur 81:3, KJV)

H3677 (keh’-seh) – Sepertinya berasal dari H3680; penuh
benar atau bulan purnama, yaitu, perayaannya: – (waktu) yang ditetapkan. (Strong’s
Greek & Hebrew Dictionary
)1

H2282 (khag) – Kata ini mengacu terutama untuk
“perayaan yang di rayakan dengan berziarah”. (The New Strong’s
Expanded Dictionary of Bible Words
)

Masalah/Asumsi: Hari Bulan Baru tidak
pernah disebut sebuah khag di dalam
Alkitab. Beberapa orang yang mendukung metode ini akan berpendapat bahwa hal ini
tidak benar dengan menunjuk pada Hosea 2:11 dan Yehezkiel 45:17, tetapi
“bulan-bulan baru” dalam ayat-ayat ini disebutkan terpisah dari
hari-hari Sabat dan khag. Bahkan jika
Hari Bulan Baru telah dirujuk sebagai khag,
terdapat kendala kedua di bagian ini yang tidak dapat diselesaikan oleh mereka
yang mengajarkan bahwa Mazmur 81:3 membuktikan bahwa sangkakala harus ditiup
pada Bulan Purnama karena itu adalah Bulan Baru: Dalam konteksnya, kitab Mazmur
pasal 81 berbicara tentang keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Penafsiran
paling masuk akal dari ayat 3 ini adalah bahwa hal itu mengacu pada bulan
purnama yang bertepatan dengan Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi. (Bangsa Israel
dipimpin keluar dari Mesir pada malam hari (Ul. 16:1) pada hari pertama Roti
Tidak Beragi (Bil. 33:3) – pada tanggal 15).

Sebuah bukti kuat yang melawan Bulan Purnama sebagai
penanda untuk Hari Bulan Baru dicatat ketika mempelajari waktu-waktu perayaan.
Dua perayaan ziarah penting berlangsung pada tanggal 15 bulan. Perayaan itu adalah
Hari Raya Roti Tidak Beragi dan Hari Raya Pondok Daun. Dalam pemeliharaan
ilahi-Nya, Yahuwah telah menetapkan waktu dari dua perayaan-perayaan ini
bertepatan dengan Bulan Purnama, untuk meringankan beban perjalanan umat-Nya.
Bapa kita yang penuh kasih adalah Eloah yang rinci, dan tidak ada hal yang luput
dari perhatian-Nya. Ketika Dia mengharuskan sebuah peziarahan, Dia telah
mengatur waktu mana yang paling nyaman bagi umat-Nya.2 Kita juga dapat
melihat pada kenyataan bahwa tidak ada keharusan melakukan ziarah pada saat
musim dingin. Dengan demikian, jika Dia telah berhati-hati untuk menghindari memberikan
perintah untuk berziarah di musim dingin, Dia juga akan dengan penuh kasih berhati-hati
untuk menghindari menetapkan sebuah perayaan ziarah pada saat bulan telah hampir
benar-benar gelap.


1 Beberapa orang telah menyarankan bahwa keh’she, berdasarkan pada akar katanya
dari (H3680; Kasah), harus diterjemahkan sebagai “bulan terselubung”
sebagai lawan dari “bulan purnama”, yang berarti bahwa sangkakala
harus dibunyikan pada saat bulan gelap (pada saat konjungsi) sebagai penanda untuk
Hari Bulan Baru. Penafsiran ini juga membantah metode perhitungan Bulan Purnama
sebagai Bulan Baru, dan mendukung metode perhitungan fajar setelah konjungsi.

2 Menggunakan metode perhitungan Bulan Purnama, hari
Sabat kedua setiap bulan, termasuk hari Sabat besar dari Hari Raya Roti Tidak
Beragi dan Hari Raya Pondok Daun, akan berlangsung dalam kegelapan total.


Bulan Baru:
Chodesh (H2320)

Kata Ibrani yang diterjemahkan dalam Alkitab sebagai
“bulan baru” adalah Chodesh
[H2320]
. Akar kata dari Chodesh
adalah chadash [H2318], yang berarti
“menjadi baru, memperbaharui, memperbaiki”.

Sebuah masalah yang sangat jelas muncul ketika
metode perhitungan Hari Bulan Baru dengan Bulan Purnama, dalam hal bulan mulai
dari hari pertama sedang meredup (kehilangan cahaya), bukan diperbaharui. Segera setelah bulan telah
bersinar penuh, cahayanya akan meredup. Ini berarti bahwa antara malam ketika Bulan
Baru dinyatakan dan keesokan harinya yang dianggap sebagai “Hari Bulan
Baru”, bulan telah kehilangan cahayanya, dan akan terus kehilangan cahaya
sampai pertengahan bulan, setelah itu barulah bulan akan mulai menambah
cahayanya kembali. Metode perhitungan Bulan Purnama menentang semua logika dan
tidak benar berdasarkan arti kata – Chodesh/chadash.


Membedakan Hari
melalui Penampakan Bulan

Hal lain yang perlu diperhatikan di sini adalah
bahwa karena akan ada satu atau dua hari gelap pada pertengahan bulan saat
menggunakan metode perhitungan Bulan Purnama, maka fase seperempat bulan akan
tidak teratur mengumumkan hari-hari Sabat. Ketika memperhitungkan Hari Bulan
Baru dengan Bulan Purnama1, fase berikutnya dari bulan menjadi tidak
konsisten dan tak terduga, sehingga merampas bulan yang berperan sebagai
penanda ilahi, dan membuat pengidentifikasian hari yang dapat diandalkan melalui
penampakan bulan menjadi sangat sulit, bahkan mustahil.


1 Perlu dicatat bahwa bulan dapat nampak bersinar penuh selama lebih dari
satu hari setiap bulan. Hal ini akan membuat perhitungan yang konsisten untuk
pengamat menjadi sangat sulit.

Walaupun ada ayat-ayat sekunder lainnya yang dikutip
oleh mereka yang mendukung metode perhitungan Bulan Purnama, namun hal itu
tidak perlu ditanggapi, karena semuanya (tanpa kecuali)
tidak lebih dari upaya penjelasan untuk memaksa pengandaian mereka ke dalam ayat
itu, sebuah upaya menyesatkan untuk membuat Alkitab sesuai dengan ide-ide mereka.
Tidak ada satu bukti pun yang dapat mendukung metode perhitungan Bulan Purnama.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Bulan Baru
yang Alkitabiah, silahkan lihat “Hari Bulan Baru: Fajar
Setelah Konjungsi
“.

Nubuatan “70 minggu” dalam kitab Daniel pasal 9 merupakan salah satu nubuatan yang paling luar biasa di dalam seluruh Alkitab, karena nubuatan ini tidak terbantahkan mengenali tahun yang tepat dari waktu pembaptisan dan penyaliban Sang Juruselamat. Sedihnya, banyak orang yang telah salah menafsirkan1 nubuatan besar ini atau mengabaikan implikasinya yang lebih besar. Sebuah kajian yang mendalam pada “70 minggu” Daniel dengan tidak terbantahkan membuktikan kesalahan “Penyaliban hari Jumat” dan gagasan bahwa mingguan 7-hari moderen memiliki siklus tidak terputus tanpa interupsi sejak dari masa Penciptaan!


Nubuatan 70 Minggu (Daniel 9: 24-27)

Dalam kitab Daniel pasal 9, kita mendapati nabi memanjatkan doa permintaan yang sangat emosional kepada Yahuwah demi Yerusalem dan anak-anak Israel yang berada dalam pembuangan, karena dia baru saja mendapatkan penglihatan yang sangat mengkhawatirkan (Daniel pasal 8), yang artinya belum sepenuhnya dia pahami. Sementara Daniel berdoa, malaikat Gabriel datang kepadanya dan mulai menjelaskan dengan lebih rinci waktu kejadian yang akan mendahului nubuatan pembersihan tempat kudus2 di Surga. Penjelasan inilah yang menghasilkan tahun yang jelas yang tidak terbantahkan mengenai kapan waktu pembaptisan dan penyaliban Yahushua terjadi. Gabriel memulai penjelasannya dengan memberitahu Daniel:

Tujuh puluh minggu telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nubuatan, dan untuk mengurapi Yang Maha Kudus. (Daniel 9:24, NKJV).

Di sini, Surga menjelaskan bahwa 70 minggu nubuatan telah ditentukan untuk bangsa Daniel (bangsa Yahudi) dan kota suci (Yerusalem) untuk menyelesaikan hal-hal berikut:

  1. melenyapkan kefasikan
  2. mengakhiri dosa
  3. menghapuskan kesalahan
  4. mendatangkan keadilan yang kekal
  5. menggenapkan penglihatan dan nubuatan
  6. mengurapi Yang Maha Kudus

Sebelum melangkah jauh, adalah penting bahwa kita memahami nilai dari satu minggu nubuatan. Ketika kita mempelajari nubuatan, kita harus selalu membiarkan Alkitab menafsirkan dirinya sendiri. Yahuwah telah menyediakan di dalam firman-Nya penjelasan untuk setiap simbol yang digunakan oleh para nabi. Dalam Alkitab, satu hari nubuatan = satu tahun yang sesungguhnya.

. . . Aku menentukan bagimu satu hari untuk satu tahun. (Yehezkiel 4: 6).

Sesuai dengan jumlah hari yang kamu mengintai negeri itu, yakni empat puluh hari, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kamu harus menanggung akibat kesalahanmu. . . (Lihat Bilangan 14:34).

Dari sini, kita harus menyimpulkan hal sebagai berikut:

Sekarang, mari kita lanjutkan ke ayat berikutnya dari nubuatan ini. Dalam ayat 25, Gabriel mulai menjelaskan secara rinci bentuk dan waktu peristiwa yang akan terjadi selama 70 minggu nubuatan. Disini, sang pembawa pesan Yahuwah mengawalinya dengan memberikan titik awal dan titik akhir untuk perhitungan 69 minggu yang pertama dari nubuatan ini.

Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat perintah itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan Mesias, Sang Raja, akan ada tujuh minggu dan enam puluh dua minggu; kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan. (Daniel 9:25, NKJV).

Di sini, kita mempelajari bahwa dari “perintah untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem” sampai kedatangan Mesias akan ada 69 minggu nubuatan (7 minggu + 62 minggu). Ini adalah setara dengan 483 tahun yang sesungguhnya.

Ada empat peristiwa yang dapat diambil sebagai jawaban untuk “perintah untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem”. Yaitu:

  1. Keputusan Koresh untuk membangun kembali rumah Yahuwah pada tahun 536 SM. (Ezra 1: 1-4)
  2. Keputusan Darius untuk melanjutkan pekerjaan yang telah terhalang pada tahun 519 SM. (Ezra 6: 1-12)
  3. Keputusan yang diberikan oleh Artahsasta kepada Ezra pada tahun 457 SM. (Ezra pasal 7)
  4. Amanat Nehemia dari Artahsasta pada tahun 444 SM. (Nehemia pasal 2)

Tiga dari empat keputusan ini bisa langsung kita abaikan.

Keputusan Koresh pada tahun 536 SM dan Keputusan Darius pada tahun 519 SM harus diabaikan dari awal karena menghitung 483 tahun dari kedua keputusan ini akan membawa kita sampai pada waktu sebelum kedatangan Mesias yang merupakan titik akhir yang telah ditentukan dari 69 minggu pertama dari nubuatan. Menghitung 69 minggu nubuatan dari Keputusan Koresh akan membawa kita pada tahun 53 SM. Menghitung dari Keputusan Darius akan membawa kita pada tahun 36 SM. Sekali lagi, keduanya jatuh pada waktu yang lebih singkat dan oleh karena itu harus diabaikan.

Amanat ketiga yang kita dapat abaikan adalah amanat yang diberikan kepada Nehemia oleh Artahsasta pada tahun 444 SM. Walaupun raja itu mengijinkan Nehemia untuk kembali ke Yerusalem, namun tampaknya ijin ini tidak disertai dengan sebuah keputusan resmi. Artahsasta hanya mengabulkan permintaan pribadi Nehemia untuk kembali ke Yerusalem selama waktu tertentu. Ketika Nehemia tiba di Yerusalem, dia menemukan orang-orang yang sudah terlibat dalam pekerjaan membangun kota. Mereka tampaknya bertindak berdasarkan surat keputusan yang diberikan kepada Ezra tiga belas tahun sebelumnya. Nehemia menyelesaikan pekerjaan yang dia ingin capai di Yerusalem hanya dalam waktu lima puluh dua hari (Nehemia 6:15).

Hal ini membuat jelas keputusan mana yang menjadi titik awal untuk 70 minggu nubuatan, 69 minggu pertama yang akan berlangsung sampai pada kedatangan Sang Mesias, yaitu: Keputusan yang diberikan oleh Artahsasta kepada Ezra pada tahun 457 SM3.

Artahsasta, raja segala raja, kepada Ezra, imam dan ahli hukum [Eloah] semesta langit, dan selanjutnya. Maka sekarang, olehku telah dikeluarkan perintah, bahwa setiap orang di dalam kerajaanku yang termasuk orang Israel awam, atau para imamnya atau orang-orang Lewi, dan yang rela pergi ke Yerusalem, boleh turut pergi dengan engkau. (Lihat Ezra 7: 12-13).

Sekarang, kita telah menetapkan dengan pasti kapan 70 minggu nubuatan dimulai, mari kita hitung maju sebanyak 69 minggu (483 tahun) ke depan untuk melihat apakah ini membawa kita ke masa Sang Mesias seperti yang telah dinubuatkan oleh malaikat.

Menghitung maju sebanyak 483 tahun ke depan dari tahun 457 SM membawa kita ke tahun 27 Masehi.

-457 + 483 = 26 M

Namun, kita harus menambahkan satu tahun karena tidak ada tahun 0.

26 M + 1 Tahun = 27 M

Apa yang terjadi pada tahun 27 M? Yahushua, Sang Mesias, dibaptis! “Yang Maha Kudus” telah diurapi (Daniel 9:24) pada saat yang tepat seperti yang ditentukan oleh nubuatan Gabriel.

Yang kukatakan ini, kamu tahu . . . sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yahushua dari Nazaret: bagaimanaYahuwahmengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa . . . (Lihat Kisah Para Rasul 10: 37-38, KJV)

Yahushua tahu dengan baik bahwa 69 minggu pertama dari nubuatan Daniel telah dipenuhi pada saat pembaptisan-Nya, oleh karena itu setelah pembabtisan, Dia mulai menyerukan pertobatan kepada orang-orang, dan berkata “waktunya telah genap; Kerajaan Yahuwah sudah dekat”. (Markus 1:15).

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus image

Kita bisa dengan yakin menyatakan bahwa tahun 27 M adalah tahun pembaptisan Yahushua karena Lukas memberitahu kita bahwa hal itu terjadi pada tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius.

Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius . . . (Lukas 3: 1)

Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yahushua juga telah dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan. (Lihat Lukas 3: 21-22).

Tiberius mulai memerintah secara resmi sebagai wali-negeri pada tahun 12 M dan menjadi Kaisar pada tahun 14 M4. Dengan menghitung lima belas tahun dari tahun 12 M, tahun pertama pemerintahan Tiberius, membawa kita ke tahun 27 Masehi. Hal ini selaras dengan apa yang malaikat Gabriel ungkapkan kepada Daniel sekitar 600 tahun sebelumnya!

Ingat juga kata-kata malaikat mengenai kota Yerusalem itu sendiri:

. . . kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan. (Daniel 9:25).

Tembok Yerusalem dibangun kembali selama tujuh minggu pertama nubuatan (49 tahun yang sesungguhnya) setelah keputusan Artahsasta pada tahun 457 SM. Sesungguhnya, ini adalah “masa yang sukar”. Nehemia memberitahu kita bahwa, karena gencarnya ancaman serangan, para pekerja “memikul dan mengangkut melakukan pekerjaannya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang senjata”. (Nehemia 4:17). Pada tahun 408 SM, pemulihan Yerusalem dan Bait Suci selesai.

-457 + 49 = -408 (408 SM)

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus image

Luar biasa! Namun, nubuatan, tidak berhenti di situ. Mari kita lanjutkan ke ayat berikutnya.

Sesudah keenam puluh dua minggu Mesias akan disingkirkan, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, yang akan berakhir dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan. (Daniel 9:26, NKJV).

Di sini, kita diberitahu bahwa pada waktunya setelah 69 minggu nubuatan telah terpenuhi, Mesias akan “disingkirkan” dan kemudian kota akan dihancurkan. Melanjutkan ke ayat terakhir dalam nubuatan itu, Gabriel memperjelas rincian yang akan terjadi pada minggu ke-70 nubuatan itu:

Dia akan membuat sebuah perjanjian dengan banyak orang selama satu minggu. Pada pertengahan minggu itu Dia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu. (Daniel 9:27, NKJV)

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus imageDi sini, malaikat mengatakan bahwa selama minggu ke-70 nubuatan, Dia (Sang Mesias) akan membuat sebuah perjanjian dengan banyak orang. Dia kemudian melanjutkan dengan mengatakan bahwa Sang Mesias akan menyebabkan korban sembelihan dan korban santapan dihentikan pada pertengahan dari minggu terakhir nubuatan ini.

Mari kita terlebih dahulu memeriksa apa yang terjadi pada pertengahan dari minggu ke-70 ini. Dengan menghitung maju sebanyak 7 tahun (satu minggu nubuatan) dari waktu pembaptisan Yahushua pada musim gugur 27 M akan membawa kita sampai pada musim gugur tahun 34 M. Hal ini akan menempatkan pertengahan minggu ke-70 pada musim semi tahun 31 M. Apa yang terjadi pada musim semi tahun 31 M yang menyebabkan korban sembelihan dan korban santapan dihentikan? Mesias disalibkan pada waktu Paskah, dan tabir Bait Suci di mana pengorbanan itu dilakukan telah dirobek oleh Yahuwah sendiri dari atas ke bawah!

Dan Yahushua berseru pula dengan suara nyaring, lalu menyerahkan nyawa-Nya. Kemudian, lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas ke bawah; dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah. (Lihat Matius 27: 50-51).

Yahushua, Mesias kita, adalah korban penghapus dosa utama yang dinubuatkan dalam semua kurban-kurban hewan yang ditentukan seperti yang ditulis dalam dalam kitab hukum. Dia telah “disingkirkan padahal tidak ada salahnya sama sekali” (Daniel 9:26); Dia disalibkan, bukan untuk apa yang telah Dia lakukan, tetapi untuk apa yang anda dan saya lakukan.

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Yahuwah. (Lihat 2 Korintus 5:21).

Setelah Penyaliban-Nya, korban sembelihan dan korban santapan dihentikan untuk selamanya.

Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Dia [Yahushua, Sang Mesias] masuk ke dunia, Dia berkata: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki–tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku–. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, O Yahuwah”. . . . Yang pertama Dia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yahushua Yang Diurapi. (Lihat Ibrani 10: 4-10).

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus image

Kita tahu sekarang dengan pasti bahwa Yahushua disalibkan pada tahun 31 M, tapi Gabriel mengatakan bahwa Mesias akan “membuat sebuah perjanjian dengan banyak orang selama satu minggu” (lamanya waktu minggu ke-70 berakhir pada musim gugur 34 M). Bagaimana bisa seperti ini? Perjanjian Baru yang diberitakan oleh Yahushua Sang Mesias dalam semua pelayanan-Nya selama 3 1/2 tahun dilanjutkan oleh para rasul setelah penyaliban-Nya! Undangan untuk menerima Perjanjian Baru telah diperpanjang bagi bangsa Yahudi sampai musim gugur tahun 34 M, ketika dalam sebuah tindakan terakhir dari pemberontakan melawan Surga, kelompok Sanhedrin membunuh Stefanus, orang Kristen pertama yang menjadi martir (Kisah Para Rasul 7). Setelah menyampaikan khotbah yang sangat kuat kepada orang-orang Sanhedrin, dimana dia menjelaskan kesalahan dari bangsa Yahudi dalam menolak nabi-nabi Yahuwah dan menolak Sang Mesias, Stefanus diambil oleh para anggota dewan dan dilempari dengan batu.

Ilham ilahi dari doa permohonan terakhir Stefanus telah dikonfirmasi oleh Yahuwah ketika langit terbuka bagi dia dan dia melihat Yahushua berdiri di sebelah kanan Bapa.

Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Yahuwah dan Yahushua berdiri di sebelah kanan Yahuwah. Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Yahuwah”. (Lihat Kisah Rasul 7: 55-56).

Bukannya bertobat, para anggota Sanhedrin malahan menjadi sangat marah dan menolak untuk mendengarkan. Mereka dengan keras kepala menolak kesempatan terakhir mereka untuk menerima perjanjian Yahuwah.

Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus. (Kisah Rasul 7: 57-58).

(Catatan: Para anggota dewan di sini meletakkan pakaian mereka di depan Saul, seorang laki-laki yang akan segera sesudah namanya diganti menjadi Paulus ditugaskan oleh Surga untuk membawa Injil kepada bangsa-bangsa lain).

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus image

Sebagaimana konfirmasi akhir Surga bahwa 70 minggu nubuatan yang ditujukan bagi bangsa Yahudi dan Yerusalem duniawi telah terpenuhi, kota dan bait suci itu dihancurkan pada tahun 70 Masehi tepat seperti yang malaikat telah nubuatkan.

. . . dan datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, yang akan berakhir dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan. (Daniel 9:26, NKJV).

Catatan: “datanglah rakyat seorang raja” menunjuk pada Roma yang telah melaksanakan penghakiman Surga untuk menghancurkan kota dan bait suci duniawi itu. “Yang akan berakhir dalam air bah” menunjukkan betapa cepatnya penghakiman itu dilaksanakan. “Dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan“: (1) menubuatkan kehancuran cepat dari Yerusalem, yang digenapi pada tahun 70 M; (2) menubuatkan fakta bahwa dari waktu kehancuran Bait Suci sampai Akhir Zaman [yaitu Kedatangan Kedua Yahushua], tanah yang diduduki bangsa Israel kuno tidak akan pernah melihat perdamaian dan keamanan. Hal ini ditegaskan pada hari ini oleh perang tak berujung antara bangsa Israel dan tetangga-tetangganya. Pemusnahan ini juga disinggung dalam Daniel 9:27.

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus image

Dengan demikian, 70 minggu nubuatan digenapi dalam detail yang sempurna dan semua hal yang Surga nyatakan akan terjadi telah terlaksana:

  1. melenyapkan kefasikan: isyarat pada kesempatan bangsa Yahudi untuk mengakhiri pelanggaran/pemberontakan mereka dan kemenangan Yahushua atas pelanggaran (dosa).
  2. mengakhiri dosa: isyarat pada kesempatan bangsa Yahudi untuk bertobat dari dosa dan kemenangan Yahushua atas dosa.
  3. menghapuskan kesalahan: isyarat pada penghapusan kesalahan yang dilakukan Yahushua di atas kayu salib.
  4. mendatangkan keadilan yang kekal: isyarat pada kebenaran kekal yang tersedia melalui iman di dalam Yahushua dan pengorbanan-Nya.
  5. menggenapkan penglihatan dan nubuatan: isyarat pada pemenuhan sempurna dari setiap detail nubuatan dan penglihatan.
  6. mengurapi Yang Maha Kudus: isyarat pada pembaptisan Yahushua oleh Roh Kudus.

Waktu yang ditujukan untuk bangsa Yahudi sekarang telah dipenuhi, Injil sekarang akan dibawa kepada bangsa-bangsa lain. (Lihat Matius 21: 33-43 untuk membaca perumpamaan yang luar biasa yang menunjuk pada waktu di masa depan di mana “kerajaan Yahuwah” akan diambil dari bangsa Yahudi dan diberikan kepada bangsa-bangsa yang lain.)


Gabungkan semuanya bersama-sama….

Sekarang kita telah menetapkan dengan pasti bahwa tahun 31 M adalah tahun penyaliban Yahushua yang sesuai dengan Kitab Suci, marilah kita memeriksa dampak yang lebih besar dari fakta ini, yaitu bahwa siklus mingguan 7 hari yang kita jalani saat ini tidak bersiklus tanpa interupsi dari sejak masa Penciptaan! Kalender Gregorian moderen [kalender masehi] adalah kalender palsu.

Penyaliban

Menurut Alkitab, Yahushua disalibkan pada hari Paskah, yang selalu jatuh pada hari ke-14 dari bulan lunar pertama. Waktu ilahi yang mengatur waktu penyaliban memberi kesaksian bahwa Yahushua dari Nazareth sesungguhnya adalah “domba Paskah Yahuwah yang menghapus dosa dunia”. (Yohanes 1:29)

Pada hari keempat belas dari bulan yang pertama, pada waktu senja, ada paskah bagi Yahuwah. (Lihat Imamat 23: 5).

Alkitab juga memberitahu kita bahwa ini berlangusng pada “hari sebelum hari Sabat”, yang merupakan hari ke-6 dalam sebuah minggu.

Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia [Yahushua], dan melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Elohim!” . . . Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat. Karena itu Yusuf, orang Arimatea . . . memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yahushua. (Lihat Markus 15: 39-43).

Beberapa orang telah menyarankan bahwa “Hari Sabat” yang dirujuk dalam ayat di atas adalah mengacu pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, yang mereka katakan dapat jatuh pada hari apapun dalam sebuah minggu. Kesalahan dari saran ini dapat dengan mudah ditunjukkan bahwa hari berikutnya setelah “hari Sabat” ini adalah “hari pertama dalam minggu itu”.

Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu,
pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. (Matius 28: 1)

Beberapa orang penganut hari Sabat Sabtu mengklaim bahwa Sang Juruselamat disalibkan pada hari Rabu kalender Masehi, karena itu hari Kamis adalah hari pertama dari Hari Raya Roti Tidak Beragi (sebuah hari raya “Sabat”), dan bahwa “Sabat” yang disebutkan dalam ayat di atas adalah hari Sabtu. Namun, kesalahan dari keyakinan ini, dapat dilihat pada fakta bahwa skenario ini akan menempatkan tanggal 10 bulan Abib pada kalender Masehi [Gregorian] pada hari Sabtu, hari yang dengan keliru telah dipercaya oleh para penganut hari Sabat Sabtu sebagai hari Sabat yang Alkitabiah.

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus image

Skenario ini tidak bisa dibenarkan karena orang Israel diperintahkan untuk memilih domba mereka pada hari ke-10 dalam bulan ini (Keluaran 12: 3); jika mereka tidak memiliki ternak yang diperlukan yang dari padanya domba akan dipilih, maka mereka akan membelinya. Membeli dan menjual tentu saja dilarang pada Sabat hari Ketujuh, sehingga mereka yang dengan keliru telah memegang teguh hari Sabtu sebagai hari Sabat harus mengakui kesalahan dari skenario ini5.

Kita tahu sekarang dari Alkitab bahwa Yahushua disalibkan:

Sekarang, kita harus menempatkan semua rincian ini bersama-sama. Di bawah ini adalah sebuah grafik dari fase bulan pada tahun penyaliban, yaitu tahun 31 M. (Catatan: Kolom “Bulan Baru” Astronomi [New Moon] yang ditunjukkan disini adalah waktu konjungsi luni-solar).

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus image

Sumber: http://astropixels.com/ephemeris/phasescat/phases0001.html

Ada sekolah-sekolah yang memiliki perbedaan pemikiran mengenai kapan bulan yang Alkitabiah dan tahun yang Alkitabiah dimulai. Melalui hasil pembelajaran WLC memiliki keyakinan bahwa Hari Bulan Baru dimulai pada saat fajar setelah konjungsi luni-solar dan Tahun Baru dimulai pada Bulan Baru yang paling dekat dengan titik balik matahari musim semi8. Namun, kita akan memeriksa tahun penyaliban dari semua sudut pandang dan menggunakan semua kemungkinan metode perhitungan, untuk melihat apakah ada kemungkinan untuk mendapatkan “Penyaliban hari Jumat”.

Pertama, kita harus memperhatikan waktu konjungsi antara bulan Maret sampai bulan April pada tahun 31 M, karena Tahun Baru bisa dimulai pada salah satu dari bulan-bulan ini ketika semua metode perhitungan sama-sama dipertimbangkan.

Konjungsi:

Ketika memperhitungkan Hari Bulan Baru (hari pertama pada bulan lunar) sebagai hari setelah konjungsi, kita menemukan bahwa Paskah Passover (hari ke-14 pada Bulan Lunar) akan jatuh pada tanggal 25 Maret (setara dengan apa yang kalender Masehi hari ini sebut sebagai “hari Minggu”) atau pada tanggal 24 April (setara dengan apa yang kalender Masehi sebut sekarang sebagai “hari Selasa”). Anda dapat melihat kalender dengan mingguan planetari6 pada tahun 31 M di sini: http://www.timeanddate.com/calendar/?year=31&country=34

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus image

Ini bahkan sama sekali tidak dekat dengan sebuah “Penyaliban hari Jumat”.

Sekarang, mari kita coba menggunakan metode bulan sabit pertama yang dapat terlihat untuk mengawali bulan, sebagaimana yang banyak dianjurkan oleh para tradisionalis. Menurut para sarjana dan para astronom, bulan sabit awal umumnya akan terlihat pada sekitaran 17-23 jam setelah konjungsi, sementara beberapa orang pernah melaporkan sudah dapat melihatnya”lebih cepat 15,5 jam setelah Bulan Baru [konjungsi]” (Badan Observator Angkatan Laut Amerika Serikat).

“Sekitar 17-23 jam setelah bulan baru [konjungsi], bulan sabit tipis sudah dapat terlihat di bumi.” (http://www.moonsighting.com/faq_ms.html7)

“Pada tahun 1855, Tn. GB Airy menyiapkan… perhitungan astronomi… yang berkaitan dengan tahun 29 sampai 34 M. . . . Dia menilai, terutama pada bulan Maret dan April dan dalam iklim di Yudea, 18 jam setelah konjungsi seharusnya sudah dapat terlihat. Tapi, sebagai langkah pencegahan, dia menghitung juga selama 23 jam”. (“The Moon’s visibility and the date of the Crucifixion,” Courtenay R., The Observatory, Vol. 34, hal. 228-232 (1911)).

Menurut Komite Penelitian Sejarah Konferensi Umum Gereja Adven Hari Ketujuh, bulan sabit pertama yang dapat terlihat bisa terlihat di Timur Dekat kurang dari 42 jam setelah konjungsi:

“Di Timur Dekat dibutuhkan 16,5-42 jam setelah konjungsi, tergantung pada apakah gerakannya dalam kaitannya dengan jaraknya dari bumi cepat atau lambat-sebelum bulan menjadi terlihat lagi dalam bentuk sebuah bulan sabit tipis, yang terus membesar dan lebih besar lagi sampai saat bulan purnama”. (The Chronology Of Ezra 7, A Report of the Historical Research Committee Of the General Conference of Seventh-Day Adventists, hal.11)

Ringkasnya, bulan sabit awal:

Itu berarti bahwa kita harus mengharapkan bulan sabit pertama yang terlihat dapat dilihat secara konsisten muncul pada 17-42 jam setelah konjungsi di Yerusalem.

Sekarang kita telah dengan jelas mengetahui parameter untuk mengidentifikasi bulan sabit pertama yang dapat terlihat (yaitu 17-42 jam setelah konjungsi), mari kita mengkaji bulan Maret pada tahun 31 M untuk melihat apakah mungkin untuk sampai pada sebuah “Penyaliban hari Jumat” dengan menggunakan metode bulan sabit pertama yang terlihat untuk mengawali sebuah bulan.

Konjungsi = 11 Maret @ 10: 20 PM (UTC) = 12 Maret @ 12: 20 AM (waktu Yerusalem, UTC + 2). Berikut adalah perkiraan waktu antara konjungsi dan matahari terbenam pada tanggal yang diberikan. (Matahari terbenam di Yerusalem terjadi sekitar pk. 05:45 PM pada pertengahan bulan Maret.)

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus image

Jelas, adalah tidak mungkin untuk mendapatkan sebuah “Penyaliban hari Jumat” di bulan Maret pada tahun 31 M. Sekarang, mari kita periksa bulan April untuk melihat apakah mungkin untuk sampai pada sebuah “Penyaliban hari Jumat” dengan menggunakan metode sabit pertama yang terlihat untuk memulai sebuah bulan.

Konjungsi = 10 April @11:33 AM (UTC) = 10 April @2:33 PM (Yerusalem – Waktu Musim Panas, UTC + 3). Dibawah ini adalah perkiraan waktu antara konjungsi dan matahari terbenam pada tanggal yang diberikan. (Matahari terbenam di Yerusalem terjadi sekitar pk. 7 PM pada pertengahan bulan April).

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus image

Di sini, sekali lagi, kita melihat bahwa tidak ada kemungkinan untuk sampai pada sebuah “Penyaliban hari Jumat”. Untuk mempertahankan bahwa penyaliban memang berlangsung pada hari Jumat di tahun 31 M, para tradisionalis harus mengandaikan bahwa bulan sabit pertama tidak terlihat sampai bulan itu berumur 76,5 jam dengan pencahayaan 10%! Ini jauh melampaui parameter yang dapat diterima yaitu 17-42 jam.

Ingat, sekali lagi, bahwa bulan sabit awal:

Bulan akan paling mungkin telah terlihat pada tanggal 11 April ketika bulan itu telah berumur 28,5 jam. Namun, jika itu tidak terlihat, itu akan pasti telah terlihat pada tanggal 12 April ketika terbenam sekitar 2 jam setelah matahari pada usia 52,5 jam dengan pencahayaan 5%.

Mengatakan bahwa bulan yang belum berumur 76,5 jam belum bisa dilihat sama sekali tidak masuk akal. Bahkan jika sebuah ketidaknormalan seperti itu mungkin terjadi, pernyataan ini disertai dengan ketidakcocokan dampaknya yang tak dapat disangkal telah membuktikan ketidakjelasannya:

Menganut sebuah “Penyaliban hari Jumat” pada bulan April tahun 31 M akan berarti bahwa selama 5 bulan berturut-turut (Februari-Juni), bulan telah menyimpang jauh dari parameter yang diakui untuk menentukan penglihatan (17-42 jam setelah konjungsi). Jika seseorang mau mempertahankan bahwa penyaliban terjadi pada hari Jumat, tanggal 27 April pada tahun 31 M, maka mereka harus percaya bahwa bulan termuda yang bisa dilihat antara Februari dan Juni pada tahun itu adalah berumur 47,75 jam.

Para tradisionalis yang memegang teguh penyaliban pada hari Jumat, tanggal 27 April tahun 31 M harus menerima tanggal 13 Februari sebagai Hari Bulan Baru karena sebuah bulan lunar tidak dapat memiliki lebih dari 30 hari. Dengan menghitung mundur 30 hari dari Hari Bulan Baru pada bulan Maret akan membawa kita sampai pada tanggal 13 Februari. Ini berarti bahwa mereka yang mengikuti cara pandang ini harus percaya bahwa bulan tidak bisa dilihat sampai tanggal 12 Februari ketika bulan itu sudahberumur 53,25 jam. (Catatan: Bulan ini terbenam sekitar 2 jam setelah matahari dengan pencahayaan 6%). Bulan paling mungkin akan terlihat pada tanggal 11 Februari ketika terbenam sekitar 1 jam setelah matahari pada usia 29,25 jam dengan pencahayaan 2%.

Para tradisionalis yang memegang teguh penyaliban pada hari Jumat, tanggal 27 April tahun 31 M harus menerima tanggal 15 Maret sebagai Hari Bulan Baru karena sebuah bulan lunar tidak dapat memiliki lebih dari 30 hari. Dengan menghitung mundur 30 hari dari Hari Bulan Baru pada bulan April akan membawa kita sampai pada tanggal 15 Maret. Ini berarti bahwa mereka yang mengikuti cara pandang ini harus percaya bahwa bulan tidak bisa dilihat sampai tanggal 14 Maret ketika bulan itu sudah berumur 65,5 jam. (Catatan: Bulan ini terbenam sekitar 2,5 jam setelah matahari dengan pencahayaan 8%). Bulan pasti akan terlihat pada tanggal 13 Maret ketika terbenam sekitar 1,5 jam setelah matahari pada usia 41,5 jam dengan pencahayaan 3%.

Para tradisionalis yang memegang teguh penyaliban pada hari Jumat, tanggal 27 April tahun 31 M harus menerima tanggal 14 April sebagai Hari Bulan Baru. Ini berarti bahwa mereka yang mengikuti cara pandang ini harus percaya bahwa bulan tidak bisa dilihat hingga tanggal 13 April ketika bulan itu sudah berumur 76,5 jam. (Catatan: Bulan ini terbenam sekitar 3 jam setelah matahari dengan pencahayaan 10%). Sekali lagi, bulan akan kemungkinan besar telah terlihat pada tanggal 11 April ketika bulan itu telah berusia 28,5 jam. Namun, jika itu tidak terlihat, bulan itu akan pasti telah terlihat pada tanggal 12 April ketika terbenam sekitar 2 jam setelah matahari pada usia 52,5 jam dengan pencahayaan 5%.

Para tradisionalis yang memegang teguh penyaliban pada hari Jumat, tanggal 27 April tahun 31 M harus menerima tanggal 13 Mei sebagai Hari Bulan Baru. Ini adalah skenario kasus terbaik untuk cara pandang ini karena dengan menghitung satu hari tambahan untuk membuat bulanan sebelumnya menjadi sebuah bulan dengan 30-hari akan memaksa untuk menerima bulan tua sebagai bulan sabit pertama yang terlihat. Ini berarti bahwa mereka yang mengikuti cara pandang ini harus percaya bahwa bulan tidak bisa dilihat sampai tanggal 12 Mei ketika bulan itu sudah berumur 62,5 jam. (Catatan: Bulan ini terbenam sekitar 2,25 jam setelah matahari dengan pencahayaan 6%). Bulan ini pasti akan terlihat pada tanggal 11 Mei ketika terbenam sekitar 1,25 jam setelah matahari pada usia 38,5 jam dengan pencahayaan 2%.

Para tradisionalis yang memegang teguh penyaliban pada hari Jumat, tanggal 27 April tahun 31 M harus menerima tanggal 11 Juni sebagai Hari Bulan Baru. Ini adalah skenario kasus terbaik untuk cara pandang ini karena dengan menghitung satu hari tambahan untuk membuat bulanan sebelumnya menjadi sebuah bulan dengan 30-hari akan memaksa untuk menerima bulan tua sebagai bulan sabit pertama yang terlihat. Ini berarti bahwa mereka yang mengikuti cara pandang ini harus percaya bahwa bulan tidak bisa dilihat sampai tanggal 10 Juni ketika bulan itu sudah berumur 47,75 jam. (Catatan: Bulan ini terbenam sekitar 1,75 jam setelah matahari dengan pencahayaan 3%). Bulan ini harusnya sudah terlihat pada tanggal 9 Juni ketika terbenam sekitar 45 menit setelah matahari pada usia 23,75 jam dengan pencahayaan 1%.

Penganut model di atas harus percaya bahwa bulan termuda yang dapat dilihat antara bulan Februari dan bulan Juni tahun 31 M berusia 47,75 jam. Usia sabit terlihat paling awal yang harus diterima, masing-masing adalah: 53,25 jam, 65,5 jam, 76,5 jam, 62,5 jam, dan 47,75 jam. Semuanya ini, tanpa kecuali, jauh melampaui parameter yang ditetapkan untuk menentukan penglihatan bulan.

Ingat, sekali lagi, bulan sabit awal:

  • secara umum dapat dilihat 17-23 jam setelah konjungsi.
  • kadang-kadang dapat memakan waktu hingga 42 jam setelah konjungsi sebelum menjadi terlihat di Timur Dekat (misalnya di Yerusalem).

(Catatan: Model di atas adalah skenario terbaik bagi mereka yang memegang teguh “Penyaliban hari Jumat” pada tahun 31 M. Untuk membuat bahkan satu penyesuaian saja pada jumlah hari dalam bulan-bulan lunar akan mengharuskan penerimaan sebuah bulan, bahkan sebuah bulan lama sebagai sabit pertama yang dapat terlihat. Semuanya harus dihitung dari hari Bulan Baru yang tidak dapat digeser sebagai titik jangkar dari tanggal 14 April karena dari hari itulah hari ke-14 dari bulan lunar (Paskah/Penyaliban) dihitung. Mengubah hari ini akan mengakibatkan hari ke-14 pada bulan lunar tidak akan tiba pada sebuah “hari Jumat”. Dengan menghitung mundur dari titik ini (tanggal 14 April), anda tidak dapat menghitung lebih dari 30 hari karena bulan-bulan lunartidak pernah memiliki hari lebih dari 30. Dengan menghitung maju dari titik ini (tanggal 14 April), anda harus menghitung setidaknya 29 hari karena bulan-bulan lunar tidak pernah memiliki hari kurang dari 29.

Hal ini berarti bahwa, untuk mendapatkan sebuah hari penyaliban yang jatuh pada hari Jumat, tanggal 27 April pada tahun 31 M, seseorang harus menerima bukan hanya satu kelainan (ketidakberaturan yang tidak terjelaskan), tapi 5 sekaligus! Bagaimana bisa seseorang, dalam keadaan sadar, menganut pandangan yang tidak layak semacam ini? sejujurnya kita harus mengikuti bukti ke manapun itu menuntun, bahkan jika hal itu tidak sesuai dengan tradisi-tradisi kita atau dengan pandangan-pandangan kita yang berharga.

Fakta bahwa tidak ada kemungkinan untuk mendapatkan sebuah “Penyaliban hari Jumat” pada tahun 31 M telah dibenarkan oleh para sarjana di seluruh dunia, termasuk mendiang Tn. Isaac Newton (seorang yang dihormati oleh banyak orang sebagai “bapak fisika moderen”).

“Dia [Newton] telah menyingkirkan tahun 31, 32, dan 35 M karena tanggal 14 Nisan tidak bisa jatuh pada hari Jumat, sebagaimana yang telah dibenarkan oleh semua para peneliti moderen”. (“Newton’s Date for the Crucifixion,” Pratt, J. P., Quarterly Journal of the Royal Astronomical Society, Vol.32, NO. 3/SEP, hal.301, 1991).

Kesimpulan:

Alkitab dengan jelas mengungkapkan melalui nubuatan luar biasa “70 minggu” Daniel bahwa Sang Juruselamat disalibkan pada tahun 31 M. Alkitab juga menjelaskan bahwa penyaliban terjadi pada hari ke-6 suatu minggu, dan pada hari ke-14 dari bulan lunar yang pertama. Ketika semua rincian kalender gabungkan bersama-sama, maka telah jelas tak terbantahkan bahwa orang-orang Israel menggunakan kalender yang berbeda dari apa yang dunia sekarang gunakan. Mereka tidak menggunakan kalender Julian, yang merupakan cikal-bakal kalender paus Gregorian moderen [kalender masehi] dengan siklus mingguannya yang tidak terputus.

Memegang teguh “Penyaliban hari Jumat” pada tahun 31 M, telah sama sekali tidak jujur mengikuti bukti kesimpulan yang logis. Sebaliknya, itu adalah konsekuensi dari penghargaan pada tradisi dan dengan keras kepala menolak besaran bobot bukti.

Hal ini juga adalah bukan masalah baru bagi gereja Adven. Ketidakmungkinan “Penyaliban hari Jumat” pada tahun 31 M telah diketahui oleh komite penelitian gereja Adven pada tahun 1930-an! Lihat: Sabat Lunar: Dasar dari Nubuatan 2300 Hari

Banyak orang Kristen tulus yang percaya bahwa hari Sabtu adalah hari Sabat yang Alkitabiah dengan alasan yang tidak lain dan tidak bukan adalah karena hari itulah yang dirayakan oleh “orang Yahudi” moderen. Walaupun benar orang-orang Yahudi saat ini beribadah pada hari Sabtu, hal itu tidak berari bahwa itulah hari Sabat yang sejati. Para sarjana Yahudi dengan sangat jelas mengatakan bahwa metode penanggalan yang asli adalah berbeda dengan kalender moderen dan karena berada dibawa penganiayaan Romawi yang terus menerus pada abad keempat Masehi, orang-orang Yahudi meninggalkan penggunaan kalender lunar-solar asli.

“Di bawah pemerintahan Konstantius (337-362) penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi mencapai tingkatan yang setinggi itu… perhitungan kalender [telah] dilarang di bawah rasa sakit karena hukuman berat”. (“Calendar,” The Jewish Encyclopedia).

“Bulan Baru masih tetap, dan hari Sabat awalnya adalah, tergantung pada siklus bulan di langit”. (Universal Jewish Encyclopedia, hal. 410)

Mereka yang mengajarkan bahwa hari Sabtu adalah hari Sabat mendasarkan keyakinan ini secara eksklusif pada asumsi dan tradisi. Tidak ada orang yang bisa membuktikan kebenaran bahwa hari Sabtu Gregorian Roma berasal dari Alkitab. Semua orang yang berpegang teguh pada hari Sabtu mendasarkan praktek mereka pada tradisi dari mereka yang, sebagai bangsa, menolak Mesias dan kalender moderen yang mereka umumkan berasal dari mereka yang menyalibkan Dia.

Bertentangan dengan asumsi populer, tidak pernah di dalam Alkitab dikatakan bahwa hari Sabat harus dirayakan “setiap tujuh hari”. Sebaliknya, Alkitab mengatakan bahwa Sabat hari ketujuh harus selalu mengikuti enam hari kerja.

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu: tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Yahuwah Elohimmu. (Lihat Keluaran 20: 8-10).

Lihat juga: Keluaran 16:26, 23:12, 31:15, 34:21, 35: 2; Imamat 23: 3; Ulangan 5: 13-14

Hanya karena telah diasumsikan bahwa siklus mingguan itu tidak terputus maka orang menyimpulkan bahwa hari Sabat harus jatuh setiap tujuh hari. Ketika Alkitab diterima dengan tepat sebagaimana adanya dan semua ayat-ayat yang berkaitan dengan kalender dan hari-hari raya (termasuk hari Sabat) dipelajari dengan seksama, maka akan menjadi sangat jelas bahwa kalender Alkitab adalah luni-solar dan sama sekali tidak identik dengan kalender Gregorian kepausan moderen [kalender masehi] dan pendahulunya [kalender Julian].

Dalam Alkitab, setiap bulanan dimulai dengan perayaan sebuah hari ibadah khusus: Hari Bulan Baru10. Enam hari kerja akan mengikuti dan kemudian sebuah Sabat hari ketujuh pada tanggal delapan bulan itu. Tiga minggu lagi akan mengikuti, dan berakhir pada tanggal 29. Siklus mingguan kemudian dimulai kembali setelah Hari Bulan Baru berikutnya. (Tidak ada bulan pernah memiliki lebih dari 30 hari.)

Penyaliban: Membuktikan Kesalahan Siklus Mingguan Tidak Terputus image

Setiap kali Sabat hari ketujuh di dalam Alkitab ditandai dengan sebuah tanggal,
itu selalu jatuh pada hari ke-8, 15, 22 dan 29 pada bulan itu.

Awalnya, semua kalender kuno adalah kalender luni-solar dengan siklus mingguan (dengan panjang beragam) dimulai kembali setiap bulan baru. Secara kronologi tanggal kalender pertama yang memiliki siklus mingguan tidak terputus ada di Babel sekitar tahun 600 SM. Sebelum waktu itu, tidak ada kalender yang digunakan yang siklus mingguannya tanpa interupsi. Siklus mingguan dimulai kembali baik di awal bulan/bulanan atau pada awal tahun yang diikuti dengan lima hari kabisat sebagai penutup tahun sebelumnya tetapi tidak menjadi bagian dari siklus mingguan manapun11.

“Kami meminta kepada anda, kekasih Yahuwah, jangan langsung menerima perkataan kami ini. Silakan selidiki hal-hal ini untuk diri sendiri. Banyak pendapat yang menentang Sabat lunar, yang di permukaan tampak benar, tetapi ternyata sangat salah ketika dikaji dengan seksama”.

“Kami meminta kepada anda, kekasih Yahuwah, jangan langsung menerima perkataan kami ini. Silakan selidiki hal-hal ini untuk diri sendiri. Banyak pendapat yang menentang Sabat lunar, yang di permukaan tampak benar, tetapi ternyata sangat salah ketika dikaji dengan seksama”.

Faktanya adalah bahwa hari Sabat Sabtu Gregorian kepausan moderen tidak dapat dibuktikan benar berdasarkan Kitab Suci atau sejarah kalender12. Doktrin yang salah dari sebuah siklus mingguan tidak terputus dilandaskan hanya pada asumsi. Ini adalah waktu yang penting dimana umat Yahuwah yang setia dapat terbebas dari penipuan ini dan menjadikan Kitab Suci saja sebagai pengatur iman dan perbuatan.

Kami meminta kepada anda, kekasih Yahuwah, jangan langsung menerima perkataan kami ini. Silakan selidiki hal-hal ini untuk diri sendiri. Banyak pendapat yang menentang Sabat lunar, yang di permukaan tampak benar, tetapi ternyata sangat salah ketika dikaji dengan seksama.

Kami mohon pada anda untuk menggali lebih dalam masalah ini dengan hati yang jujur.


Untuk Gereja Adven


Semua kutipan Alkitab diambil dari NKJV kecuali disebutkan lain.

1 Sayangnya, nubuatan yang luar biasa inilah yang terlalu banyak disalah tafsirkan untuk sampai pada gagasan tidak alkitabiah yang semakin populer bahwa dalam waktu dekat, “antikris” misterius akan muncul dan menandatangani perjanjian damai 7 tahun dengan bangsa Israel. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang topik penting ini, lihat “Pengangkatan Rahasia: Senjata Rahasia Setan

2 Nubuatan “70 Minggu” adalah dasar dari sebuah nubuatan yang lebih luas lagi, yaitu nubuatan “2300 hari”. Lihat: Daniel 8: Nubuatan 2300 Hari Disederhanakan

3 Tahun naik takhta Artahsasta I adalah antara tahun 465-464 SM; tahun pertama masa pemerintahannya membentang dari musim gugur 464 SM sampai musim gugur 463 SM. Kita tahu bahwa “keluarnya” keputusan dari Artahsasta terjadi pada tahun 457 SM karena Ezra mengatakan bahwa dia berangkat dari Babel pada musim semi, pada bulan [Alkitab] yang pertama, dan tiba di Yerusalem pada bulan [Alkitab] yang kelima dari tahun ketujuh pemerintahan Artahsasta. “Lalu tibalah dia [Ezra] di Yerusalem pada bulan kelima, yakni pada tahun ketujuh zaman raja itu. Tepat pada tanggal satu bulan pertama ia memulai perjalanannya pulang dari Babel dan tepat pada tanggal satu bulan kelima ia tiba di Yerusalem, oleh karena tangan murah Elohimnya itu melindungi dia”. (Ezra 7: 8-9).

4 http://en.wikipedia.org/wiki/Tiberius

5 Menggunakan kalender lunar-solar Alkitab yang ditetapkan pada masa Penciptaan, tidak perna pernah menjadi sebuah masalah. Orang-orang Farisi yang menulis Talmud harus membuat aturan khusus untuk menangani situasi-situasi seperti ini, dan tidak ada satupun daripadanya yang dapat didukung oleh Alkitab. http://www.truthontheweb.org/postpone.htm (Catatan: WLC sama sekali tidak mendukung ajaran yang ditemukan di dalam situs ini. Namun, link diberikan untuk menggambarkan dengan baik beraneka ragam aturan penundaan yang dibuat oleh orang-orang yang menolak baik Sang Mesias maupun kalender Surga).

6 Roma, pada zaman Kristus, tidak menggunakan mingguan yang berisi 7 hari planet seperti yang digunakan oleh dunia zaman sekarang. Sebaliknya, mereka menggunakan mingguan dengan siklus 8 hari berdasarkan kalender Julian:

7 http://www.moonsighting.com/faq_ms.html – WLC sama sekali tidak mendukung doktrin-doktrin yang dianut oleh situs ini, sebagaimana situs ini sama dengan ajaran Islam. Namun, tidak ada yang bisa membantah, bahwa mereka mempraktikkan Islam, walaupun tertipu, namun sangat serius dan sangat rajin dalam pembelajaran mereka pada bulan dan penampakan bulan awal setelah konjungsi, karena melalui pengamatan ini mereka menentukan awal dari bulan mereka.

8 Dengan metode perhitungan WLC, Paskah Passsover akan jatuh pada tanggal 25 Maret di tahun 31 M.

9 Daftar terbit/terbenamnya bulan, serta persentase pencahayaan dikonfirmasi dengan Starry Night Pro, Quick Phase Pro, and perangkat lunak Stellarium. Anda dapat men-download Stellarium secara gratis di link berikut: http://www.stellarium.org/

10 Pentingnya Bulan Baru dapat dilihat pada fakta bahwa kurban yang diperluhkan pada waktu Bulan Baru jauh lebih banyak dibanding dengan yang ditentukan untuk Sabat hari ketujuh mingguan. (Bilangan 28: 11-15).

11 Eviatar Zerubavel, The Seven Day Circle, hlm. 7-8.

12Siklus Mingguan Tidak Terputus Terbukti Salah

8 Hari Per Minggu? Sejarah Kalender Julian (>> Video)

Mingguan Tujuh Hari Moderen: Menelusuri Sejarah Sebuah Kebohongan

Batas Penanggalan Internasional Berubah: Hari Sabat Tidak Berubah? (>> Video)

Sarjana Katolik Membenarkan Bahwa Sabtu dan Minggu Bukanlah Sabat Alkitab


Rahasia Terungkap

Kalender Sang Pencipta memiliki dua kategori hari yang tidak terdapat di dalam kalender kepausan moderen/kalender kafir, yaitu: Hari Bulan Baru dan Hari Translasi. Setelah hal ini dipahami, maka akan lebih mudah untuk memahami bagaimana waktu dihitung pada awalnya.

Selama hampir 2.000
tahun
, sebagian dari dunia barat telah mengatur waktu dengan siklus
mingguan tujuh hari yang sama. Hal ini telah menciptakan ilusi diantara orang-orang
Kristen bahwa mingguan moderen dari hari Minggu sampai
hari Sabtu telah bersiklus tanpa henti dan tanpa interupsi sejak masa Penciptaan.
Hal ini tidak benar. Negara terakhir yang secara resmi mengadopsi kalender
Gregorian moderen [kalender masehi] adalah negara Yunani pada tahun 1923, tetapi
barulah pada tahun 1949 seluruh dunia disatukan untuk menggunakan kalender ini.
Pengetahuan tentang waktu, dan bagaimana waktu itu dihitung, memungkinkan
seseorang untuk memahami makna dari Hari Bulan Baru dan Hari Translasi yang
muncul dalam metode pengatur waktu Alkitab.

“Waktu adalah sebuah perpindahan di mana kita tiba melalui perubahan [pergerakan] benda-benda”.

Fisikawan Austria, Ernst Mach (1838-1916)

Waktu hanya bisa diukur melalui pergerakan.

Manusia berhubungan dan mengukur waktu dengan
mengacu pada gerakan. Jarum-jarum pada sebuah jam bergerak di sekitar permukaan-jam
untuk menunjukkan jam-jam, menit-menit dan detik-detik. Satu tahun ditentukan
oleh perputaran Bumi mengelilingi Matahari. Satu bulan ditentukan oleh perputaran
bulan mengelilingi bumi. Satu hari ditentukan oleh perputaran bumi pada
porosnya1.

Perbedaan dalam
Perhitungan Waktu: Bingung pada Minggu-minggu

Tanpa pergerakan, waktu tidak dapat diukur. Kalender
moderen adalah sebuah kalender matahari yang mendasarkan tahunnya pada lamanya
waktu yang dibutuhkan oleh bumi untuk berputar mengelilingi matahari. Hari didasarkan
pada berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh bumi untuk membuat satu putaran
lengkap pada porosnya: yaitu 24 jam. Pada kalender moderen, minggu-minggu dan
bulan-bulan tidak didasarkan pada apa pun di alam. Keduanya benar-benar seenaknya. Hal ini berbeda dengan kalender
luni-solar yang ditetapkan oleh Yahuwah pada masa penciptaan dunia.

waning moonKalender dari masa penciptaan didasarkan sepenuhnya
pada alam. Dari tahun-tahun sampai bulan-bulan, dari minggu-minggu sampai hari-hari,
itu semua didasarkan pada pergerakan. Kata “bulan”
berasal dari kata bulan [dilangit]. Pada zaman kuno, bulan-bulan kalender selalu
didasarkan pada pergerakan bulan di langit. Pada gilirannya, minggu-minggu,
adalah bagian dari bulan, atau bulanan kalender. “Sabat Ibrani … dirayakan pada interval tujuh hari, sesuai dengan
perubahan fase bulan di langit …”2. Fakta bahwa bulanan dan
mingguan pada kalender Alkitabiah juga didasarkan pada gerakan di alam membuat
kalender luni-solar Yahuwah dan kalender matahari kepausan/kalender kafir yang
digunakan saat ini memiliki perbedaan yang sangat besar. Hal ini juga
menciptakan banyak sekali kebingungan.

Kedua kalender ini tetap melacak berapa banyak waktu
yang diperlukan oleh bumi untuk menyelesaikan satu putaran mengelilingi
matahari (satu tahun). Keduanya membagi tahun menjadi lebih kecil, menjadi
bagian yang lebih mudah dikelola. Tapi sampai di sini, kesamaan berakhir.
Kalender moderen memiliki panjang bulanan mulai dari 28 hari sampai 31 hari.
Bulan-bulan tidak terikat dengan apa pun di alam. Akibatnya, siklus mingguannya
berlanjut terus dan tanpa interupsi dari satu bulan, ke bulan berikutnya; dari
satu tahun, ke tahun berikutnya.

“Hari Sabat bergantung, pada periode nomaden Israel, pada pengamatan fase bulan di langit, … tidak bisa, menurut pandangan ini, menjadi sebuah hari yang tetap”.

jewishencyclopedia.com

Di sisi lain, Kalender Sang Pencipta, mendasarkan setiap bulan kalender
pada pergerakan bulan di langit. Setiap bulan dimulai dengan hari bulan baru. Minggu, menjadi sebuah bagian
dari bulan, yang memulai kembali siklusnya pada setiap Bulan Baru. “Bulan
Ibrani adalah bulan lunar dan seperempat bagian dari periode ini –satu fase
dari bulan di langit– tampaknya telah ditentukan membentuk sebuah minggu yang
terdiri dari tujuh hari”3. Di sinilah titik yang paling sulit
untuk dipahami ketika pertama kali mulai mempelajari kalender dari masa Penciptaan:
kalender matahari moderen memiliki sebuah siklus mingguan tidak
terputus

dan Kalender dari masa Penciptaan tidak.

Bulan-bulan Baru adalah komponen yang penting dari
metode pengatur-waktu Alkitab karena bulan-bulan baru adalah titik waktu di
mana siklus mingguan dimulai kembali pada bulan itu. Kalimat “Bulan Baru”
di dalam Alkitab berasal dari kata Ibrani, Chodesh.The New Strong Exhaustive Concordance of
the Bible
mendefinisikan Chodesh sebagai “bulan baru di langit; yang menjadikan sebuah bulan kalender”. The New Strong’s Expanded Dictionary
of Bible Words
menguraikan hal ini, dengan penjelasan: “Chodesh dapat merujuk pada sebuah ‘bulan
kalender’, atau periode dari satu bulan baru di langit ke bulan baru di langit
berikutnya. . . . Dalam nuansa terkait kata ini merujuk tidak begitu banyak pada
sebuah ukuran waktu seperti sebuah periode waktu, atau satu bulan
kalender”4.

Dengan demikian, di dalam Alkitab, “Bulan
Baru” dapat merujuk pada:

  1. Hari pertama pada sebuah bulan
    baru.
  2. Periode waktu antara satu
    bulan baru di langit sampai bulan baru di langit berikutnya.
  3. Sebuah bulan kalender.
“Sama seperti bulan baru dan Sabat yang adalah hari-hari raya lunar, Paskah (dengan Hari Raya Roti Tidak Beragi), Pentakosta, dan Hari Raya Bait Suci adalah perayaan solar, yaitu perayaan yang mengikuti musim-musim setiap tahun”.

A Dictionary of the Bible: Dealing With Its Language, Literature, and Contents Including Biblical Theology, 1898, Vol.1, hal. 860.

Alkitab berisi banyak rujukan5 pada bulan
baru di langit sebagai hari di mana bulan baru kalender dimulai. Kaitan yang
sangat dekat dari bulan kalender sebagai periode waktu terkait dengan bulanan bulan
di langit dapat dilihat pada fakta bahwa ada lebih banyak lagi rujukan Alkitab6 yang menggunakan kataChodesh untuk merujuk pada sebuah
bulan kalender melebihi penggunaannya sebagai hari pertama pada sebuah bulan di
langit. Chodesh digunakan 20 kali
dalam Alkitab untuk merujuk pada hari pertama dari sebuah bulanan baru. Dan Chodesh digunakan 251 kali untuk merujuk
pada sebuah bulan kalender, atau bulanan.

Kata Ibrani lain yang menghubungkan sebuah bulan
kalender pada bulan di langit adalah yerach,
(#3391). Kata untuk “bulan” ini tidak merujuk pada sebuah bulan baru di langit, tetapi menghubungkan
satu bulan kalender dengan sebuah bulanan: “sebuah bulanan, yaitu bulan: — bulan
kalender, bulan di langit”7. Kedua kata ini menghubungkan sebuah bulan di dalam kalender pada
sebuah bulanan dari bulan di langit:

Chodesh: bulan baru di langit; bulan
kalender; bulanan.
Yerach:
bulan kalender; bulanan,
bulan di langit.

Bulan-bulan Baru di langit tidak memiliki hari yang
sesuai dengan kalender Gregorian [kalender masehi] yang bulan-bulannya terpisah
dari apa pun yang ada di alam. Dengan demikian, banyak orang yang bingung apa
yang harus dilakukan pada Bulan Baru atau bagaimana merayakannya. Alkitab
mengungkapkan beberapa hal tentang perayaan Bulan Baru:

  1. Bulan Baru adalah hari tanpa
    perdagangan.
  2. Bulan Baru adalah hari
    pengucapan syukur.
  3. Bulan Baru adalah hari
    ibadah.

Bulan Baru
adalah hari tanpa perdagangan

man and woman making a business transactionOrang-orang Yahudi selalu memiliki sebuah reputasi yang
sangat “baik” mengenai uang: yaitu, mengambil keuntungan dari setiap
kesempatan untuk menghasilkan uang dan tambahan bunga yang tinggi dari bangsa-bangsa
lain. Orang-orang Yahudi pada zaman Alkitab juga tidak berbeda. Ketika berada di
dalam kemurtadan, orang-orang Yahudi benci jika harus menutup toko mereka pada
hari-hari Sabat dan hari-hari Bulan Baru. Alkitab mencatat ratapan dari para pedagang
yang serakah ini:

“Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh
menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan
terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca
palsu,

Supaya kita membeli orang lemah karena uang dan
orang yang miskin karena sepasang kasut; dan menjual terigu bekas?”

Yahuwah telah bersumpah demi kebanggaan Yakub:
“Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan
mereka!” (Amos 8: 5-7).

Namun, pekerjaan yang dilakukan untuk bait suci
diijinkan.

Berfirmanlah Yahuwah kepada Musa: “Pada hari
yang pertama dari bulan yang pertama haruslah engkau mendirikan Kemah Suci,
yakni Kemah Pertemuan itu.

Dan Musa melakukan semuanya itu tepat seperti yang
diperintahkan Yahuwah kepadanya, demikianlah dilakukannya.

Dan terjadilah dalam bulan yang pertama tahun yang
kedua, pada tanggal satu bulan itu, maka didirikanlah Kemah Suci. (Keluaran 40:
1-2, 16-17).

Hal ini dimungkinkan, tetapi tidak diketahui,
bentuk-bentuk lain dari “pekerjaan” dapat diterima untuk dilakukan
pada hari Bulan Baru. Namun, tidak ada pekerjaan yang menghasilkan pendapatan,
tidak ada perdagangan, yang boleh
dilakukan pada hari Bulan Baru maupun pekerjaan rutin lainnya yang dapat
dilakukan pada hari-hari lain.

Bulan Baru
adalah hari Pengucapan Syukur

“Pada zaman para nabi mula-mula, Bulan Baru disejajarkan dengan perayaan lunar lainnya, yaitu hari Sabat”.

Scribner’s Dictionary of the Bible, edisi 1898, hal. 521.

Bulan Baru adalah waktu bagi keluarga untuk
berkumpul, berbagi makanan dan bersukacita atas berkat-berkat dari bulan lalu, serta
mendedikasikan diri kembali kepada Yahuwah untuk bulan yang baru. Sumber
Alkitab maupun catatan tambahan Alkitab menghadirkan Bulan Baru sebagai sebuah hari
untuk menghabiskan waktu dan berkumpul bersama dengan keluarga dan teman-teman sambil
menikmati perjamuan makan. Beberapa sumber menyatakan bahwa hari bulan baru
adalah hari di mana perempuan secara khusus dibebaskan dari banyaknya beban
pekerjaan rumah tangga. Ayat-ayat lain di dalam Kitab Suci mengungkapkan bahwa
Bulan Baru, seperti hari-hari Sabat, adalah sebuah waktu di mana orang-orang
akan pergi untuk membuat permintaan khusus dari para nabi.

Bulan Baru pada
awalnya adalah hari ibadah

Pada bagian dimana Alkitab membisu, sejarah dapat memberikan
penjelasan tambahan. Edisi mula-mula dari Universal Jewish Encyclopedia menyatakan
bahwa Bulan Baru pada awalnya adalah hari untuk beribadah:

Sabat dan Bulan Baru (Rosh Hodesh), keduanya terjadi secara berkala dan berulang
dalam perjalanan tahun. Bulan Baru masih
sama, dan hari Sabat sama seperti semula, bergantung pada siklus bulan di
langit
. Kedua tanggalnya berpatokan pada periode nomaden Israel. Awalnya Bulan Baru dirayakan dengan cara
yang sama seperti hari Sabat
; secara bertahap hal itu menjadi kurang
penting saat hari Sabat menjadi lebih dan lebih menjadi sekedar sebuah hari
agama dan kemanusiaan, hari untuk meditasi dan instruksi rohani, hari yang
tenang dan menyenangkan bagi jiwa8.

Hari Translasi

Hari Translasi, seperti Bulan Baru, tidak memiliki
korelasi langsung di dalam kalender matahari moderen. Namun, adalah penting untuk
memahami keduanya agar sebuah pemahaman yang jelas tentang kalender Yahuwah
dapat diperoleh.

starry night sky“Hari Translasi” adalah sebuah istilah
astronomi yang tidak ditemukan di dalam Alkitab. Namun, fakta bahwa bulan
kalender Alkitab didasarkan pada siklus bulan di langit merupakan bukti yang
cukup bahwa hari-hari translasi ada di dalam kalender Alkitab. Menurut United States Naval Observatory, bulanan
memiliki panjang 29,5 hari. Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap bulan
memiliki 29 hari, dan bulan tertentu memiliki 30 hari. Sebuah bulanan tidak
pernah kurang dari 29 hari atau lebih dari 30 hari. Ini adalah sebuah fakta
astronomi yang dapat dibuktikan.

Para astronom menggunakan istilah “hari
translasi” untuk menunjuk pada hari ke-30 pada sebuah bulanan. Itu terjadi
pada akhir dari siklus bulan di langit pada saat “bulan mati” yaitu ketika
bulan di langit tidak bisa terlihat.

Karena waktu itu sendiri berjalan tanpa henti,
banyak orang yang percaya bahwa sistem
yang olehnya waktu itu dihitung harus demikian juga, tidak pernah berhenti. Ini
adalah sebuah asumsi yang salah. Awalnya, semua kalender kuno adalah kalender luni-solar
dengan siklus mingguan (yang panjangnya bervariasi) dimulai kembali setiap
bulan baru. Secara kronologi tanggal dari kalender pertama yang memiliki sebuah
siklus mingguan tidak terputus ada di Babel sekitar tahun 600 SM. Sebelum waktu
itu, tidak ada kalender yang menggunakan sebuah siklus mingguan yang tidak
memiliki interupsi. Siklus mingguan dimulai kembali pada awal bulan/bulanan
atau pada awal tahun yang diikuti oleh lima hari tambahan sebagai penutup tahun
sebelumnya tetapi tidak masuk dalam siklus mingguan manapun9.

Semua waktu harus diperhitungkan. Dengan demikian, hari
translasi tidak bisa dianggap sebagai “bukan-hari” seperti yang
sarankan oleh beberapa orang. Hari-hari translasi memiliki sebuah tanggal: yaitu
tanggal 30 pada setiap bulan yang memiliki tiga puluh hari. Tanggal 30 pada
sebuah bulan, sama seperti tanggal pertama setiap bulan, adalah bukan bagian
dari siklus mingguan tujuh hari. Namun, itu dihitung dan memiliki sebuah tanggal.

Kebingungan atas hari translasi telah menyebabkan
beberapa orang menolak kalender luni-solar Alkitab. Perintah ke-empat dengan jelas
menyatakan: “Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala
pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Yahuwah, Eloahmu”.
(Keluaran 20: 9-10). Ketidakmengertian pada hari translasi telah menimbulkan
asumsi yang salah bahwa dalam sebuah bulan yang memiliki tiga puluh hari, ada
total sembilan hari antara Sabat hari ketujuh pada tanggal 29 di bulan itu dan Sabat
hari ketujuh berikutnya pada tanggal 8
di bulan yang baru. Hal ini tampaknya menjadi sebuah masalah karena rentang
waktu itu lebih besar dari interval enam hari kerja antara hari-hari Sabat yang
telah ditentukan di dalam hukum ke-empat. Namun, karena Bulan Baru adalah termasuk
jenis hari yang dikuduskan, maka tidak pernah ada lebih dari enam hari kerja di
antara hari-hari ibadah. (Sebuah bulan lunar tidak pernah memiliki lebih dari
30 hari dan tidak pernah lebih pendek dari 29 hari. Jadi, hari berikutnya setelah
tanggal 30, yaitu Bulan Baru di langit, selalu
menjadi awal dari bulan baru kalender. Ada bulan kalender yang berturut-turut
kadang-kadang memiliki 29 hari atau 30 hari sebagaimana yang ditentukan oleh
bulan di langit.)

lunar-solar calendar

Asumsi yang menyatakan bahwa akan ada terlalu banyak
hari kerja antara hari-hari Sabat berasal dari ketidakpahaman bahwa Bulan Baru
itu sendiri adalah sebuah hari ibadah yang memulai siklus baru empat minggu: yaitu
enam hari kerja, yang masing-masing diikuti oleh sebuah Sabat hari ketujuh. Seperti
Bulan Baru yang memulai siklus
mingguan baru untuk bulan baru, hari translasi adalah bukan bagian dari siklus
mingguan, meskipun begitu hari translasi adalah sebuah hari yang memiliki tanggal. Hari translasi, yang selalu menjadi
hari ke-30 pada sebuah bulan lunar, tidak pernah dapat dipindahkan ke bulan
berikutnya atau dihitung sebagai tanggal di bulan yang baru karena bulan depan selalu dimulai dengan hari Bulan Baru,
yang merupakan hari berikutnya setelah
hari translasi. Dengan Bulan Baru, sebuah siklus baru empat minggu dimulai.
Yang cukup menarik, kebingungan ini selalu muncul di antara orang-orang barat
yang hanya pernah mengenal kalender dengan sebuah siklus mingguan yang tidak
terputus. Di negara-negara yang menggunakan penanggalan lunar sebagai kalender
agama mereka, itu adalah sebuah konsep yang sangat mudah untuk dipahami.

Yahuwah selalu dengan jelas menentukan dengan nama
atau tanggal dari hari yang harus dirayakan secagai hari yang kudus. Dengan
demikian, semua hari yang tidak secara khusus dijadikan sebagai hari-hari raya adalah merupakan hari
kerja. Tidak akan pernah ada lebih dari enam hari kerja di antara hari-hari
istirahat, sama seperti Bulan Baru yang adalah hari istirahat.

Kategori-kategori
Hari

Kalender matahari Gregorian [kalender masehi]
memiliki kategori yang berbeda mengenai hari: hari kerja/hari
sekolah, akhir pekan (ketika kebanyakan orang berhenti bekerja), dan hari libur
nasional. Kalender Alkitabiah memiliki tiga kategori mengenai hari ibadah:

  1. Mingguan (Sabat hari
    ke-tujuh)
  2. Bulanan (Bulan Baru)
  3. Tahunan (Hari raya tahunan)
New Moon Day Sacrifices

Pentingnya Bulan Baru dapat dilihat pada fakta bahwa jumlah kurban yang ditentukan untuk Bulan Baru jauh lebih banyak dari yang ditentukan untuk perayaan mingguan, Sabat hari ketujuh!

Banyak orang yang telah dengan yakin beribadah
dengan menggunakan kalender Alkitab merayakan perayaan mingguan dan tahunan,
tetapi perayaan bulanan yaitu Bulan
Baru sering diabaikan. Hal ini sebagian disebabkan oleh ketidaktahuan bagaimana
cara untuk merayakan Bulan Baru. Namun, pentingnya Bulan Baru dapat dilihat
pada fakta bahwa jumlah kurban yang ditentukan untuk Bulan Baru jauh lebih banyak dari yang ditentukan untuk perayaan
mingguan, Sabat hari ketujuh! Kurban yang diperlukan untuk Sabat hari ketujuh
itu hanyalah dua ekor domba yang dipersembahkan setiap hari ditambah dua ekor
domba tambahan dan sedikit persembahan berupa makanan dan minuman. Namun,
kurban untuk Bulan Baru, termasuk dua ekor lembu jantan muda, seekor domba
jantan dewasa dan tujuh ekor anak domba,
ditambah dengan sejumlah besar persembahan berupa makanan dan minuman – selain
dua ekor domba yang selalu dipersembahkan setiap hari.

Di bawah sistem kurban perjanjian lama, para imam
membakar kurban pagi dan kurban petang setiap harinya. Yahuwah telah menentukan
jenis kurban untuk setiap jenis hari yang harus dipersembahkan. Kurban harian
yang umum adalah domba. Yang lebih besar, yaitu kurban yang lebih mahal dipersembahkan
pada hari-hari raya tahunan. Jika hari-hari diurutkan berdasarkan jenis kurban tertentu
untuk hari itu, maka urutannya akan menjadi sebagai berikut, dari yang paling
biasa menjadi yang paling penting:

4. Setiap hari pada hari kerja
3. Sabat hari ketujuh
Mingguan
2. Bulan-bulan Baru
1. Perayaan Tahunan

Kalender:
Pengingat Penciptaan

Semua Ciptaan telah dirancang untuk mengungkapkan
kebenaran mengenai Sang Pencipta dan untuk mendekatkan hati dan pikiran manusia
kepada Sang Pencipta mereka dalam ucapan syukur couple praying togetheryang diberikan secara sadar.
Kalender yang dibuat oleh Yahuwah adalah kalender yang dirancang secara ilahi
untuk hal tersebut. Sabat hari ketujuh mingguan harus dikuduskan, dikhususkan
untuk beribadah kepada Sang Pencipta. Kata “Sabat” berasal dari Shabath (#7673) dan berarti “beristirahat,
yaitu berhenti bekerja”10.
Tapi bukan hanya hari-hari Sabat mingguan yang harus dikuduskan. Aslinya, hari-hari
Bulan Baru bulanan dan, tentu saja, perayaan tahunan yang sepanjang masa akan
dijadikan pengingat pada kebaikan Sang Pencipta.

Seperempat bagian dari bulan di langit memberikan
pembagian yang jelas pada bulan kalender … itulah yang paling signifikan sehingga
di bagian yang paling tua dari kitab suci Ibrani, bulan baru dan hari Sabat
hampir selalu disebutkan bersama-sama. Bulan kalender [lunar] tidak
dipertanyakan lagi menjadi pembagi waktu kudus dan waktu umum pada semua
penganut paham Ibrani; bahkan orang-orang Arab, yang
menerima mingguan pada periode akhir dari orang-orang Suriah, yang menyambut
datangnya Bulan Baru dengan acara keagamaan. … Kita tidak bisa mengatakan [dengan
pasti] kapan hari Sabat kemudian dipisahkan dari bulan kalender11.

Pertemuan kudus Yahuwah, termasuk Hari-hari Bulan
Baru, adalah waktu untuk membuat komitmen yang baru kepada Sang Pencipta; sebuah
waktu untuk mengakui pemberian Bapa dalam keluarga secara perlahan, juga
sahabat dan berkat-berkat yang lain. Bulan Baru membawa berkat bagi semua orang
yang mau menyisihkan waktu ini untuk mengakui berkat-berkat Yahuwah. Mereka
akan terus memeliharanya sepanjang kekekalan sebagai waktu untuk bersukacita di
bawah berkat Sang Pencipta penuh kasih yang tak berujung.

“Dan akan terjadi, bahwa dari satu Bulan Baru
sampai Bulan Baru berikutnya, dan dari satu Sabat sampai Sabat berikutnya,
semua manusia akan datang untuk menyembah Aku, demikianlah firman Yahuwah”.
(Yesaya 66:23).


1 http://www.articlesnatch.com/Article/What-Is-Time–/137691#.VONrLDoTvjA

2 Encyclopedia Biblica, edisi 1899, hal. 4180.

3 S.d.a., hal. 4780.

4 #2320, The New Strong’s Expanded
Dictionary of Bible Words,
hal. 453.

5 1 Tawarikh 23:31; 2 Tawarikh 2:4; 2 Tawarikh 8:13;
2 Tawarikh 31:3; Ezra 3:5; Nehemiah 10:33; Yesaya 1:13-14; Hosea 2:11; Mazmur
81:3.

6 Kejadian 38:24; Keluaran 12:2; Bilangan 10:10; Hakim-hakim
11:37-38; 1 Samuel 27:7; 2 Samuel 24:13; 2 Raja-raja 23:31; Ester 2:12; Yeheskiel
39:12-14; Amos 4:7, dll.

7 New Strong’s Exhaustive Concordance of the
Bible.

8 Universal Jewish Encyclopedia, hal.
410.

9 Eviatar Zerubavel, The Seven Day
Circle,
hal. 7-8.

10 The New Strong’s Expanded Dictionary of
Bible Words,
hal. 833.

11 Encyclopedia Biblica, op cit.,
hal. 4178-4179.

Yehezkiel, pasal satu sampai pasal delapan,
memberikan bukti Alkitabiah dari adanya bulan ketiga belas. Bagian ini
memberikan beberapa tanggal tertentu. Dalam pasal-pasal ini, Yahuwah berfirman kepada
Yehezkiel untuk melakukan sebuah perumpamaan, untuk mengungkapkan nasib
Yerusalem karena memberontak melawan Surga. Dalam Yehezkiel 1: 1-2, Yehezkiel
menerima penglihatan pada hari kelima daribulan keempat pada tahun kelima pembuangan raja Yoyakhin. Dalam
beberapa pasal selanjutnya, dalam Yehezkiel 3:15, diberikan tanggal pada hari ke-11 dari bulan keempat di tahun yang sama.

Dalam Yehezkiel 4: 1-11, Yahuwah berfirman kepada
Yehezkiel untuk berbaring di sisi kirinya selama 390 hari dan kemudian di sisi
kanannya selama 40 hari. Totalnya adalah 430 hari. Pasal-pasal selanjutnya
menjelaskan ketaatan Yehezkiel pada perintah ini. Tanggal spesifik selanjutnya
diberikan dalam Yehezkiel 8: 1: "Pada tahun
keenam
[sejak masa pembuangan raja Yoyakhin], dalam bulan yang keenam, pada tanggal
lima
bulan itu, waktu aku duduk di rumahku . . . , kekuasaan [Yahuwah
Elohim] meliputi aku di sana, "

Yehezkiel telah selesai berbaring selama 430 hari di
sisinya. Inilah sebabnya, satu tahun dan dua bulan kemudian, ia duduk di rumah.
Jumlah penuh dari 430 hari hanya dapat dicapai dalam kalender matahari pada
saat tahun embolismik ketika bulan ketiga belas tambahan telah dimasukkan ke
dalamnya. Dengan hanya menggunakan tahun matahari sepanjang 365 hari, maka
Yehezkiel tidak akan memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan tugasnya untuk
berbaring di sisinya dan kembali ke rumah pada bulan keenam.

Pada kalender matahari yang ketat, hitungan dari
hari ke-11 dari bulan keempat sampai hari kelima bulan keenam, hanya akan
menghasilkan 413 hari! Itu adalah lebih pendek 17 hari. Jika kalender lunar
biasa yang hanya terdiri dari 12 bulan lunar digunakan, maka itu hanya akan
diperhitungkan sebanyak 403 hari. Hitungannya masih akan lebih pendek 27 hari!

Jumlah penuh sebanyak 430 hari dapat dicapai,
dan Yehezkiel tetap dapat pulang pada hari kelima bulan keenam, hanya jika
Yehezkiel menggunakan kalender luni-solar yang sedang berada pada tahun
embolismik yang memiliki bulan ketiga belas. Bulan ketiga belas dari kalender
luni-solar selalu terdiri dari 29 hari, sehingga Yehezkiel memiliki banyak
waktu yang tersisa untuk menyelesaikan tugas melakukan perumpamaan yang telah ditetapkan
secara ilahi.

Tanya: Apa alasan utama World’s Last Chance tidak
mau merayakan Natal?

Jawab: Ini adalah 4 alasan utama kami untuk tidak
merayakan Natal:

1. Yahushua tidak lahir pada
tanggal atau disekitar tanggal 25 Desember.

Kebanyakan para ahli sepakat bahwa tanggal 25
Desember adalah tidak berkaitan sama sekali dengan kelahiran-Nya. Alasan
pertama mengapa Yahushua tidak mungkin lahir di bulan Desember ditemukan dalam
sebuah fakta yang disebutkan oleh Lukas dalam hubungannya dengan gembala yang
“tinggal dipadang, menjaga kawanan domba mereka pada waktu malam” (Lukas 2:8).
Tidak ada gembala manapun yang akan ditemukan menjaga kawanan gembalaannya
diluar pada waktu malam dalam kondisi cuaca (hujan dan sangat dingin) seperti
itu ditemukan di dalam atau di sekitar Betlehem pada bulan Desember. Cuaca yang
seperti ini sangat kuat menentang pendapat bahwa Kristus lahir pada tanggal 25
Desember, sebagaimana cuaca tidak akan mendukung para gembala untuk berada
diluar bersama kawanan gembalaannya.

Lebih jauh, adalah sangat tidak masuk akal bagi Roma
untuk melakukan sensus administrasi selama musim paling dingin di tahun itu.
Lukas memberitahu kita bahwa Kristus telah lahir di Betlehem karena orangtuanya
hendak mendaftar dalam sensus Romawi. Adalah jauh lebih masuk akal jika pada
saat itu orang-orang merasa nyaman untuk jalan berkeliling, dan tidak terhambat
oleh kondisi cuaca yang buruk. Dengan demikian, membantah setiap pendapat yang
mengatakan bahwa Yahushua lahir di bulan Desember.

2. Natal tidak perna disebutkan
dalam semua kitab Perjanjian Baru

Di dalam seluruh kitab Perjanjian Baru tidak perna
ada satu catatan yang dapat kita temukan melaporkan orang-orang Kristen
merayakan hari kelahiran Yahushua pada tanggal 25 Desember, atau pada tanggal
manapun juga. Sekalipun kitab Perjanjian Baru menyebutkan beberapa detail
mengenai kelahiran-Nya. Lebih penting lagi, tidak perna ada perintah dari Kristus
atau Bapa sorgawi kita untuk merayakan kelahiran-Nya. Walau benar juga bahwa
merayakan kelahiran Yahushua tidak perna dilarang di dalam Alkitab, tetapi
tidak adanya catatan yang berhubungan dengan perayaan seperti ini di dalam
Perjanjian Baru seharusnya tidak perlu diabaikan atau ditolak. Sebagai
tambahan, adalah merupakan fakta yang terbukti bahwa gereja Kristen mula-mula
tidak perna merayakan kelahiran Yahushua pada tanggal 25 Desember atau pada
tanggal manapun juga.

“Natal tidak masuk dalam salah satu perayaan
dari . . . [gereja] . . . bukti pertama
dari perayaan ini adalah dari Mesir.” (Ensiklopedi Katholik edisi 1911).

3. Natal adalah sebuah perayaan
KAFIR
dan tidak ada hubungannya dengan Kekristenan.

Perayaan 25 Desember adalah perayaan kuno untuk
merayakan hari ulang tahun dewa MATAHARI yang tidak terlihat, (secara umum
dikenal sebagai Tamus, Mitra, Saturnus, Adonis atau Baal) jauh sebelum Kristus
lahir di Betlehem. Adalah menarik untuk mencatat bagaimana tanggal 25 Desember
menjadi waktu lahir Yahushua. Sejarahwan Gerard dan Patricia Del Re mengatakan
berikut ini:

“Tradisi untuk merayakan 25 Desember sebagai hari
kelahiran Kristus oleh orang-orang Roma berasal dari Persia. Mitra, dewa terang
dan suci orang Persia, telah lahir dari batu pada tanggal 25 Desember. Roma
terkenal dengan rayuan pada dewa asing dan aliran sesat, dan pada abad ketiga,
Kaisar Aurelian yang bukan Kristen menetapkan perayaan Dies Invicti Solis, Hari
Matahari Yang Takterlihat, pada tanggal 25 Desember.”

“Mitra adalah perwujudan dari matahari. Sehingga
periode ini lahir kembali menjadi hari utama kaum Mitraisme, yang kemudian
menjadi agama resmi terbaru Romawi . . . dipercaya bahwa Kaisar Konstantin mematuhi
Mitraisme sebelum masa perpindahannya pada Kekristenan. Dia mungkin berperan
dalam membawa pesta besar agamanya itu kedalam keyakinan barunya”. (The
Christmas Almanac, tahun 1979, hal.17).

Asal mula kekafiran natal lebih jauh dapat dilihat
dengan banyaknya tampilan yang berhubungan natal itu, lampu-lampu dan
lilin-lilin, Sinterklas, rusa santa, pohon natal, daun suci mistletoe, potongan
yule. Tradisi ini tidak ada hubungannya dengan kelahiran Kristus, tetapi asal
mulanya berasal dari perayaan kafir kuno.

Kita tidak dapat menghindar dari kesimpulan bahwa
natal berasal dari kebiasaan agama kuno dan ditetapkan oleh Gereja Katholik
Roma untuk memudahkan transisi pertobatan kafir kepada Kekristenan. Hari ini,
hari natal dikontrol oleh komersialisme, dan perayaan asli dari kelahiran
Yahushua hari ini telah digantikan dengan tradisi Sinterklas.

4. Natal adalah institusi
Katholik Roma: alasan yang cukup untuk menolaknya.

Seperti asal mula ibadah hari Minggu, natal juga dilahirkan
oleh Gereja Katholik Roma.

“Perayaan-perayaan Roma tidak terhitung; tetapi lima
yang paling penting adalah: hari Natal, hari Lady, Hari Paskah, Hari Kelahiran
Santo Yohanes, dan Hari Asumsi. Masing-masing dan bahkan semuanya dapat
dibuktikan sebagai Babel.” (The Two Babylons, oleh Alexander Hyslop, hal. 91)

“ . . . di dalam Kekristenan. . . [gereja] tidak
perna didengar memiliki perayaan Natal sampai pada abad ke-tiga, dan sampai
abad ke-empat tidak ditemukan jumlah yang banyak yang merayakannya. Bagaimana,
kemudian Gereja Roma memastikan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal? Bagaimana,
dengan ini: lama sebelum abad ke-empat, dan lama sebelum
masa Kekristenan itu sendiri, perayaan ini telah dirayakan diantara orang-orang
kafir pada waktu yang tepat sama setiap tahun untuk menghormati kelahiran anak
dari ratu sorga Babel; dan itu mungkin untuk mendamaikan orang kafir dan
menambah jumlah nominal penganut Kristen perayaan yang sama diadopsi oleh
gereja Roma, dengan hanya memberikan nama Kristus. Kecenderungan ini adalah
awal pengembangan masuknya setengah kekafiran kedalam kekristenan. . . orang yang teguh berusaha untuk membendung,
tetapi terlepas dari semua usaha mereka, kekafiran terus masuk sampai . . .
[gereja], dengan pengecualian pada sedikit umat sisa, tenggelam ke dalam takhyul
kekafiran. Tidak ada keraguan sama sekali bahwa Natal adalah perayaan kafir.
Waktunya setiap tahun, dan perayaannya yang masih terus dilakukan, menjadi
bukti asal usulnya. Di Mesir, anak dari Isis, gelar bagi ratu sorga Mesir, lahir
tepat pada waktu itu, sekitar waktu titik balik matahari pada musim dingin.”
(Ibid, hal.93)

Oleh karena itu, mengambil bagian dalam perayaan
natal adalah bentuk lain dari pemberian penghormatan kepada Binatang di dalam
Wahyu, sesuatu yang sangat tidak disenangi oleh Bapa kita di Sorga. Umat-Nya
tidak boleh ditemukan mendukung institusi yang ditetapkan atau dipromosikan
oleh anti-Kristus.


Artikel Terkait: